Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Main Dulu


__ADS_3

" Kak aku ngantuk!"


Setelah tadi mendatangi omanya, kini Meidina kembali berjalan ke tempat duduknya semula. Di sana Izzar baru saja mengakhiri makan siangnya dengan meneguk air putih.


Pemuda itu mengangguk saja, menerima tubuh Meidina yang mendudukan diri di atas pangkuannya.


" Sayang, Kita pulang yuk!" Bingung sebenarnya ketika melihat pemandangan seperti itu.


Apa mungkin cucunya itu kekurangan kasih sayang, hingga menjadikan orang yang menurutnya asing sebagai tempat bersandar?


"Heeem, tapi Dina ngantuk Oma, Pengen bobok bentar." Hari telah siang, memang sewajarnya anak kecil itu memasuki kamar guna mengistirahatkan tubuh. Terlebih, perut yang terisi kenyang menjadikan hormon seratonin dalam tubuh meningkat hingga membawa kantuk yang luar biasa.


" Iya kita pulang dulu, Nanti bobo di rumah ya!"


Gadis kecil itu tak menjawab justru menyusupkan diri ke dalam pelukan Izzar. Tubuhnya sudah sangat lelah, kelopak matanya juga sudah terlalu berat hingga sulit ia buka.


" Buuuu,... " Panggilan manja yang Sofiah lontarkan menghentikan tangan Laela yang sedang membereskan bekas makan mereka.


Pandangan Kedua wanita itu kini mengarah pada Izzar yang tengah memangku tubuh Meidina yang sudah terkulai lemas. Jangan lupa pandangan Oma pun tertuju ke arah yang sama.


Sadar jika dirinya setengah diamati, Izzar hanya bisa nyengir dengan tangan yang terus bergerak berayun, menenangkan.


" Ya udah adek sini, nanti Ibu yang pangku!" Laela telah memposisikan diri duduk bersila, bersiap menerima tubuh Sang putri, dalam hati mencoba menebak perasaan sang putri yang mungkin dilanda rasa cemburu.


" Terus itu siapa yang bereskan?" Tanyanya pada sang gadis kecil, wajah tersenyum menggoda dengan pandangan melirik- lirik pada Sofiah lalu ke arah lantai yang masih berserakan dengan sisa makan mereka.


" Ya udah kita bereskan dulu yah, nanti banyak semutnya!" Jadilah kedua wanita itu membereskan sisa makanan mereka. Laela Kembali keluar dengan dua buah cangkir berisikan teh hangat yang akan ia suguhkan pada tamunya.

__ADS_1


" Maaf ya bu, sedikit rempong." Ucapnya sungkan pada sang tamu. Rasanya hari ini kehidupannya seperti telah dikuliti secara habis-habisan.


" Aduh kenapa repot-repot Bu, Padahal saya sudah mau pamit pulang." Oma segera mengulurkan tangan, demi membantu Laela meletakkan nampannya, meski semua hanya sebuah simbol semata, karena nampan itu telah sangat dekat dengan lantai.


" Saya yang harusnya minta maaf, karena datang di waktu yang tidak tepat. maaf juga karena cucu saya ikut merepotkan bu guru."


" Saya tidak repot sama sekali kok, Maaf hanya bisa menyuguhkan apa adanya pada cucu anda!"


Di sisi mereka,Izzar masih terduduk dengan tubuh bergoyang berirama ke kiri dan ke kanan sambil memangku Meidina yang telah terlelap.


" Bawa ke kamar aja, Zar!"


" Ah nggak usah Bu, Saya mau pulang saja, kami terlalu merepotkan bu guru." Kedua tangannya telah terulur mencoba mengambil alih tubuh Sang cucu. Benar rasanya benar-benar malu kala melihat tingkah anaknya yang seolah menjadikan mereka pengasuh.


Aduuuu, sebutan apa yang cocok untuk mereka saat ini? Ingat dia dan cucunya hanyalah sebagai tamu di sini.


" Biar Izzar saja yang menggendong sampai ke mobilnya ibu." Pinta Laela yang juga mengulurkan tangannya, menahan pergerakan sang tamu.


"Aduuuuh, lagi-lagi kami hanya bisa merepotkan kalian. Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya." otaknya kini semakin mantap untuk memberikan hadiah pada keluarga kecil ini, tapi apa ya? Pikirnya lagi.


...****************...


" Sofia aku ke rumahmu lagi ya!" Bel jam istirahat baru saja berbunyi, Meidina kini tengah meminta izin pada teman sekelasnya itu.


"Heemmm." Hanya dijawab seperlunya oleh Sofiah.


Ingin protes jika Kehadiranmu teman kelasnya itu mengganggu seharian aktivitasnya. Terlebih jika, oma dari temannya itu ikut bertamu karena sedang menjemputnya. Harinya terasa sedikit amburadur. Tidur siangnya bahkan harus ditunda karena menunggu sang ibu yang menerima tamu dulu.

__ADS_1


Belum lagi jika Ia mengingat sang kakak yang pasti kelelahan karena harus memangku tubuh temannya itu. Namun kembali mengingat pesan ibunya, yang harus memperlakukan tamunya dengan baik.


" Kasihan Medina kalau harus menunggu sendirian, takut nanti diculik." Kata ibunya lagi.


" Aku bawa mainan!" Bisikan di telinganya membuat Sofiah menoleh ke arah Meidina yang kini menatapnya dengan berbinar sambil menganggukkan kepalanya mantap. Seolah gadis kecil itu tengah meyakinkannya.


Meidina bahkan menarik tangannya ke belakang, memperlihatkan isi tasnya pada Sofiah. Setelah itu gerakan tangannya menuutup cepat sebab takut ketahuan oleh teman-temannya yang lain. Dan mungkin saja akan ketahuan juga oleh guru mereka.


Sofiah ikut mengangguk kala Meidina menganggukan kepala sambil menatapnya.


"Tante Ninis, aku gak ikut pulang yah?" Gadis ini tengah memberikan informasi atau sedang meminta izin, entahlah.


"Loh kok, mau ke mana? Nanti dicariin sama Oma loh. Bibi harus bilang apa?" Ninis yang datang menjemputnya dan Disty.


" Bilang aja ke rumah bu guru, Oma udah tahu kok!" ucapnya lagi. Gadis itu bahkan telah bersiap melangkahkan kaki meninggalkan kelas bersama Sofiah.


" Beneran Oma sudah tahu?" Ninis bahkan harus mengejarnya terlebih dahulu, bahkan tangan harus dicekal terlebih dahulu karena Meidina terlalu bersemangat untuk cepat berlalu dari sana.


Ia belum memiliki cita-cita untuk dipecat oleh keluarga Meidina. Menjadi pengasuh dari Meidina tak terlalu sulit, ada anaknya juga yang akan menjadi teman bermain bagi gadis kecil itu.


"Iya beneran. Kemarin juga yang jemput di rumah bu guru kan oma." Wajah gadis kecil itu sudah memberenggut saja.


"Tapi beneran udah minta ijin ke oma kan?" Tanyanya lagi memastikan. Sangat perlu demi menghindari amukan oma.


"Iya beneran biiiii." Penekanan agar Bi Ninis mempercayainya dan tak lagi menahan langkahnya. Di sampingnya, Sofiah turut menghentikan langkah menunggu Meidina pamit terlebih dahulu.


" Aku juga ikut main juga ya mah?" Disty turut menawarkan diri. Bermain bersama sepertinya seru.

__ADS_1


"Nanti yah sayang!" Keadaan neneknya di rumah sakit, membuat Ninis memiliki waktu yang sedikit kurang untuk bergerak.


"Nanti kita main di rumahku aja yah! Sama Disty juga. Aku punya banyak boneka." Ucap Meidina membanggakan, berharap dengan ini, Sofiah dan Izzar akan berminat mendatangi rumahnya.


__ADS_2