Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Bagaimana Dengan hatiku?


__ADS_3

"Laela wanita yang baik."


Kening Armand berkerut saat mendengar penuturan ibunya. Tak ada angin tak ada hujan ibunya langsung saja membahas tentang wanita itu.


Padahal sudah jelas-jelas Ia yang selalu melarang anaknya agar jangan terlalu dekat dengan wanita itu. Kini ia telah melunak, saat anaknya sakit dengan mengizinkan Laela dan anak-anaknya datang menjenguk Meidina.


Lalu ia harus melunak seperti apa lagi?


"Mand, denger Ibu nggak sih?" Rajutnya Oma saat tak mendapatkan tanggapan dari teman bicaranya.


" Iya Mah dengar kok. Memang guru harus baikkan. Terus kenapa kalau bu guru itu baik?"


" Kamunya nggak denger kemarin anakmu yang ingin tinggal dengan Laela? Nggak denger?" Oma mulai menyerang, dan mungkin ia butuh amunisi setelah ini.


" Namanya juga anak-anak, kalau ngambek ya begitu. Tapi coba saja, sehari nggak ketemu ayahnya pasti kelabakan sendiri dia?" Perkataan yang penuh dengan penuh kepercayaan diri. jelas saja, dia adalah ayahnya sementara bu guru itu hanyalah orang asing bagi anaknya.


Meski hatinya sedikit merisau, bagaimana jika wanita itu bisa mempengaruhi Meidina. Bagaimana jika anaknya lebih memilih bu guru itu dari pada dirinya?


Tidak. Tidak mungkin kan?


Hatinya kembali menguatkan diri.


" Dina mau Laela menjadi ibunya!" Oma berkata dengan begitu pelan, sangat pelan.


Tak bisa dipungkiri jika hati wanita itu ini sedang kalut. Bagaimana jika putranya marah dengan usul yang mendadaknya ini? Oma terus menunjukkan kepala, tak ingin menatap ke arah Arman. Sejujurnya ia tak siapĀ  jika harus menerima kemarahan putranya.


Bibirnya bahkan bergerak-gerak kecil, melantunkan doa demi menguatkan hatinya dan melindungi tubuhnya.


" Mama ngomong apa sih? Nggak jelas banget!" Tuh kan, marah. Untung saja hanya seperti itu, bukan marah-marah dengan berkata nada tinggi.


Puuuffft, ternyata sedikit lega rasanya, padahal Oma telah menyiapkan batinnya.

__ADS_1


Dan mendapat tanggapan seperti itu, rasanya ia wajib melanjutkan perjuangannya.


"Laela seorang janda, Dan Kamu duda. Apa salahnya jika kalian menikah?"


Armand membulatkan matanya dengan penuh. Bingung sendiri kenapa ibunya berkata seperti itu, padahal tak pernah sekalipun terpikirkan olehnya untuk menjadikan Laela sebagai istri dan juga Ibu sambung anaknya.


Mencarikan Ibu sambung untuk seorang anak yang kehilangan ibunya bukanlah sesuatu yang mudah. Terlalu banyak yang ia pikirkan.


Bagaimana jika, istrinya nanti hanya mencintainya saja dan tidak mau menerima anaknya? Terlalu banyak kasus yang sama hingga ia benar-benar harus memikirkan keadaan itu.


Bagaimana jika putrinya itu tertekan bersama ibu sambungnya, pasti akan mempengaruhi pertumbuhan dan masa depan anaknya.


Jika bertanya tentang dirinya sendiri, tak mau munafik, dia pun ingin menikah dan memiliki keluarga utuh dan bahagia seperti yang lainnya. Tapi untuk sendiri, masih bisa bertahan.


" Mah, Menikah bukanlah sesuatu hal yang mudah, apalagi menjadi Ibu sambung untuk Anakku."


" Apa Oma benar-enar yakin jika Laila adalah wanita yang baik dan tepat untuk menjadi Ibu sambungnya Medina?" Lanjutnya lagi.


Armand Hanya berdiam diri melihat betapa antusiasnya ibunya ini. " Tapi kami tak saling mencintai mah, kenal aja nggak?"


" Cinta bisa datang Seiring berjalannya waktu." Kalimat yang akan menjadi semboyan bagi mereka yang menjalani pernikahan tanpa cinta terlebih dahulu.


" Mama ada-ada saja!" Armand lebih memilih berlalu daripada menanggapi perkataan ibunya.


" Ini demi kebahagiaan anakmu." Cekal Ibu sebelum putranya itu benar-benar meninggalkannya.


" Mah Hati tak bisa dipaksakan, aku takut kami hanya akan saling menyakiti nantinya."


Oma menggelengkan kepalanya tak setuju dengan pernyataan Armand. Pernikahan pertama pria itu pun hampir sama, tanpa cinta dan hanya karena terlalu sering bersama saja hingga akhirnya memutuskan untuk menikah.


Tentang wanita, Ia begitu percaya dengan putranya ini, setia.

__ADS_1


Dan kini dengan Laela, Entah mengapa Oma memiliki keyakinan yang lebih besar lagi.


" Mencari istri jauh lebih mudah daripada mencari Ibu sambung untuk anakmu!"


Iya itu memang benar, tapi,...?


Arrrrgggg. sanggahan apa lagi yang akan ia berikan pada ibunya ini tentang Laela.


" Selagi kita mendapatkan wanita yang cocok untuk Medina Apa salahnya untukmu mencoba. kamu hanya butuh sedikit saja waktu untuk terbiasa hidup bersama Laela."


Entah keberanian apa yang miliki hingga benar-benar meyakini jika Laela cocok untuk anak dan cucunya.


"Mah, Laela tetap orang asing untuk kita. Kita bahkan tak tahu dia berasal dan dari keluarga mana? Bagaimana jika setelah menikah Laela pergi meninggalkan kami?"


Oma tersenyum. Entah mengapa ada binar yang terlihat dari belakang sang putra.


Apakah ini merupakan satu syarat dan kesempatan yang diberikan oleh Armand?


"Baiklah akan mama cari tahu dari mana dan keluarga Laela berasal."


Setelah mengatakan itu, Oma segera berbalik meninggalkan Armand yang terpaku di tempat. Semangat ibunya itu tak bisa disembunyikan.


Lalu apa setelah ini?


Bagaimana jika ternyata Laela berasal dari keluarga yang baik-baik di mata ibunya itu?


Apakah benar mereka akan berakhir dengan pernikahan?


Katanya, Semua demi kebahagiaan putri semata wayangku?


Lalu bagaimana dengan hatiku?

__ADS_1


APakah tak ada pertimbangan sendiri tentang diriku?


__ADS_2