Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Puncak Kebahagiaan


__ADS_3

Pagi menghantarkan mereka pada hari baru, semua tengah bersiap untuk memulai hari.


Mungkin sekarang kedua pasang suami istri itu tengah berdiri di puncak kebahagiaan dalam berumah tangga.


Di saat semua terasa indah.


Di saat rindu datang menggebu meski baru berpisah beberapa jam yang lalu.


Di saat memandang pasangan yang terlihat hanya kecantikan dan ketampanan yang selalu saja membuat dada berdetak kencang.


Di saat semua perasaan hanya ingin di nikmati dengan tatapan dan sentuhan.


Kata rindu tak kan pernah cukup untuk mengartikan semua rasa yang tercipta dalam diri.


Laela selalu saja terpesona oleh tubuh lembab Nizam yang seolah sengaja dipamerkan setiap selesai mandi.


Kulit tubuh yang dingin, terasa sejuk saat bertemu langsung dengan kulitnya. Ditambah lagi postur tubuh Nizam yang kekar berisi yang setiap hari  ditempa dengan latihan-latihan fisik membentuk tubuh, semakin membuat naluri berjalan untuk memeluk.


"Aduuuh, sudah jam berapa ini?" Keluh Nizam saat Laela memeluk erat tubuhnya yang hanya menggunakan handuk setelah mandi.


Laela tak menjawab, justru tersenyum di depan dada sambil menghirup dalam-dalam aroma sabun dari tubuh suaminya. Kedua tangan melingkar dan saling terkait di punggung Nizam, semakin membuat pria itu terbatas dalam bergerak.


Tanpa melepaskan pelukan, Nizam menyeret langkah membawa tubuh mereka ke depan lemari pakaian.


"Istri itu tugasnya melayani suami. Mempersiapkan semua kebutuhan suaminya. Seperti sekarang, suamimu mau berangkat kerja harusnya disiapkan baju, sarapan dan lain sebagainya. Bukannya manja-manja kayak gini!"


Tangannya terulur masuk ke dalam lemari mengambil sendiri pakaiannya, sementara Laela masih memeluknya dengan manja.


Gadis itu tersenyum, bahkan sedari tadi sebelum mendengarkan suaminya mengoceh. "Itu pakaiannya udah diambilin!"


"Ya itu karena kamu nggak ngambilin baju kerja aku, terpaksa diambil sendiri."


"Habisnya Kangen sih." Nada suara gadis itu masih terdengar manja di telinga Nizam.


Jika terus seperti ini, bisa dipastikan mereka akan terlambat. Nizam terlambat ke tempat kerja, dan Laela akan terlambat ke kampus. Atau mungkin gadis itu tidak ada jam di pagi ini hingga bisa bermalas-malasan dan bermanja-manja dengan Nizam.

__ADS_1


"Pagi-pagi jangan menggoda La, aku harus kerja, kamu juga harus kuliah!"


Pelukan itu belumpun lepas, meski saat NIzam kembali menyeret langkah dengan membawa semuat kebutuhannya.


Meletakkan pakaiannya di tepi tempat tidur sebelum tangannya membalas pelukan sang istri. Janin yang dalam perut Laela menjadi perantara antara tubuh mereka.


Tangannya di punggung Laela membelai naik turun dengan lembut, membuat gadis itu semakin memejamkan matanya dengan erat. Mungkin gadis itu sedang bersiap menerima sentuhan Nizam selanjutnya.


Benar saja, tangan lebar itu mulai naik ke atas kepala, masih memberikan belaian-belaian lembut pada rambut sang istri tercinta.


Hingga kembali turun, berhenti di tengguk Laela. Sedikit tekanan hingga membuat gadis itu menengadahkan kepala membuat tatapan keduanya bertemu. Saling memandang masuk ke dalam retina mata dengan penuh cinta dan sayang.


Terus mendekat hingga mempertemukan kedua bibir, mempersembahkan rasa cinta yang berlimpah ruah dari dalam dada. Dengan perlahan Nizam membawa tubuh Laela yang mungkin telah tenggelam ke dalam indahnya sentuhan dan belaian sang kekasih hati. Tak terasa tubuh itu mulai di daratkan perlahan ke peraduan mereka. Tempat yang selalu menjadi penyatuan terindah antara kasih dan sayang.


Laela semakin terbuai, terlebih saat Nizam mulai merosot turun sambil terus menikmati kulit putih lembut selembut sutera milik sang istri.


Di pagi ini, Nizam kembali membawanya Laela ke lembah indah penuh penghayatan.


Nizam mulai bangkit dengan senyuman manis di bibir. Memandang tubuh sang istri yang masih terdiam pasrah di atas pembaringan. Kain penutup tubuh gadis itu kembali ia tarik turun setelah tadi sengaja di sibak  ke atas.


"Bang!" Ucapnya memanggil NIzam, berharap pria itu kembali meneruskan tindakannya.


Yang ada, pria itu tersenyum sambil memandang ke arahnya. Namun senyuman itu terlihat seperti, ...?


Aneh.


"Bang!" Ucapnya kembali sambil mengangkat tubuhnya dari pembaringan.


Eh, tunggu!


Ada yang aneh, saat tubuhnya justru kembali tertarik ke belakang. Memandang ke arah samping, di mana tangan kanannya teringat dengan kain yang tersambung dengan meja dekat tempat tidur.


Sejak kapan? Ia pun tak ingat, bahkan tak merasa sama sekali.


Mungkin karena terlalu terbuai dalam sentuhan manja sang suami.

__ADS_1


"Abang ih, jail banget sih? Lepas ini!" Ucapnya melangkan protes pada Nizam. Tangan di gerak-gerakkan demi memperlihatkannya pada Nizam.


"Hahahaha," Pria itu justru tertawa tanpa berniat melepas ikatan tangan Laela.


Tanpa mengidahkan teriakan Laela, pria itu terus melangkahkan kaki keluar kamar.


"Abang" Suara teriakan Laela menggema, hingga membuat ibu yang berada di dapur tersentak karena kaget.


Berlari menuju ke kamar Sang putra demi mengecek apa yang tengah terjadi di sana hingga menimbulkan suara yang begitu keras.


" Kamu apakan Laela lagi?" Saat menemukan putranya justru tertawa saat baru saja penutup pintu kamarnya.


Bahkan pria itu tak menjawab pertanyaan ibu, melangkah ke dalam demi menikmati secangkir kopi yang sudah hampir dingin dengan sekali tegukkan.


Masih dengan wajah berseri, pria itu kembali melangkah keluar mendapati ibu yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Istrimu kenapa diikat Zaaaam?"


Disusul dengan Laela yang mengusap-usap pelan pergelangan tangan kanannya, dengan memasang wajah cemberutnya sambil. Namun tetap saja terlihat cantik di mata Nizam yang tengah menimbun rasa cinta yang sangat luar biasa untuk sang istri.


"Hahahaha," Pria itu kembali tertawa, tak berniat menjawab pertanyaan ibu.


Menarik Laela hingga masuk ke dalam pelukannya. Lucu sekali hari ini.


"Kamu sih bandel. Dibilang pagi-pagi jangan banyak tingkah, eh malah godain." Kembali menyeret langkah ke depan dengan  memeluk Laela dari belakang.


Dalam langkahnya ia puas melayangkan seribu kecupan di wajah dan leher sang istri, mengidahkan wajah cemberut Laela.


"Suami mau pergi kerja, jangan cemberut terus!" Pelukan telah ia lepaskan, duduk di tepi teras dengan sepatu yang kini telah siap di depannya. "Kamu gak kuliah?"


"Masuk siang!"


"Ya udah, aku pergi dulu! Hati-hati di jalan! Gak usah ngebut kalo bawa motor! Kamu juga bawa anakku dalam perutmu, harus lebih hati-hati!" Pesan beruntun yang Nizam ucapkan sambil mengusap perut Laela yang kini tengah berdiri di hadapannya.


Jika menuruti kata hati, pria itu enggan mengijinkan Laela kuliah tahun ini. Apalagi melepas wanita itu pergi dengan mengendarai motornya seorang diri.

__ADS_1


Namun ia tak mampu melawan mertuanya yang seolah sangat menginginkan Laela terus melangkah meraih cita-cita dan demi masa depan wanita itu.


__ADS_2