
Di teras rumah telah ada Mansyur, ibu dan bapak juga Kak Nisa dan suaminya. Semua menunggu kehadiran Nizam yang membawa Laela kembali pulang. Berdiri saat mengenal motor milik Nizam yang tengah melaju mendekat.
Laela segera berlari, memilih menubruk kakak kandungnya yang juga turut memperlihatkan rupa khawatir.
" Ganti baju dulu, kamu pasti kedinginan!" Usapan lembut Ia rasakan di kepala, tubuhnya bahkan masih mengenakan mantel basah. Ibu yang turut mendekat, bahkan jauh lebih khawatir dibandingkan yang lain.
Mansyur mengangguk, menjauhkan diri demi memandang rupa adik kesayangannya. Terlalu dimanja oleh keluarga Laela bahkan merajuk meski telah berada di tengah keluarga suaminya.
" Ini dibuka dulu!" Mansyur setelah menarik resleting jas hujannya.
Laela hanya diam menerima semua perlakuan orang-orang yang kini telah mengelilinginya.
Malu sebenarnya, apalagi baru sebulan bergabung dengan keluarga ini. Tapi mau bagaimana lagi, sifat manja dan egoisnya masih berlaku.
" Ganti baju dulu ya!" Pinta ibu dengan lembutnya, Gadis itu masih menunduk enggan menampakan wajahnya.
" Boleh saya bicara dengan adik saya dulu!" Mansyur bisa menebak apa yang ada di pikiran adiknya.
" Ya udah kita pulang yuk! Udah malam juga kamu harus istirahat!" Itu suara suami dari Kak Nisa yang sambil mengelus pelan bahu milik sang istri.
Kak Nisa turut mengangguk, "Laela, Kakak pulang dulu ya? Kamu istirahat saja dulu, kalau ada apa-apa ngomong sama kakak, gak usah malu." Sang suami yang berada di samping masih tetap mengelus pundaknya. Mengisyaratkan jika wanita itu tak perlu khawatir lagi.
" Ya udah bicaranya di dalam aja!" Ibu mulai menggiring Mansyur agar membawa Laela masuk ke dalam rumah.
" Bapak juga masuk, Laela sudah ada kakaknya sama Nizam juga." iba juga saat melihat wajah lelah yang terpancar di wajah milik pria paruh baya itu.
"Zam, Aku mau bicara sama adikku dulu, boleh?" ucap Mansyur meski tak enak hati saat Nizam yang baru saja masuk turut bergabung pada mereka di ruang tamu.
Tak perlu menunggu lama Nizam akhirnya berdiri membiarkan Kedua saudara itu hanya berdua, tak lupa menyeret koper milik ke Laela untuk dibawa masuk ke kamar.
Kembali muncul dengan handuk yang ia ulurkan pada Laela. Justru Mansyur yang meraih dan meletakkan handuk di atas rambut basah adiknya. " Makasih!" Ucapnya kemudian sambil menganggukan kepala ke arah Nizam.
Hembusan kasar kini terdengar dari Mansyur yang masih setia membantu mengeringkan rambut adiknya dengan handuk. Kini tinggal mereka berdua duduk di ruang tamu.
"Kamu udah besar, eh bukan udah besar lagi tapi udah dewasa, udah nikah lagi!" Penekanan di kalimat terakhir.
__ADS_1
Laela menutup mata dengan sangat erat, jika pun ia membuka mata maka bola mata itu akan berputar Jengah mendengar ocehan kakaknya, "bacot amat!" Kata itu hanya mampu ia ucapkan dalam hati.
"Semua keluarga suamimu mengkhawatirkanmu tadi. Mertua perempuanmu bahkan sempat nangis tadi saking khawatirnya. Mertua laki-lakimu, tidak tenang berada di rumah, dari tadi mondar-mandir menanyakan kamu pada orang-orang yang dia jumpai."
Kalimatnya terhenti saat ibu datang dengan nampan yang berisi dua gelas teh jahe yang telah ditambahkan dengan madu dan jeruk nipis.
" Makasih Bu, Maaf merepotkan!" Mansyur rasanya sungkan, dirasa adiknya terlalu merepotkan keluarga ini.
" Nggak merepotkan kok, kan Laela sudah jadi menantu ibu. Laela minum teh mu, itu bagus untuk menghangatkan tubuh." Ibu kembali beranjak setelah mendapat angkutan kepala dari Laela.
" Lihatkan, mertuamu baik banget!"
Laela terus menunduk mendengarkan ocehan kakaknya. Seandainya mereka berada di rumah, dia akan lebih memilih masuk ke dalam kamar dan mengunci rapat, hingga tak akan ada yang mengganggunya hingga besok pagi.
"Kan kamu sendiri yang minta untuk dinikahkan dengan Nizam. Kamu yang buat cerita supaya Nizam menikahimu. Kamu sendiri yang memilih untuk tinggal di sini, kamu juga harusnya bisa bertanggung jawab dengan pernikahan yang kamu inginkan ini."
" Duh pakai ceramah lagi nggak tahu apa Mata udah ngantuk gini pegel capek tahu mau tidur."
Laela hanya bisa menggerutu dalam hati, menahan diri untuk tak bersuara. Kan nggak lucu juga baru sebulan tinggal di sini sikap sifat aslinya langsung kelihatan.
Bagaimana kalau Nizam yang tahu sifatnya sebenarnya, lebih malu pula nantinya dia.
" Ya udah sekarang maunya kamu gimana?" Percuma saja bicara panjang lebar, jika adiknya itu tak Mendengar dengan baik.
Laela masih menundukkan kepala enggan menjawab. Sebenarnya, Ia juga pusing untuk mengambil keputusan.
" Kamu mau pulang?"
Laela menanggukan kepala, mungkin memang itu yang ia inginkan saat ini, Ketenangan.
Berada di rumah sendiri, ia bisa mengurung diri dan berbuat sesukanya di dalam kamarnya.
" Lalu bagaimana dengan Nizam? Bagaimana jika kamu hamil?" Nada serendah mungkin, sedikit malu saat menanyakan itu, tapi tak bisa dipungkiri ini adalah salah satu yang ia takutkan. Bayangkan saat adiknya itu justru berpisah dengan suaminya dalam keadaan hamil besar.
Lalu siapa yang akan menanggung malu?
__ADS_1
Semua pastinya, keluarganya dan keluarga suami adiknya juga.
" Kami nggak pernah melakukan itu. Dia selalu menghindariku, Mungkin dia memang membenciku Kak." lirih Laela, bahkan semakin menundukkan kepala.
Lemas sekali ketika mengingat hal ini. Pria yang ia cintai nyatanya tak pernah memberikan perasaan padanya.
Kembali Mansyur menghembuskan nafas kerasnya. Sedikit ada rasa lega, namunpun sedikit sakit saat mendengar penjelasan adiknya ini.
Sejak pertama, Nizam telah menunjukkan perasaannya pada Laela. Pria itu mau menikahi Laela karena insiden yang dibuat-buat oleh adik binalnya ini.
Lalu sekarang siapa yang akan disalahkan dalam hal ini.
Ia tak mungkin langsung menyalahkan Nizam begitu saja, cinta tak bisa dipaksakan.
Mungkin Ia memang harus membawa pulang adiknya ini. Bagaimana caranya? Yang pasti ia harus menebalkan muka berbicara dengan keluarga suami Laela.
" Ya udah kita pulang, tapi aku mau kamu mau minta izin baik-baik pada keluarga suamimu! Bisa?"
Laela lagi tak menjawab. Bagaimana bisa Ia meminta izin pada keluarga suaminya setelah kejadian ini. Malu lah pasti?
" Kamu ambil barangmu, biar aku yang bicara sama mertua dan suamimu." Mansyur bisa membaca pikiran- adiknya ini. Adik manja yang kadang berbuat sesukanya, namun enggan untuk bertanggung jawab.
Laela mulai beranjak masuk ke kamar guna mengambil koper kesayangannya.
" Udah?" Saat ia berpapasan dengan Nizam yang telah mengganti bajunya yang basah tadi. Laela hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan itu.
" Ganti baju dulu! Kamu bisa sakit kalau pakai baju basah!"
Kini giliran Nizam yang keluar untuk berbicara dengan Mansyur. Hanya ingin meminta maaf, karena tak menjaga Laela dengan baik.
" Diminum Kak!" Nizam saat baru saja duduk di hadapan Mansyur.
" Iya makasih Zam. Maaf adikku merepotkanmu."
" Nggak pa-pa kok." Ucapnya sungkan. Mungkin Laela belum menceritakan yang sesungguhnya pada kakaknya ini.
__ADS_1
Nizam membulatkan mata penuh, saat Indra pendengarannya kembali mendengar roda-roda kecil yang terletak di bawah koper itu kembali berputar bergesekan dengan lantai.
"Loh kok?"