Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Terbiasa Berbagi


__ADS_3

Libur semester masih ada beberapa hari lagi, namun liburan keluarga kecil ini justru harus berakhir lebih cepat dari sebelumnya. Saat Oma Ranti datang menjemput, mereka semua tak bisa berbuat apa-apa kecuali mengikuti kemauan Oma mereka itu. Hendak protes pun tak berani, kala melihat ibu mereka menggelengkan kepalanya pelan.


Biasanya Laela, Izzar dan Sofiah akan pulang sehari sebelum jadwal masuk sekolah dihari pertama. Satu hari digunakan untuk beristirahat sebelum besok kembali masuk sekolah. Tapi ini? Hah, semuanya berubah seiring status mereka yang turut berubah.


" Lain kali bisa pulang lagi!" Bujuk Laela pada anak-anaknya.


" Beneran Bu?" Yang menjawab adalah Meidina. Gadis kecil itu sasanya belum puas untuk berada di sini.


Banyak yang Ia pikirkan saat hendak meninggalkan tempat ini. Besok pagi siapa yang akan memetik buah strawberry yang telah memerah? Siapa yang akan mengumpulkan telur-telur di kandang ayam Pak Budi? Lalu air segar yang mengalir di sungai, Ah rasanya liburan ini terlalu singkat baginya.


Jika biasanya Laela dan kedua anaknya akan pulang diantar oleh Mansyur, kini pria itu hanya bisa melambaikan tangan di teras rumah Ibu Aminah melepaskan kepergian mereka.


" Nanti kita beli mobil yang lebih besar lagi ya!" Oma Ranti kala mobil telah melaju meninggalkan gapura kampung.


Di samping pak Sopir, ditempati oleh Laela. Sementara di jok samping, oma diapit oleh kedua bidadari, dan di baris paling belakang, dikuasai oleh Izzar seorang diri.


" Iya oma, kasihan kak Izzar sempit duduk di belakang." Kini mereka semua menoleh ke arah belakang, tempat bocah pria itu duduk sendirian. Di belakangnya telah menumpuk barang-barang yang memang biasa bawa pulang untuk bekal di sana.


Mereka tak pernah membawa banyak baju ketika pulang kampung, cukup dengan pakaian seadanya saja sebab masih meninggalkan pakaian lain di rumah nenek. Tapi saat kembali nanti memang biasanya jok mobil Mansyur bagian belakang akan terisi penuh. Salah satunya adalah telur pemberian pak Budi yang ada beberapa rak.


Meidina memilih mengangkat diri membuat oma menjerit kecil, " Mau ke mana?" Tanyanya.


"Ke belakang, temani kak Izzar."


Mau tak mau, tangan wanita paruh baya itu bergerak membantu tubuh itu untuk berpindah ke belakang. " Stop dulu pak Anto!" Perintahnya pada sang sopir.


Di belakang, Izzar pun mengulurkan tangan demi menerima tubuh Meidina. " Kenapa pindah dek, sempit!"


" Mau temani kakak, bentar aku juga tidur jadi gak akan terasa sempitnya." Meidina.


Izzar meringis, justru itu akan berdampak padanya yang akan mendapatkan ruang yang lebih sedikit lagi.


Beberapa saat berlalu, mobil kembali bergerak maju setelah drama itu selesai.


Selang beberapa lama, suara bocah di belakangpun telah mulai hilang di pendengaran, mungkin telah memasuki alam mimpi dengan kedua kakinya berada di atas paha Izzar.

__ADS_1


Oma menoleh ke sisi kirinya, di mana Sofiah yang duduk dengan kepala yang mulia terkulai menandakan bocah itu  telah bersiap memasuki alam mimpi. " Sofiah, sini!" Menepuk pahanya, menginginkan Sofiah merebahkan kepala di sana. Gadis kecil itu justru menggeleng pelan.


Oma Ranti mengangguk mengerti, mungkin malu atau sungkan padanya. Padahal cucunya saja telah berbuat apa saja keluarga kecil ini, tapi kenapa saat ia ingin membalas dengan kenyamanan mereka terlihat sungkan?


" Laela, kita tukaran aja. Sofiah udah ngantuk tapi gak mau sandaran sama oma." Ia mengerti jika gadis kecil itu pasti merasa lebih leluasa saat bersama dengan ibunya. Dan benar saja, baru saja Laela duduk, Sofiah langsung merebahkan kepalanya di paha ibunya.


Hingga akhirnya, perjalan mereka kali ini jauh lebih lama dari pada sebelumnya sebab beberapa kali harus berhenti hanya untuk mencari kenyamanan pada anak-anak mereka.


" Kita langsung pulang ke rumah?" Oma saat mobil telah memasuki kawasan kota. Beliau jelas tengah berbicara dengan Laela, sebab semua bocah masih berada di alam mimpi masing-masing.


Yang dimaksud rumah di sini adalah rumahnya. Bukankah Laela kini telah menjadi menantunya, jelas saja harus ia bawa ikut serta.


" Tapi, ..."


Jujur ia ragu untuk ikut bersama keluarga itu. Ia tak ingin menjadi beban bersama dengan kedua anaknya. Tapi menolakpun enggan, ia sadar posisinya sebagai menantu Oma. Kenapa baru sekarang ia menyesal dengan pernikahan ini? Mengapa ia tak mencoba berbicara secara tegas sebelumnya?


" Pakaian sekolah kami masih ada di rumah dinas oma."


" Kan masih ada beberapa hari lagi sebelum masuk sekolah? Kita bisa ambil barang-barangmu besok atau lusa."


Mobilpun telah berhenti dengan sempurna di depan rumah Oma Ranti. Ini adalah pertama kali Laela, Izzar dan Sofiah menginjakkan kaki mereka di rumah ini.


Kagum, jelas saja tak bisa tertutupi oleh pandangan mereka. Rumah dua tingkat yang luas, dengan pekarangan yang cukup untuk mereka bermain kejar-kejaran.


Sedikit terheran saat melihar Meidina kenapa mau berteman dengan mereka yang rasanya tak sebanding dengan mereka. APalagi dengan oma yang  menyeret mereka untuk masuk ke dalam kehidupan yang mewah ini.


" Ayo turun!" Oma yang berada di pintu mobil, mengulurkan tangannya menyambut mereka.


" Nanti istirahat di kamar lagi, oma sudah siapkan kamar untuk kalian!" Tak lupa tersenyum demi menenangkan mereka yang terlihat sedikit terkejut itu.


Entah karena masih terkesan dengan rumah besar itu, atau kamar yang telah siap itu.


" Bi, kamarnya udah siap kan?"Lah kok bertanya lagi, padahal tadi oma sendiri yang bilang udah nyiapin kamar.


Hah, oma saja baru pulang hari ini. Kemarin ikut berlibur, meski hanya bersama oma TIni.

__ADS_1


"Sudah bu, sudah semuanya." Tangan terulur membantu membawa barang majikannya.


" Armand mana?"


" Belum pulang bu, biasanya juga pak Armand pulang malam selama beberapa hari ini."


Oma hanya menganggukkan kepala, sudah biasa memang. Makanya ia ingin menambah anggota keluarga baru, agar tak terlalu kesepian ketika tinggal hanya berdua dengan Meidina.


" AYo!" Perintahnya pada mereka yang baru saja memasuki rumah.


Langkah pertama membawa bocah pria itu menuju ke kamar yang telah di sediakan katanya.


Kamar dengan satu ranjang singgel dirasanya cukup untuk Izzar menempati seorang diri.


Sementara kamar sebelah, tepatnya kamar Meidina telah direnovasi sedemikian rupa hingga bisa menampung dua bocah perempuan dengan ranjang yang bertingkat. Untuk urusan siapa yang tidur di tingat atas dan bawah biarlah mereka yang mengaturnya.


"Ini benar kamarku oma?" Meidina yang tak mengira kamarnya akan menjadi seperti ini.


Oma pun mengangguk menjawab pertanyaan itu, " Kamu suka!"


" SUka bangettttt!" Tangannya menggandeng tangan Sofiah masuk mengelilingi kamar mereka.


HIngga tiba giliran Laela yang di bawa oma ke kamar Armand. Namun tampaknya wanita itu masih sungkan untuk memasuki kamar yang jauh lebih luas itu.


" Memangnya gak pa-pa oma?" Tanyanya memastikan.


" Kamu kan istrinya Armand jelas saja gak pa-pa. Udah masuk sana, istrirahat saja dulu. Oma juga mau istrirahat di kamar, pegal." Tangannya mendorong bahu Laela untuk masuk lalu segera menutup pintu itu.


Namun saat lenggang dan dirasa orang-orang telah beristirahat karena kelelahan, Laela memilih keluar kamar dan mendatangi kamar Izzar.


" Zar, ibu numpang tidur di sini yah!" Ucapnya sambil mendekati tubuh sang putra yang telah terbaring.


" Kenapa bu?"


" Gak pa-pa,boleh yah?" Tanyanya sedikit memelas.

__ADS_1


Dan itu membuat Izzar menggeser tubuhnya, memberikan sedikit ruang untuk sang ibu meski harus berhimpitan. Tak apa, memang telah biasa mereka berbagi seperti ini.


__ADS_2