Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Tak Mampu Melawan Takdir


__ADS_3

"Sentuh aku kak!"


Ia tak bisa dengan mudahnya mengubah panggilan setelah sekian lamanya, mungkin butuh sedikit waktu saja Sandrina bisa ikut memanggil Nizam seperti wanita itu.


"AKu mengerti kamu adalah seorang pria dewasa." Setidaknya ia tahu kebutuhan Nizam saat ini, dan akan ia usahakan memberikannya pada Nizam. "Lepaskan rindumu padaku!"


" Sandrina."


Hanya menyebut namanya saja, setelah itu Nizam kembali diam dan menunduk.


"AKu tak ingin merusak masa depanmu!" Pria itu tahu apa yang diinginkan gadis ini. Dan dirinya sendiripun adalah pria normal yang dulu pernah mendapat kehangatan nan halal dari seorang wanita.


Kini ia berada di posisi ini meski dengan orang yang berbeda. Namun ia tak tega jika harus mengorbankan gadis polos yang tak berdosa ini demi egonya. Seorang gadis yang harusnya sejak awal ia lindungi dan selamatkan.


"Masa depan apa yang kakak maksud?" Entah mengapa jawaban Nizam yang sederhana seperti itu tak sesuai dengan keinginan Sandrina. Bahkan langsung mematik emosi dalam diri. Gadis itu bahkan berkata dengan begitu lantangnya tepat di hadapan Nizam.


" Masa depan di sini? Masa depan yang bahkan untuk anak sekolah saja harus menempuh jarak berkilo-kilo?"


" Masa depan aku menunggu suamiku yang pulang dari laut untuk makanku?"


" Masa depan yang bahkan aku berjalan sendiri saja tak bisa?"


" Masa depan,..."


Sandrina tak lagi mampu menyelesaikan kata-katanya ketika Nizam menariknya masuk dalam dekapan pria itu.


"Maaf!" Ucap Nizam dengan begitu lirihnya.

__ADS_1


"Maafkan aku yang membuatmu seperti ini!"


"Maafkan aku tak bisa menyelamatkanmu dulu!"


Ia bisa menebak betapa putus asanya gadis itu, dan semua itu karena ketidak mampuannya melawan takdir.


Indra pendengaran Sandrina berada tepat di titik jantung berada, hingga wanita itu bisa mendengar dengan jelas degug jantung Nizam yang berpacu tak karuan.


Ini adalah pelukan pertama mereka.


tentang bagaimana Nizam mendekap tubuhnya saat menggendongnya tak perlu dibahas.


Tentang bagaimana Ia yang ditemukan dengan warga pesisir saat berpelukan dengan Nizam pun juga tak termasuk.


Pelukan hangat yang mampu membuat Sandrina betah berada di sana. Debaran jantung Nizam bagai alunan lagu Syahdu yang terdengar merdi di telinganya.


Kali ini ia harus memantapkan hati untuk tetap bersama Nizam, sekarang dan selanjutnya.


Gadis itu mulai mengangkat wajahnya, mereka sama-sama terdiam saat pandangan mata terkunci menikmati paras satu sama lain.


Hingga Sandrina dengan seluruh kesadarannya yang ada memberanikan diri untuk merapatkan bibir.


Ini bukanlah ciuman pertama gadis itu, bahkan mungkin tak terhitung dengan jari. Maaf, Ia tidak sepolos itu.


Ia telah beberapa kali menjalin kisah dengan seorang pria yang sama-sama lajang. Dan menikmati hubungan yang begitu indah dengan segala seluk-beluknya. Namun Gadis itu masih tahu aturan, Ia masih bisa menjaga diri meski mantannya seabreg.


Mendapatkan tindakan yang nekat dan terlatih dari seorang gadis, Nizam hanya bisa mengerjapkan matanya dengan tubuh yang menegang. Dalam otaknya kini tengah berpikir, Apakah wanita yang telah Ia nikahi beberapa hari yang lalu ini masih suci?

__ADS_1


Ia tak bisa untuk tak berpikir sejauh itu. Mungkin Nizam jauh lebih polos dibandingkan dengan gadis itu.


Nizam hanya mempunyai Laela, seorang gadis yang ia sentuh selama hidupnya. Gadis yang sedikit barbar Namun mampu menjaga kesuciannya hingga diberikan dengan halal pada dirinya.


Dan kini ia dipertemukan dengan seorang gadis lain yang tak sepolos Laela.


Mungkin ia harus menerima dengan lapang dada segala kekurangan yang dimiliki oleh Sandrina. Sebab dirinya lah yang kini bertanggung jawab secara penuh pada gadis ini.


" Aku istrimu Kak!"


Dan kini Nizam menganggukkan kepala sambil berusaha tersenyum, meski hatinya masih meragu.


Nizam hanya bisa terperangah saat Sandrina membawa tangannya menyentuh tubuh gadis itu. Rasa bimbang pun semakin menjalar begitu luasnya. Haruskah ia lanjutkannya?


Meski begitu, yakinlah jika rasa penasaran turut hadir kala tangan yang tak lagi lembut itu kini telah menyeka tubuhnya. Tapi bukankah Sandrina benar, mereka adalah sepasang suami istri.


Nizam yang memiliki kewajiban dan tanggung jawab pada gadis ini, dan gadis ini yang juga memiliki kewajiban terhadapnya, iyalah memberikan nafkah batin.


Sejenak Nizam menyampingkan segala pemikiran buruknya. Tentang bagaimana masa lalu istrinya ini sebelum mereka dipertemukan. Yang jelas sekarang adalah mereka saling membutuhkan.


Dan ini akan menjadi malam pertama mereka dalam menjalin kisah kasih dalam ikatan suci.


Larut dalam lautan kasih yang melenakan, dengan sentuhan-sentuhan indah saling berbalas satu sama lain.


Hingga NIzam kembali harus dibuat terkesima kala mendapatkan gadis suci untuk yang kedua kalinya.


Oh Tuhan, maafkan aku yang telah berburuk sangka pada istriku sendiri.

__ADS_1


Sesal yang hanya bisa ia kumandangkan dalam hati. Dan maafkan dirinya yang telah menitipkan sedikit demi sedikit cinta pada sang gadis.


__ADS_2