
Seluruh keluarga sedang mengurus kepindahan Laela. Semua merestui, bahkan kedua orang tuan kandungnya pun sama. Segala macam bekal berupa perabot rumah telah disiapkan. Mereka melepas Laela seperti melepas seorang putri mahkota.
Dengan di supuri oleh Kak Mansyur mobil perlahan meninggalkan kampung diiringi lambaian para penduduk. Bagi mereka Laela adalah orang yang terpandang karena telah berhasil lolos menjadi seorang pegawai negeri.
" Bu kita kapan bisa kembali lagi ke sini?" Izzar yang duduk diantara ibu dan neneknya,( ibu kandung dariLaela).
" Kita bisa tiap minggu pulang, Itupun kalau kamu tidak capek, karena Sabtu Minggu itu waktu istirahat."
" Beneran Bu? Kita bisa pulang tiap minggu kan?"
Laela tersenyum sambil tetap merangkul pundak sang anak. Putranya itu begitu kuat dan semangat mendampinginya.
Laela masih teringat saat Anisa memegang kedua pundak Izzar sambil berkata, " Kamu adalah putra ibumu, seorang pria yang harus berada di sisi ibumu sebelum ayahmu kembali."
" Kamu harus menjadi pelindung ibumu!"
Dan itu tercatat rapi dalam memori sang anak. Ia harus terus mendampingi ibu selama Ayah tak ada di antara mereka.
Harus ikut kemanapun sang Ibu pergi, meskipun hatinya berat karena harus berpisah dengan Ridwan.
"Di sana kamu akan menemukan teman baru."
Lanjut Nisa saat melepas kepergia mereka.
Mobil memasuki pekarang Sekolah Dasar calon tempat Laela mengabdi, menjadi salah satu team pengajar di sana, sekaligus calon sekolah anaknya, Izzar.
Mereka tiba saat mentari telah berada di bujur barat, suasana sekolah telah senggang. Mansyu memarkirkan mobil di tepi lapangan. Lapangan ini yang menjadi area tempat upacara atau apel pagi para penduduk sekolah, sekaligus menjadi arena bermain anak-anak ketika jam keluar main tiba.
Kak Mansyur keluar dari mobil lebih dulu. Kedua tangannya di rengganggka ke samping, demi menyegarkan otot-ototnya yang lumayan tegang. Bunyi kruk-kruk terdengar dari persendiannya.
Diikuti bapak yang tadi duduk di sampinnya saat mengemudi. Sama, pria paruh baya itu melakukan hal yang sama, merenggangkan otot-ototnya. Di susul oleh ibu dan Laela, meninggalkan Izzar yang masih tertidur di jok samping dengan pintu yang dibiarkan terbuka.
Mereka masih berdiri dengan gaya masing-masing, belum bermaksud mengeluarkan barang-barang Laela.
"Rumahnya di sebelah mana?" Ibu yang bertanya. Beliau belum pernah ke sini sebelumnya.
"Ada di belakang kelas sebelah sini." Tunjuk Mansyur pada sebuah bangunan di sebelah kanan.
__ADS_1
"Aman kan?" Ibu lagi. Biar bagaimanapun perasaan khawatir jika harus meninggalkan anak perempuannya di kampung orang tetap saja ada. Pandangannya berkeliling ke seluruh area persekolahan.
"InsyaAllah aman bu. Kan ada penjaga sekolahnya juga." Yang menjawab masih Mansyur.
"Iya tapi kan, penjaga sekolah itu cuma ngunci ruangan doang!"
"Laela gak sendirian kok tinggal di sini, masih ada guru-guru yang lain juga. Tenang aja kali bu!"
"Beneran La?" Kali ini matanya memandang Laela yang sama lelahnya.
"Iya bu, bentar kita jalan-jalan sekalian kenalan sama penghuni sini." Laela.
PLAK.
Tangan ibu melayang memukul bahu putrinya. "Kamu jangan ngomong penghuni kayak gitu, ibu bawaannya langsung serem."
"Lah, emang mau ngomong apa lagi. Belum apa-apa ibu udah serem duluan? Makanya kalau baru sampai di suatu tempat itu jangan lupa baca Bismillah!" Wanita itu meringis sambil mengusap bahunya, pukulan ibu yang tiba-tiba terang saja membuatnya kaget dan panas.
"Iya ibu tadi sudah salam kok!" Matanya memandang ke atas berkeliling.
"Lah, ucapin salamnya buat siapa?" Laela tersenyum sambil terus memandang ibunya.
"Maksudku bukan itu bu. Maksud Lela penjaga sekolah sama guru-guru yang tinggal di sini juga. pikiran ibu gimana sih?"
"Udah sampai bu?" Izzar beringsut duduk di tepi jok dekat pintu mobil. Melihat keluarganya yang telah berada di luar mobil, namun ia sendiri masih enggan untuk turun.
"Udah bangun?" Laela mendekat, mengulurkan kedua tangan pada bocah ini hendak menggendong namun Izzar menggeleng, justru menyandarkan kepalanya pada sandaran jok dengan tubuh yang miring.
Perasaannya masih belum pulih sepenuhnya. Lagian ia masih aman berada di dekat keluarganya.
"Bu Nur Laela?" Suara itu mampu membuat mereka terdiam sesaat. Memandang pada tubuh cungkring yang baru saja menghampiri mereka.
"Iya, saya pak." Laela mengulurkan tangan pada pria paruh baya yang diketahuinya sebagai penjaga sekolah.
"Pak Annas, selamaat datang kembali. Apa kabar pak?" Sapa pria itu beralih pada ayah Laela.
"Alhamdulillah pak, baik."
__ADS_1
Lalu beralih menyapa kak Mansyur dan ibu.
"Saya Rahmat, penjaga sekolah ini."
"Oh ini anaknya ya buh?"
Saat Pak Rahmat memandang Izzar yang masih bergelayut di atas mobil.
"Iya pak, ini anak saya. Rencananya mau sekolah di sini juga." Laela.
"Waaah, jadi gak pernah terlambat dong!"
Mereka akhirnya melangkahkan kai meninggalkan lapangan tempat mobil Kak Mansyur terparkir.
Berjalan menapaki lorong-lorong yang telah sepi ke belakang gedung kelas.
Sebuah rumah sederhana yang disiapkan untuk guru yang membutuhkan. Hanya ada beberapa rumah dalam kawasan sekolah ini saja.
Rumah yang hanya memiliki satu buah kamar tidur yang telah lengkap dengan ranjang dan kasurnya meski tak empuk, dapur yang sebagian telah di isi oleh kak mansyur.
Namun, ...?
"Bu, ngak ada tv-nya?" Izzar yang telah berhasil mengelilingi rumah hanya dalam waktu beberapa menit saja.
"Iya, besok kita beli." Itu suara ayah yang menenangkan cucunya dengan mengusap pelan pucak kepala sang cucu.
Dalam hati pria paruh baya itu menjerit pilu, kala mengingat anaknya harus tinggal di tempat sangat sederhana ini. Jika boleh ia menentang keinginan Laela untuk tinggal dan jauh dari keluarga seperti ini. Terlebih lagi tanpa suami.
Di sini ia ingin menangis sejadi-jadinya.
Saat kembali mengingat wanita itu adalah putri bungsunya yang dulu sangat-sangatlah manja dan penuh dengan masalah sekolah. Kini wanita itu berdiri sambil menggandeng seorang anak tanpa pria yang harusnya ikut berdiri memegang tangan putrinya itu.
Namun keyakinan yang begitu besar dari sang putri yang masih meyakini jika pria yang bergelar sebagai menantunya itu akan kembali dan menagih hasil usaha putrinya yang begitu sangat memuaskan karena telah berhasil lulus sebagai Pegawai Negeri, tak mampu lagi ia bantah.
Dengan berat hati melepaskan tangan sang putri untuk berjalan sendiri meski tanpa pendamping hidup.
Di akhir hari, mereka akhirnya mereka tertidur dengan sangat pulasnya. Rasa lelah setelah perjalanan ditambah dengan membereskan rumah sederhana itu menggiring mata untuk tertutup dengan begitu rapat.
__ADS_1
Laela, Izzar dan ibunya menempati kamar sementara kedua pria lainnya tertidur hanya dengan beralaskan karpet di ruang tamu.