Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Hujan Belumlah Usai


__ADS_3

" Pak tolong Pak!"


Seorang gadis berlari menuju ke arah Nizam yang berdiri bersama beberapa temannya.


Teriakannya mampu menyita perhatian para pasukan orange yang hampir bersamaan menoleh ke arahnya.


Seseorang di antara mereka tengah menggulung tali, ada yang  merapikan barang mereka setelah digunakan.


Hujan deras yang berlangsung sejak semalam menyebabkan banjir di beberapa tempat.


Perkampungan warga, jalanan, menjadikan Nizam beserta para anggota lain kini harus bekerja keras dalam guyuran hujan yang sepertinya belum berniat berhenti.


Bahkan di atas sana, awan kelabu masih terlihat sangat kelam, sepertinya masih belum menyerah menyiram bumi ini untuk beberapa waktu ke depan.


Dengan jas hujan yang juga berwarna orange menempel di tubuh mereka, membantu beberapa warga yang mungkin terjebak dalam banjir.


Perahu karet telah disiapkan, rompi pelampung telah terpasang di tubuh masing-masing. Selalu siap untuk bekerja.


" Pak tolong Pak! Cepetan."


Gadis itu kembali berteriak, sesampainya di dekat rombongan gadis itu sedikit melompat-lompat.


Panik dengan tangan yang menunjuk ke arah jalanan kampung yang kini tiba-tiba telah berubah menjadi sungai.


Di sana, seorang gadis tengah berusaha menyeret tubuh seorang wanita tua sambil berenang ke tepian.


Gadis itu terlihat hebat, lincah tubuhnya saat bergerak di air dengan membawa beban terlihat sangat ringan.


Bisa ditebak jika gadis itu terlatih, mungkin hobinya berenang membantunya dalam keadaan seperti ini.


Nizam bersama satu temannya mulai bergegas berlari menyamakan posisi dengan sang gadis.

__ADS_1


Tubuh keduanya mulai berada di tepian dengan tangan wanita tua itu mulai terulur. Sementara Sandrina, gadis penolong masih berusaha terus mendorong tubuh wanita tadi agar mampu diraih oleh kedua orang berseragam orange di atas sana.


Tangan Nizam dan Fadli sama-sama terulur, siapa yang mampu meraih tangan wanita itu agar segera terbebas dan keluar dari air.


Fadli segera meraih tangan wanita itu, perlahan menarik, dan lalu mengangkat hingga mampu mencapai dataran. Ringkih, basah kuyub dan tubuh yang terlihat lelah itu hanya mampu berdiam diri, mengikuti ke mana tubuhnya di bawa.


Sementara Nizam kini mencoba membantu sang gadis yang ia ketahui adalah seorang mahasiswa yang sedang magang di dekat desanya.


"Sandrina, sini Sand!" Gadis yang tadi berteriak meminta tolong turut memanggil temannya dengan tangan yang sama terulur.


Baru saja bersentuhan ujung jari mereka, gadis tadi justru kembali menjauh. Tanganpun seolah semakin sulit untuk di jangkau.


Hingga Nizam melemparkan tali agar bisa diraih oleh sang gadis.


Sayang, gadis yang bernama Sandrina itu justru semakin menajuh saja. Kedua tangannya terulur dan menari di atas seolah tengah mencari perhatian.


Tubuhnya justru semakin menjauh dan tak mampu menggapai tali yang telah di ulurkan oleh Nizam.


"Sandrinaaaa."


"Pak tolong teman saya Pak!"


Rania yang berdiri di dekat Nizam kembali teriak, dengan tangan yang beberapa kali mengguncang lengan Nizam.


Semakin panik saat tubuh temannya seolah menjauh dari dataran. Gemas sendiri saat ia kira Nizam tak melakukan apa-apa demi menolong temannya.


Nizam segera melompat, sebab dirinya lah yang kini. Jaraknya tak terlalu jauh, namun saat melihat gadis itu terlihat kesusahan hanya sekedar meraih tali yang telah dekat itu ia bisa menebak jika tubuh itu telah lelah.


Fadli turut berdiri, berjongkok dengan tangan yang memegang tali yang tadi dibentangkan oleh Nizam.


Tali digoyang-goyangkan agar dapat dengan mudah di raih oleh Nizam. Siap menarik jika Nizam telah memengang tali itu.

__ADS_1


Namun pemandangan di dari arah berlawanan terlihat sangat menakutkan.


"Zam, cepat zam!"


Di bawah sana Nizam telah mampu meraih tubuh itu, memeluk dengan satu tangan dan tangan yang satu bergerak agar tubuh tetap bergerak menuju ke arah tanah. Benar, gadis itu telah lelah setelah mengeluarkan tenaga cukup banyak di dalam air sambil membawa beban.


Meski begitu, mata gadis itu masih terbuka, satu tanganpun kadang masih bergerak demi membantu pergerakan Nizam. Sementara tangan yang satu memeluk leher NIzam agar tubuh mereka tak terpisah.


"Zam bandang ZAm. Cepat!" Fadli berteriak, tubuhnya setengah berdiri, tak sabar agar tubuh Nizam segera ia raih.


Baru saja meraih tali mampu di raih tangan Nizam, air besar benar-benar datang menyapu tempat mereka hingga ikut pada arus.


"Zam, Nizammmm." Di tepian Fadli terus berlari sambil berteriak.


"Sand, Sandrinaaaaaa..." Teriakan sang gadis di sampingnya pun turut terdengar memanggil nama kawannya.


Namun air terus mengalir, melebar hingga sampai di permukaan kaki mereke.


Fadli segera meraih tangan gadis itu agar segera menjauh dari sana. Sementara tangan satunya meraih perlengkapan apa saja yang bisa ia selamtkan.


Kejadian itu terlalu cepat, memaksa mereka mengeluarkan tenaga lebih banyak demi menyelamatkan diri masing-masing. Memacu jantung yang tak berdetak tak karuan, sementara hati selalu memanjatkan doa semoga semua bisa dilalui dengan segera dan baik-baik saja.


Bandang telah usai, hanya sebentar. Namun kekuatan dan derasnya mampu menyapu banyak hal di sana.


Fadli kembali ke sana saat di rasa air telah sedikit surut. Di belakangnya ada gadis yang sedari tadi mengukutinya, menanyakan tentang keadaan temannya yang ia pun tak tahu bagaimana.


"Tenang saja, Nizam tangguh kok," Ucapnya menenangkan, meski segala pemikiran negatif tentang kedua insan manusia tadi tak bisa pergi dari otaknya. "Jangan lupa berdoa, semoga mereka baik-baik saja!"


Ia hanya berharap ada keajaban, Nizam muncul dan berjalan di depan sana meski tergopoh.


Ia  mulai berjalan menyelusuri tepian daratan bersama teman-temannya. Tatapan ditajamkan, berusaha mencari sesuatu yang bisa ia jadikan harapan.

__ADS_1


__ADS_2