Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Di Rumah Orang


__ADS_3

mengalahkan segala semangat yang ada, oma kini bahkan telah mendapatkan informasi tentangLaela. dan sesuatu yang justru sangat mendukung Laila untuk menjadi calon menantunya.


"Armand, Kamu tahu nggak?"


"Enggak!"


"Isssh, Mama belum selesai ngomong kamu jawab aja!" kesel sih memang, saat dirinya hendak berbicara serius, sang anak justru menanggapinya dengan bercanda. bahkan sekarang pria itu terkekeh meski ibunya menepuk pundaknya.


" ternyata, Laela itu berasal dari kampung papamu loh." ucapnya semangat. Bahkan kedua tangan terkepal di depan dada dengan wajah berbinar penuh.


Namun berbeda reaksi dengan Armand, pria itu terdiam kala mendengarkan perkataan ibunya. Ternyata ibunya benar-benar memiliki atendi yang begitu tinggi pada bu guru itu.


" Terus Meidina sekarang di mana ma?"


"Nah, inikan kita udah mau pergi jemput tuh anak." Santai sekali ibunya ini berkata, seolah tanpa beban telah meninggalkan bocah kecil kesayangannya itu pada orang lain selama dua hari.


Sejak semalam ia bertanya tentang keberadaan anaknya itu, namun ibunya ini terus mengatakan jika anaknya kini tengah bermain di rumah temannya dan tak mau pulang. Masa iya tak mau pulang?


Andaikan ia ada di sana, di tempat yang sama dengan keberadaan Meidina, ia pasti akan mengusahakan segalanya agar anaknya itu mau ikut pulang dengannya, bahkan jika memang harus sedikit memaksa.


Pikirannya sebelumnya, jika Meidina di tinggalkan di rumah bu guru itu yang katanya juga berasal dari kampung yang sama dengan kakeknya. Namun tidak bertemu kala ia datang guna menjemput ibunya ini. Lalu di mana putrinya itu dititipkan oleh ibunya?


Rasa khawatirnya berbanding terbalik dengan rasa bahagia yang terpancar di wajah ibunya, hingga mau tak mau ia pun seolah dipaksa untuk tenang saat berjauhan dengan buah hatinya.


" Kiri depan pak!" Oma sambil menepuk pundaknya.


" Aku bukan sopir angkot mah!" Jawabnya dengan cemberut. Entah di mana ibunya ini belajar melucu, rasanya ia ada yang sedikit berbeda dengan orang tua satu ini.

__ADS_1


Rumah sederhana seperti rumah-rumah penduduk lainnya. Tanpa sepatah kata oma telah meninggalkan dirinya sendiri. Wanita itu sepertinya sedikit tergesa dengan langkahnya yang memasuki pekarangan rumah itu.


Di belakang Armand yang menenteng sebuah goddie bag berisikan buah tangan yang telah ibunya amanatkan. Berjalan mendekat hingga ikut berdiri di belakang ibunya. Hanya menangkap semua dengan indera penglihatannya, saat ibunya mengetuk pintu dengan wajah yang sumringah. Terlihat begitu terbiasa dengan tempat ini. Ah mungkin kerabat yang tak pernah ia kunjungi.


Namun matanya membulat sempurna kala menatap seorang wanita yang berjalan menghampiri mereka. Wanita itupun sama terkejutnya dengan dirinya.


Hah, ia merasa telah dibohongi oleh ibunya sendiri. Entah mengapa oma harus menyembunyikan keberadaan Meidina di rumah bu guru ini. Apa salahnya sih, berkata jujur?


Sama dengan oma, wajah wanita itu nampak tersenyum hangat menyambut mempersilahkan tamunya untuk masuk, hanya sebentar kemudian kembali masuk setelah meminta ijin untuk membuat suguhan. Laela kembali ke luar dengan nampan di tangan.


Sejenak Armand menatap penampilan ibu guru ini. Dengan menggunakan daster kebanggaan ibu-ibu, dan kain  jilbab panjang yang membuat seluruh tubuhnya tertutup kembali. Dipikirannya, wanita ini sama seperti ibu-ibu yang lain, menggunakan penutup kepala hanya ketika hendak ke luar rumah saja. Nyatanya wanita itu tetap menutupi rambutnya meski hanya berada di dalam rumah. Apakah hanya karena ada dirinya kini?


Tapi sepertinya wanita itu enggan menatapnya, hanya saat mempersilahkannya menyantap suguhannya saja. Lalu ia bisa apa? Hanya mengangguk saja rasanya sudah setimpal.


" Anak-anak lagi main, maaf yah bu!" Ujar Laela, meski sedikit sungkan namun tetap berupaya tersenyum.


"Kok minta maaf sih, kan memang sengaja kirim Dina ke sini. Biarkan dia berekplorasi, bukan hanya tinggal di rumah. Iya kan Mand?" Oma, tangan yang tadinya menepuk punggung tangan bu guru itu, kini mencubit pahanya pelan. Sakit maaah, keluhnya hanya bisa di tahan di tenggorokan.


Matanya menoleh ke luar, mencari keberadaan sang putri yang tak ia ketahui keberadaannya. Kembali menghempas punggungnya ke sandaran sofa, kiranya ia seolah tak dianggap di sini. Membiarkan kedua wanita itu berbicara, terlihat sangat akrab.


Armand kembali menegakkan tubuh kala seorang wanita paruh baya muncul dari dalam rumah, menyapa mereka.


Hingga berselang beberapa waktu lamanya, suara beberapa bocah nampak tertangkap indera pendengarannya. Yang jelas, salah satu dari bocah itu ada putrinya juga.


Armand telah bangkit dari duduknya, tak sabar menanti anak semata wayangnya. Terperangah saat melihat tubuh mungil putrinya kini berada di atas gendongan anak lelaki itu. Namun bibirnya langsung tersenyum kala pandangannya bertubrukan dengan pandangan putrinya.


Meidina menepuk pundak bocah itu, meminta diturunkan.

__ADS_1


"Ayaaaah!" Suara teriakan itu seirama dengan langkah kaki mungilnya yang berlari langsung menuju pada sang ayah yang ia rindukan.


" Dari mana sih?" Tanya pria itu penasaran.


" Dari petik stroberi." Jawaban dengan nada yang terdengar begitu riangnya. " Banyak bangetttt!" TAngan mungilnya bahkan terkepal dengan sedikit goncangan.


" Oh ya?" Armand memilih membawa sang anak yang berada di gendongannya masuk ke rumah itu. Di belakang ada beberapa anak yang terlihat menenteng keranjang kecil hasil jerih payah mereka.


" Zar, bentar sore jadi kan?" Suara di belakannya masih sempat ia dengarkan.


" Iya, panggil aja kalo udah mau pergi!" Izzar memilih duduk di teras dari pada ikut bergabung dengan yang lainnya.


" Yah, aku juga mau ikut lagi bentar sore!" Pinta Meidina saat mereka baru saja duduk di ruang tamu.


" Gak bisa sayang, kita kan udah mau pulang ke rumah!" Armand mencoba menjawab dengan lembutnya. Sudah beberapa hari ini ia hanya ditinggal sendiri di rumah, dan rasanya benar-benar tak enak, kesepian sekali.


" Tapi kan masuk sekolahnya masih lama yah, boleh yah!" Gadis kecil itu mencoba membujuk, merengek pada sang ayah.


" Ayah sendirian di rumah sayang, apa gak kasihan?"


" Kan ada oma?" Meidina.


Oma dan Armand sempat berpandangan sebelum oma memilih lebih dulu memutuskan tatapan mereka.  Pria itu hendak meminta pertolongan pada ibunya, tapi ternyata diacuhkan.


" Kamu juga ikut pulang dong sayang. Gak baik terlalu lama menumpang di rumah orang! Engga enak, kalau merepotkan orang terus!" Jujur ia tak terlalu pandai membujuk. Kalimat yang keluar benar datang dari otaknya yang polos.


" Tapi kata oma, boleh kok! Aku juga bisa minta bu Laela tinggal di rumah, tapi setelah ayah sama bu guru kawin dulu!"

__ADS_1


Deg!


Pernyataan macam apa yang keluar dari bibir bocah cilik ini?


__ADS_2