
" Mah?" Armand tak lagi bisa untuk menahan diri untuk tak mencari pertolongan. Rasa khawatir mengenai keadaan Sang Putri begitu menekan dadanya.
Tangannya mulai menekan handle pintu, meski belum ada perintah untuk masuk.
Sedari tadi mengetuk pintu, namun tak ada respon dari sang pemilik kamar, padahal cahaya terang dari lampu kamar dalam mampu terlihat keluar.
" Kenapa?" Ibunya menyambut di dalam, baru saja melepas mukena lalu berdiri menghadap Sang putra.
" Dina demam mah?"
" Kok bisa?"
Oma mulai melangkahkan kaki setelah meletakkan mukenanya begitu saja di atas sajadah, tak sempat merapikan terlebih dahulu sebab khawatir. Sedikit cepat dari biasanya menuju ke kamar Sang putra. dirabanya kening Meidina demi mengecek suhu tubuh, benar saja memang sedikit hangat.
" Sudah minum obat?"
" Belum! Baru dikompres kayak gitu."
" Di bawah ada plester turun panas kalau pakai yang kayak ginian biasa jatuh. Sekalian suruh Bibi siapin bubur buat Dina."
Armand mengangguk, dengan segera berlalu demi mengikuti perintah sang ibu.
Satu hal yang ia syukuri, semalam ia menemani Sang Putri tertidur hingga demam itu bisa segera ia ketahui.
Dan terpaksa, hari ini gadis kecil manis dan Ceriwis itu harus merelakan harinya hanya berdiam diri di rumah saja. Izin pun telah dikantongi, meski hanya melalui udara.
Namun hingga besok hari, gadis kecil itu belum bisa mengikuti pelajaran seperti biasanya. Demam yang menyerang tubuhnya datang dan pergi.
Terkadang suhu tubuhnya akan meningkat drastis, lalu kembali normal untuk beberapa saat lamanya. Dan gadis kecil itu akan bermain seperti biasanya, mungkin hanya efek penurun panas saja.
Bukan hanya itu, semangat gadis kecil itu turut menurun,
Merasa terlalu khawatir, terkaan mereka jika ini bukan demam biasa, hingga menuntun mereka membawa Meidina segera ke rumah sakit.
Itu pun atas intruksi dokter yang baru saja memeriksa gadis kecil itu.
Lemas, seolah tak lagi bertenaga.
Paras pucat menghiasi wajah imut itu.
__ADS_1
Dan kini, tubuh Meidina telah terbaring lemas di atas brangkar UGD.
" Kalau boleh minta dipindahin ke kamar perawatan saja!" Pinta Arman pada salah satu petugas di ruangan itu.
Pria itu sedikit tak nyaman, berada di lingkungan yang terlalu banyak orang tanpa saling mengenal, tak bebas rasanya. Belum lagi anaknya yang sesekali mengeluh kesakitan, bahkan pernah menangis. Membuat pria itu merasa sungkan pada penduduk lain di ruang itu.
" Sabar ya pak, kita observasi dulu!"
Ia hanya bisa menghembuskan napas kasarnya.
" Kata dokter apa?" Oma yang berdiri di samping ranjang pasien tengah menggenggam tangan, sementara satu tangannya dipergunakan untuk kepala sang cucu.
Meidina setelah Menutup Mata, mungkin menikmati mimpinya lebih baik dibandingkan menikmati rasa nyeri yang terasa di sebagian tubuhnya.
" Kalau dari gejalanya, katanya demam berdarah. Tapi Mau Tes lab dulu, biar lebih yakin!"
Tak bisa dipungkiri, rasa khawatir benar-benar sama menggerogot di dalam hati sepasang ibu dan anak itu.
" Kan sudah kubilang, jangan biasakan Dina mampir di tempat lain yang kebersihannya tak bisa dipastikan."
" Dia tidak singgah di tempat lain, cuma di rumah bu gurunya." Wajah wanita itu telah ditekuk, pembicaraan mereka terlalu transparan.
" Kamu kok ngomong kayak gitu sih? Mereka bukan orang yang jorok. Anak-anak bu guru saja udah pintar cuci piring sendiri!" Marah namun berusaha menahan, oma hanya beberapa kali melirik ke samping kiri kanan, berharap tak ada yang mendengarkan perdebatan mereka.
Armand Sudah beberapa kali menampakkan Jika ia tak suka dengan pergaulan anaknya dengan keluarga Bu gurunya itu.
Beberapa saat lamanya menunggu, Meidina kini telah berada dalam ruang perawatan, tangannya pun telah di terpasang infus.
" Oma, sakit Oma!" Keluhnya sesekali. Hanya dengan memandang lengannya saja, membuat gadis kecil itu meringis. Terbayang benda apa yang telah menembus di kulit hingga ke dagingnya.
"Iya sabar yah sayang!" Oma bahkan tak bisa meski hanya sekedar membayangkan.
" Oma aku nggak sekolah?" Tanyanya lagi. Setelah dua hari dia tak masuk sekolah, banyak juga yang menjadi beban pikirannya.
Dicari oleh guru dan teman-temannya? Belum lagi tentang PR yang mungkin tidak ya ketahui.
Ah, jangan lupa teman bermainnya, Sofiah dan Disty, dan,...
Kak Izzarnya.
__ADS_1
Hah, ada rindu yang tak bisa ia prediksi pada orang-orang itu.
" Nggak apa-apa sayang, oma sudah telepon Bu guru kok!"
" Bu guru bilang apa Oma?" Berharap sekali jika bu gurunya itu khawatir dengan keadaannya.
" Bu guru bilang, banyak istirahat, banyak makan sama makan buahnya juga, terus Bu guru bilang apa lagi ya? Oma lupa, hehehe."
" Katanya, jangan lupa minum obat juga biar cepat sembuh, biar bisa cepat masuk sekolah!"
Padahal tadi bu guru hanya menjawab dengan Iya dan terima kasih atas penyampaiannya tentang keadaan Meidina di rumah sakit. Semua yang diucapkan Oma hanya sebagai pelengkap dan penambah semangat untuk cucunya.
" Oma, bu guru mau nggak datang jengukin aku?" Mungkin ini bukan sebuah pertanyaan, namun sebuah pengharapan kecil milik seorang gadis kecil.
"Iyah pasti mau!" Maaf, lagi-lagi Oma hanya berbohong, demi menenangkan sang cucu.
" Kapan Oma?"
" Tunggu ya, bu guru kan juga harus mengajar dulu!"
Namun hingga sore, bahkan saat malam telah mengintip ibu guru cantiknya itu tak kunjung datang menampakan diri. Padahal Ia sangat berharap bu guru Laela datang bersama Sofiah dan,... Izzar.
"Oma, boleh tidak Aku menelpon bu guru suruh datang ke sini?" Pertanyaan itu terlontar kala hari menjelang siang.
Sekarang ia telah tahu, jika kemarin Oma berbohong padanya, berkata jika Laela akan datang setelah selesai mengajar, heh nyatanya tidak sama sekali.
"Bentar yah, nanti jam istirahat."
Namun hingga jam yang telah ditentukan telepon tak kunjung terhubung, entah siapa yang lupa atau memang sengaja lupa. Hingga kembali oma harus meluncurkan kalimat rayuan maut untuk cucu tercintanya ini.
" Oma bohong kan? Oma gak mau nelpon bu guru? Ngak mau nyuruh bu guru datang ke sini?"
Dirasanya omanya terlalu berbelat belit dan mengulur waktu. Padahal ia hanya ingin berbicara dengan bu gurunya.
Ayahnya tak ada di sana, jadi ia sedikit lebih bebas rasanya membicarakan tentang Bu gurunya itu. Dari kemarahannya ayahnya yang kemarin, ia tak berani menyinggung tentang teman-teman sekolahnya. Namun perasaan ingin diperhatikan masihlah tetap besar.
Sekarang ia sakit, berharap banyak ayahnya akan mengabulkan semua keinginnannya meski berjumpa dengan bu gurunya.
...****************...
__ADS_1