Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Buku Diary


__ADS_3

Laela telah mengajukan surat pengunduran diri untuk berhenti mengajar di pesantren. Kini ia memiliki waktu yang sangat luang sebelum pergi ke luar kota demi menjalankan tugas mengajarnya di sebuah Sekolah Dasar Negeri.


Memilih membersihkan kamar, terutama barang-barang milik sang suami. Sekedar ingin melepas rindu dengan sang pria pemilik diri. Tangannya menjangkau lebih dalam dari sebelum-sebelumnya.


Sebuah buku diary meski hanya dari binder biasa.


Bibirnya tersenyum, dalam hati bertanya apakah pria juga membutuhkan barang seperti ini?


Dengan hati yang menghangat kala menggerakkan tangan membuka lembar pertama.


Mungkin ia harus kembali belajar setelah ini. Ia tak mampu membaca tulisan itu,huruf hijayyah tanpa harakat.


Sungguh indah dan rapi. Ia akui tulisan Nizam jauh lebih indah dari pada tulisannya yang hanya sekedar itu.


Tangan terus bergerak, hingga beberapa lembaran baru bisa sedikit lega saat mampu membaca rangkaian kata karya tangan sang suami.


Bibirnya terus saja tersenyum sambil mengingat wajah Nizam.


Berapa lama ia masih setia duduk bersila di lantai sambil memangku buku itu. Hingga tida di halaman paling belakang. Sebuah tulisan indah mirip kaligrafi yang biasa terdapat di dinding-dinding masjid.


MaasyaAllah, hingga saat ini pun ia masih saja selalu kagum dengan suaminya itu. Betapa beruntungnya ia bisa mendapatkan pria seperti Nizam, meskipun dengan cara, hihihi.


Ia masih berfokus pada lembar terakhir itu. Tulisannya terlihat berbeda dari yang lain, meski sama hampir sama huruf Hijayyah tanpa harakat. Namun ukurannya jauh lebih besar, karena hampir memenuhi lembaran itu dan ditulis secara landscape.


Perlahan mulai membaca sesuai pengetahuannya yang minim.


"Nun-sa-ya-ba." Ucapnya dengan hati-hati. Kemudian kening berkerut apa artinya ini? Hati seolah hendak  memaksakan diri untuk dapat membaca rangkaian huruf itu. Penasaran.


Matanya memandang lekat-lekat pada tulisan itu, hingga akhirnya, ...


"Nusaibah!" Masih dengan perlahan. Benarkah?


Entah mengapa hatinya kini merasa pedih sendiri, padahal iapun belum tentu benar dalam membaca.


Tidak!


Tidak mungkin kan?


Nama wanita itu bersarang di buku ini?


Ia membolak-balikkan buku itu, berusaha mencari jejak tahun berapa tulisan-tulisan indah ini ada.


Kini ia hanya mampu menggigit bibir sambil memejamkan mata. Tak bisa dipungkiri ada sakit  yang terasa di dalam dadanya. Meski sebagian hati masih berusaha menguatkan dengan berkata buku ini sudah lama, mungkin buku sewaktu Nizam berada di pesantren dulu.


Pikirannya melayang pada sosok wanita cantik, anggun dengan kain lebar menutup seluruh tubuh kecuali wajahnya. Jika memang arti tulisan itu nama wanita itu, berarti


Apakah ada cinta untuk wanita itu?

__ADS_1


Ingatannya kembali melambung tinggi, kembali pada beberapa tahun silam sebelum mereka menikah.


Betapa kuatnya pria itu menolak untuk menikahinya, bahkan hanya memandangnya saja Nizam terlihat enggan.


Kini ia mencoba membandingkan dirinya dengan wanita itu.


Tutur kata lembut, kepala yang sering menunduk, lalu apa lagi?


Sementara dirinya?


berbicara semaunya, sedikit bebas, dan menutup aurat jika ada Nizam.


Lalu tentang Nizam yang selalu menyuruhnya menutup aurat jika hendak keluar rumah. Jauh berbeda dengan wanita yang pernah mereka hampiri itu. Baru pertama bertemu, wanita itu telah menutup tubuhnya secara sempurna.


Tentang Nizam yang menginginkannya menjadi seorang guru.


Apakah seperti itu wanita idaman suaminya?


"Abang!" Ucapnya lirih sambil meringis.


Namun rasa sakit itu masih belum mau beranjak dari dalam sana. Kini ia menangungg rasa lain terhadap suaminya selain kata rindu, ada cemburu.


...****************...


Laela melajukan motornya, kali ini desa nelayan menjadi tujuannya, entah apa tujuannya hanya ia sendiri yang tahu.


"Abang, aku datang lagi, menjemput abang." Belum apa-apa ia serasa sulit menyambung kata-katanya.


"Kapan abang pulang?"


Matanya terus menatap lurus ke depan sana, meski bias cahaya mentari menyilaukan. Ia hanya bisa menyipirkan mata dan meletakkan tangan pada keningnya.


Harusnya ia membawa kaca mata hitam tadi.


Kembali menghembuskan napas secara keras. Ia tak tahu kenapa harus mendatangi tempat-tempat seperti ini.


"Abang," Kepala kemudian menunduk sambil mengatur susunan kata-katanya.


"Aku menemukan buku diary abang di bawah kolom ranjang." Ia kembali menurunkan pandangan sebentar, lalu kembali mengangkat.


"Apa itu Nusaibah? Kakaknya Mashitah?"


Diam sejenak, mengatur napas yang tiba-tiba terasa sesak. Sekuat apa ia mencoba meyakinkan diri jika buku itu telah berumur, namun tetap saja dadanya belum lega juga.


Pikirannya kembali melayang pada wanita itu.


Nusaibah, nama yang sederhana seperti pemiliknya. Sangat sederhana, lembut bertutur kata dan perilaku.

__ADS_1


Kini menjabat sebagai salah satu petinggi yayasan, hebat bukan?


"Aku ingin istriku jadi guru."


Kalimat Nizam saat mereka berdua berbeda dalam menentukan jurusan yang akan diambil Laela ketika mendaftar kuliah.


Guru, seperti Nusaibah.


"Bang, aku sudah jadi guru seperti yang kamu mau. Aku lulus bang."


"Aku gak kos, ada rumah kosong di sekolah, aku diijinkan tinggal di sana bang. Jadi kita gak usah cari kontrakan lagi." Ia kembali menundukkan kepala sambil menghembuskan napas kasar setelah itu.


Hanya sebentar, lalu kembali mengangkat kepala memandangi laut lepas yang nampak tak berujung. Berharap akan ada keajaiban, suaminya muncul pada rombongan yang baru saja menepikan perahu di sana.


"Bang, aku janji, kalau abang pulang, aku gak akan lepas jilbab lagi kalau keluar rumah, biar cuma di rumah kak Nisa."


"Aku janji bang!" Kini iatak lagi mampu menahan titik air yang turun membasahi pipi. Biarlah, anggap saja ini sebagai pelepas rindu pada seseorang yang kini tak berwujud.


"Bang."


"Apa seperti Kak Nus, wanita idaman kakak?"


Yakinlah kali ini dadanya benar-benar sesak. Ingin sekali ia mendapatkan jawaban dari pertanyaan ini.


Jika memang benar wanita yang diidamkan suaminya seperti wanita itu, maka ia akan berusaha merubah diri menjadi seperti yang diinginkan pria itu.


Lihatlah betapa besar cintanya pada pria yang bernama Nizam itu.


Betapa tulusnya hati dan perasaan pada pria yang kini ia tak tahu rimbanya di mana.


Ini bukanlah pengorbanannya yang pertama kali demi mendapatkan Nizam. Sejak awal ia bahkan telah mengorbankan cita-citanya demi mengikuti keingan suaminya.


"Bang, pulang bang!"


"Aku janji gak akan ngeyel lagi sama abang."


"Aku janji, akan mengikuti semua yang abang mau. Abang mau aku jadi cewek yang tenang kan? Gak pecicilan?


Iya aku janji. Asal abang juga mau janji untuk cepat pulang bang."


Ia masih tetap menjadikan sosok Nusaibah sebagai tolak ukurnya.


Wanita yang hanya mendekap kedua tangan di depan dada saat bertemu dengan pria yang bukan muhrimnya.


Namun terlihat begitu hangat ketika berbicara dengan sesama wanita.


Rasa rindu ini terlalu mendalam, kini dilengkapi rasa cemburu yang datang setelah menemukan buku itu.

__ADS_1


__ADS_2