
Libur akhir semester telah tiba. Waktunya bagi para murid-murid melemaskan otak setelah berfoya-foya dengan soal ujian.
Laela memilih berlibur kembali pulang ke kampung bersama ke dua anaknya. Hari yang selalu dinantikan bagi ketiga orang itu. Rasanya tak ada tempat yang paling nyaman selain kembali pada keluarga.
Terlebih kampung halaman yang mereka anggap sebagai surga alam. Kebun sayur dan stroberi, kandang ayam, sungai yang mengalirkan air yang begitu sejuk membuat kerinduan mereka serasa meledak-ledak tak sabar untuk sampai.
Laela mengetuk pintu rumahnya, tepatnya rumah orang tua Nizam yang kini semakin sunyi setelah kepergian bapak. Hanya dihuni oleh ibu yang baru saja keluar kala mengetahui rumahnya kedatangan tamu.
Wanita tua itu tersenyum saat melihat kedua cucunya telah terkapar di atas sofa, kelelahan setelah menikmati perjalanan selama empat jam.
" Zar!"
Teriakan itu bersamaan dengan satu sosok anak remaja yang baru saja masuk dan bergabung dengan mereka.
"Main yuk!" Ajaknya, tapi tangannya justru menggeledah tas Izzar. Biasanya ada saja yang dibawakan sepupunya ini untuknya, penasaran.
Dan sebuah binder berwarna merah baru saja ia keluarkan dari sana. Entah mengapa, firasatnya mengatakan ini untuknya, terlebih saat Izzar hanya melirik dan tak menghalangi tangannya untuk membuka. Masih kosong, semakin yakin jika ini untuknya hingga ia berani meletakkannya di samping tubuhnya.
"Makasih!" UCapnya dengan tangan yang menunjukkan binder pada Izzar. Anggukan kepala saja, lelah sebenarnya tapi ia ingin mengikuti ajakan sepupunya ini.
" Jangan dibiasakan memeriksa barang orang lain, meski itu Izzar atau Sofiah!" Itu nenek yang menyela, membuat mereka terdiam seketika.
" Mainnya nanti dulu, orangnya juga baru sampe!" Lanjut nenek, kala dua remaja itu terlihat hendak beranjak.
Masakan enak telah ia siapkan untuk ketiga orang ini. Rasa bahagia tak pernah berkurang saat menyambut kedatangan keluarga putranya ini. "Istirahat sebentar baru makan!"
"Makan di rumahku saja Zar! Ibuku udah buat lele goreng, katanya spesial buat kamu. Ck, iri aku!" Ridwan, menghempas punggunnya di sandaran sofa.
Teringat kala ibunya baru saja mendengar kabar dari Tante Laela yang akan pulang setelah penerimaan rapor, ibunya langsung memesan ikan lele pada Pak Badrul.
Dan tadi pagi, ia yang masih ingin melanjutkan tidur dipaksa terbangun demi mengambil pesanan khusus ibunya itu. Coba seandainya ibunya setiap hari masak enak, pasti ia akan makan banyak tanpa harus dipanggil-panggil terlebih dahulu.
" Kamu saja yang makan di sini, lelenya juga bawa sini saja!" Perintah nenek dianggaki oleh Laela.
__ADS_1
Sampai sekarang, Ia tak pernah kehilangan kasih sayang dari seluruh keluarga suaminya ini. Meski suaminya tak tentu rimbanya di mana bahkan setelah 7 tahun berlalu.
Hingga akhirnya, meja makan di dalam rumah Ibu kembali penuh. Lele goreng yang katanya spesial untuk Izzar setelah Ridwan bawa dari rumahnya.
Sofiah menjadi pusat kasih sayang untuk nenek dan tantenya. Hanya dengan mengatakan menu yang ingin ia nikmati, maka makanan itu telah berpindah segera ke piringnya.
🍬🍬🍬
Pagi yang sejuk menyambut mata terbuka, jelas sangat beda suasana kota dengan suasana di pegunungan. Bukan lagi sejuk, tapi dingin. Meski begitu para penduduk tetap terbangun meninggalkan kasur masing-masing, mungkin telah biasa dengan cuaca dingin seperti ini.
pukul 10.00 pagi, rumah itu kembali lenggang. Para bocah memilih untuk menjelajahi kampung, menyambangi kebun, kandang ayam, dan sungai yang katanya tempat untuk membersihkan diri sebagai destinasi terakhir mereka.
Nenek kembali bergelut di depan kompor, menyiapkan santapan untuk cucu-cucunya yang pasti akan kelaparan setibanyak di rumah.
Sementara Laela berada di halaman, tengah menjemur baju. Wanita itu menoleh sebentar, kala melihat sebuah mobil baru saja menepi di depan pagar rumahnya. Sedikit acuh, ia ingin menyelesaikan pekerjaannya dengan segera lalu membantu sang mertua di dalam.
Namun derap langkah yang memasuki halaman rumahnya membuatnya tak bisa terlalu ia abaikan.
Matanya membulat seketika, rasa terkejut tak bisa ia sembunyikan saat pandangannya menatap udah sosok yang begitu ia kenali berjalan mendekat.
Meskipun begitu, Laela masih membuka kedua tangannya bersiap untuk menangkap gadis kecil itu.
" Assalamualaikum Bu, apa kabar?"
Laela menyapa dengan sopan, dengan tubuh Medina yang telah berada di atas gendongannya.
Sebenarnya bukan kabar yang ini ingin Ia tanyakan, tapi mengapa kedua orang ini bisa berada di rumahnya? Sedikit sungkan, takut jika kalimat tanyanya justru menyinggung perasaan, yang jelas sekarang ya harus menyambut tamunya terlebih dahulu.
Oma tersenyum, berjalan dengan gayanya yang elegan mendekati Laela yang juga turut melangkahkan kaki mendekat.
" Dina ikut liburan dengan sepupunya di kampung." Jawaban oma sedikit melenceng.
Padahal ia sendiri yang menghasut Meidina agar memilih ke kampung ini sebagai tujuan liburannya.
__ADS_1
Beberapa kali bertemu dan berbincang ringan dengan Laela sewaktu menjemput Meidina pulang sekolah, rupanya oma tengah mencari tahu semuanya tentang bu guru kesayangan cucunya itu.
Semangat oma begitu berkibar, kala mendengar Laela ternyata berasal dari kampung yang sama dengan mendiang suaminya.
Hingga oma yang mendengar jika Laela adalah janda dari seorang Imam kampung sebelah, membuat semangat wanita tua itu semakin menggebu saja.
" Laela wanita baik-baik dari keluarga baik-baik juga. Belum lagi mendapatkan suami seorang imam. Wanita itu pasti mendidik semua anaknya dengan sangat baik."
"Mari masuk dulu bu!" Laela segera beranjak setelah menyalami tangan Oma, masih dengan Meidina di atas rengkuhannya.
" Dina turun dulu, bu gurunya kok digituin sih?" Oma, padahal dalam hati ia ingin sekali lebih mendekatkan cucunya ini dengan sang ibu guru.
Entah apa yang ada dipikiran oma saat ini. Tapi rasanya, tak rela hati jika sosok Laela lepas dari genggamannya. Rasanya sulit sekali mencari seperti Laela saat ini.
Janda dengan dua anak, tak masalah baginya. Toh wanita itu juga memiliki penghasilan dari hasil keringatnya sendiri.
Berpikir ia tak mungkin selamanya akan berada di samping sang cucu, sadar diri dengan umurnya kini yang terus saja membawa tubuhnya semakin rapuh. Yang ia inginkan hanya kebahagiaan cucunya saja.
" Maaf bu, rumah kami memang hanya seperti ini." Sedikit membungkuk kala mengucapkan itu di depan pintu, terus menggiring tamunya hingga tiba di ruang tamu.
" Kok ngomong gitu sih bu guru?" Wajah oma dibuat sedikit cemberut, menandakan ia tak suka mendengar ucapan Laela yang terlalu merendahkan diri.
" Rumah suami saya juga hampir seperti ini, cuma sekarang ditinggali sama ipar dan keluarganya." Lanjut oma, demi mengimbangi kehidupan Laela, agar wanita itu merasa tak terlalu jauh dengan dirinya.
" Sofiahnya gak ada di rumah, mau nungguin sampai di pulang?" Setelah membalas ucapan oma dengan anggukan kepala yang disertai senyuman, Laela kini beralih pada gadis kecil yang masih berada dalam pangkuannya.
" Memangnya ke mana bu guru? Kalo kak Izzar?"
Laela meringis, ia tak tahu hendak menjawab apa. Jujur iapun tak tahu di mana gerangan anaknya saat ini. Yang jelas masih di kamping ini, dengan keamanan yang bisa ia percaya.
" Lagi main."
" Kok gak nungguin aku dulu bu guru?" Tanyanya lagi dengan polos. Sejak semalam ia dan oma telah membicarakan kedatangan mereka ke rumah bu gurunya ini. Dalam pikirannya, bu gurunya pun telah tahu tentang ini.
__ADS_1
" Ya udah, kita tungguin aja mereka aja yah. Bentar lagi pulang kok." Padahal tak ada jaminan tentang itu. Terlalu banyak tempat yang bisa ketiga bocah itu.
"Panggilin dong bu!" Rengeknya.