
Pintu kamar terbuka pelan, sangat pelan agar suara tak mengganggu mau di kamar yang tengah terlelap.
Laela masuk ke kamar dengan mengendap-ngendap. Di ranjang sana Nizam tertidur sangat lelap setelah jatah siaga semalam.
Naik ke ranjang pun dengan sangat hati-hati, berupaya untuk tak menimbulkan bunyi atau gerak yang terlalu. Turut berbaring di sisi dan menghadap Nizam. Waktu yang tepat untuk menikmati pandangan pada sang suami sepuasnya.
Memperhatikan bentuk wajah Nizam dengan seksama dan sedalam-dalamnya. Alis tebal dan kulit sawo matang, menambah kesan tangguh yang pernah diceritakan ayahnya dulu. Tangan terulur memencet hidung mancung Itu dengan telunjuk tangannya. Kembali menarik tangan, takut jika tekanan yang ia lakukan dirasai oleh pria itu.
Meletakkan kedua tangan di bawah pipi agar tak lagi nakal. Biar mata saja yang menikmati keindahan ini, senyum tak luntur sedari tadi.
Dikiranya, Nizam tertidur dengan rusuh atau mendengkur seperti gaya tidur ayahnya, nyatanya tidak. Bagaimana bisa seorang pria tidur dengan tenang seperti Nizam?
"Tampan sekali!" Gumamnya.
Benar mengagumi wajah tampan itu semenjak bertemu. Ah maksudnya, saat melihat dengan jelas wajah Nizam saat mengenakan baju kokonya.
Wajah yang membuatnya melakukan hal bodoh agar dapat memiliki pria tampan ini.
Turut terlelap, meski hari belum siang benar. Dan beruntungnya ia, karena terbangun sebelum Nizam membuka mata. Meski ragu, namun satu kecupan sayang berhasil ia daratkan di pipi.
Meyakinkan dalam hati, jika semua yang ia lakukan ini tidaklah salah sebab mereka adalah sepasang suami istri. beranjak dengan gerakan perlahan. takut jika kelakuannya kepergok.
Esoknya, Laela kembali masuk setelah meyakini Nizam telah nyenyak. Lagi, masuk dan naik ke ranjang dengan perlahan. Kali ini bukan ingin mencuri kecupan, jika boleh lebih dari itu. Meraih tangan Nizam, membawa hanya dalam pelukan.
Eeeemmmm, sisa-sisa parfum masih melekat di tubuh tangguh itu. Membuat Laela betah memeluk meski hanya lengan. Dan misi berhasil, bangun sebelum Nizam menyadari keberadaan dirinya.
Ck, gini amat ya mau dimanja sama suami sendiri. Masa harus sembunyi-sembunyi sih.
Gerutunya dalam hati. Namun apa dinanya ia tak terlalu berani untuk menyentuh pria itu terang-terangan.
Kembali mencari peruntungan keesokan harinya. Terus ingin menaikkan level kontak fisik antara mereka. Kali ini Laela mencoba masuk dalam dekapan sang suami. Menjadikan lengan Nizam sebagai dan tubuh sebagai guling.
Aroma itu lebih nyata jika sedekat ini. Membawa Laela, masuk dalam mimpi terindah dan begitu dalam. Tenggelam ke dalam awan putih, lembut dan empuk. Terlalu Indah untuk dilalui begitu saja.
Saking indahnya, hingga lupa harus terbangun sebelum Nizam menyadari keberadaan dirinya.
Lumayan lama menanggung kepala Laela membuat lengan sedikit pegal dan sakit.
"Kamu ngapain?" Suara Nizam, mengagetkan.
Menghentak, agar Laela menyingkir dari lengannya.
Laela sedikit gelagapan, terbangun dan duduk dengan kepala menoleh ke kanan kiri. Mengembalikan kesadaran yang direnggut paksa karena teriakan. Namun sembari berpikir, alasan apa yang harus ia gunakan.
"Pantes aja pegel?" Nizam sambil memijat lengan kiri, pandangan kesal dilimpahkan pada Laela.
Seingatnya, kemarin juga merasakan pegal yang sama, mungkin karena Laela pula.
"Ma-maaf, aku ketiduran Kak." Menggaruk kepala sambil meringis. Malu campur takut ya rasakan kini.
"Kan ada bantal. Nggak usah pakai lenganku juga kali. Heh." Memilih beranjak, setengah nyawa yang masih terbang melayang dipaksa kembali ke dalam raga.
Rasakan kantuk pun hilang seketika.
__ADS_1
Ck, galak banget sih. Padahal cuma tidur doang.
...****************...
"Kak." Laila menyapa, disodorkannya sebuah amplop putih pada Nizam.
"Kenapa?" Bukannya meraih Nizam justru bertanya.
"Ini!" Kembali menyodorkan amplop putih itu. Nizam menyambut, meski dengan raut bingungnya.
"Ini apa?" Masih bertanya juga.
" Undangan acara kelulusan untuk wali siswa!" Laela berucap.
Mungkin tak ada yang bisa ia banggakan pada Nizam. Dia bukanlah seorang siswa teladan dengan nilai tertinggi yang akan dihadirkan di depan panggung. Namun dengan kehadiran Nizam, Ia bisa membanggakan pria itu pada teman-temannya. Hihihihi, edan.
Nizam mengangguk mengerti.
" Daftar kuliahnya jurusan apa?" Mengingat Laela termasuk dari keluarga yang berpendidikan, tak mungkin baginya untuk tak melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya hanya karena alasan telah menikah.
" Akuntansi manajemen."
" Emang bisa?" Nizam mengecilkan mata, tahunya jurusan akuntansi harus pintar-pintar menghitung dan betah melihat jajaran angka-angka.
"Maksudnya?" Laela mendelik. Hanya begitu, namun sepertinya Nizam menganggap remeh dirinya.
" Eh nggak nggak nggak. Maksud aku kalau jurusan keguruan gimana?" Tahu jika istrinya itu sedang tersinggung, kali ini Nizam berbicara dengan lembut. Jadi tak enak rasanya.
" Kakak maunya gimana?"
"Aku mau, istriku nanti jadi guru." Nizam mengutarakan impiannya dahulu yang tak mau mampu Ia raih. Keinginan yang terkendala karena masalah biaya. Mendaftar sebagai pasukan orange hanya menggunakan ijazah SMA nya saja.
Dan kini cita-cita itu dilemparkan pada sang istri.
" Tapi aku ingin bekerja di kantor." Laela tertunduk.
Melawan suami ganteng seperti Nizam memang tak mungkin, tapi masih bisa membujuk kan?
Wajah dipasang sesedih mungkin, berharap Nizam akan luluh, langsung mengiyakan keinginannya. Ia bisa saja tak memenuhi keinginan Nizam, toh selama ini pria itu juga tak terlalu memperhatikan segala tentangnya.
Bayangan menjadi wanita karir memang sejak dulu. Bekerja di gedung bertingkat dengan menggunakan blus dan rok span super ketat, lengkap dengan heels yang akan membuat dirinya semakin terlihat tinggi dan ****!.
salahnya dia, mengapa memilih seorang Imam menjadi pendamping hidupnya yang pasti tak kan merestui keinginannya itu.
"Ya udah!" Nizam berbalik langsung meninggalkan Laela begitu saja. Mereka belum terlalu akrab, tak elok rasanya jika Nizam harus memaksakan keinginannya sendiri. Terlebih lagi, NIzam belum pernah memberikan nafkah apapun pada istrinya itu.
"Eh kok kok kok?" Laela terkesiap.
Dalam benaknya membayangkan jika Nizam mau membujuknya terlebih dahulu, ternyata tidak.
Memandang pintu yang baru saja tertutup dengan bibir yang mengerucut, kesal. Lagi-lagi Nizam meninggalkan dirinya sendiri, bahkan sebelum pembahasan di antara mereka selesai.
Puufffttt.
__ADS_1
Masih betah memandang pintu yang tertutup, dengan wajah yang bertumpu di kedua tangan berharap Nizam kembali masuk dan melanjutkan pembicaraan mereka. Namun hingga dirinya bulukan, pria itu tak nampak kembali.
" Kak gimana?" Kini Laela menghampiri Nizam yang tengah menyeruput kopi hitam panasnya. Itu bukan buatannya, tapi masih buatan ibu. Tugasnya hanya cuci piring setiap kali setelah makan.
" Jadwalnya kapan?"
" Hari Sabtu tanggal 26."
Nizam berdiri, melangkah mendekati kalender dinding dengan gambar Salah satu tokoh Partai.
"Aku jaga pagi!" Ucapnya sebelum beranjak dari sana.
"Jadi?" Laela masih mengekor di belakangnya.
"Biar Ibu saja." Menyerahkan amplop putih itu pada ibu.
Laela cemberut mendengar perkataan suaminya itu. Sama aja bohong!
Mending nyuruh Ayah yang pasti datang dengan pakaian dinasnya. Atau ibunya, yang mungkin lebih memiliki penampilan dan aura yang sedikit berkelas daripada ibu mertuanya yang kurang mengenal dunia luar.
" Sampai kapan kamu terus menghindariLaela?" Ibu bertanya sepeninggalan istri Nizam itu. Itupun dengan suara yang sangat lirih. Tak ingin menantu perempuannya itu mendengar percakapan mereka. Mungkin akan membuat wanita itu tersinggung dan sakit hati.
Telah telah lama ingin menanyakan hal ini pada Nizam, menunggu waktu yang tepat. Namun kata tepat tak kunjung datang, karena Laela selalu berada di rumah.
"Aku belum siap bu!" Diucapkan sama lirihnya dan dengan kepala yang menunduk.
Ia tahu maksud ibu apa. Memang dirinya menghindari gadis cantik yang menjadi istrinya itu.
Ia sadar, ini dialah yang salah.
"Siapnya kapan?"
" Umur 25 itu, sudah siap. Apalagi kamu yang sudah mendapatkan pekerjaan tetap. Teman-teman kamu saja, sudah banyak yang gendong anak."
Sebenarnya, bukan waktunya yang membuat Nizam belum siap, tapi wanitanya. "Laela juga masih kecil, dia mau lanjut kuliah."
" Banyak kok perempuan yang hamil tapi masih bisa beraktivitas seperti biasa. Ibu yakin bukan itu alasannya."
"Laela bukan tipe aku." Nizam semakin menunduk saat mengatakan itu. Salah memang, namun apa dikata
"Jodoh itu rahasia Ilahi. Kita hanya bisa menerima dan mensyukuri segala yang diberikan."
"Tuhan mempertemukan kamu dengan gadis seperti istrimu bukan tanpa sebab. Mungkin Tuhan ingin kamu menjadi guru dan pembimbing yang baik untuknya."
"Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
"Suka atau tidak, Allah tetap akan meminta pertanggung jawabanmu nanti sebagai suami."
Serentetan petuah dari ibu hanya ia dengarkan dengan kepala yang semakin tertunduk.
Semua yang dikatakan ibu memang benar.
Beratnya jadi suami kini ia rasakan. Terlebih untuk seorang Laela, banyak hal yang tak sesuai dengan keinginannya. Bahkan gadis itu tak menutup aurat saat keluar rumah.
__ADS_1
Haruskah ia memaksa?