
Laela merasa bersyukur dan harus mengucapkan terima kasih pada Budi.
Pria yang pernah datang ke rumah mereka dengan menebalkan muka sambil menengadahkan tangannya, meminta kebaikan hati dan pertolongan dari keluarga mereka.
Nizam menyanggupi, memberikan uang sebesar dua puluh lima juta sesuai permintaan pria itu. Itupun pertimbangan penuh dan permohonan dari Laela yang tengah hamil saat itu.
"Kok aku takut bang?" Laela sambil mengusap pelan perutnya.
"Kita bersyukur masih diberi kesempatan dan dititipkan keturunan. Sementara dia? Masih harus berusaha untuk kesembuhan istrinya dulu, baru bisa mengharapkan keturunan. Itupun belum tentu dikasi."
"Istri abang ini sehat. Bagaimana jika aku mengalami hal yang sama seper-..."
"Kamu jangan asal ngomong! Ucapan adalah doa, makanya kalau ngomong itu harus yang baik-baik." Nizam segera memotong ucapan Laela, ia tahu arah pembicaraan itu ke mana. Terlalu jauh, dan memang ia tak bisa membayangkan saat harus berada di posisi Budi.
"Makanya kalau bisa bantu ya kita bantu. Anggap saja ini sebagai doa semoga anak kita selamat sampai lahiran."
Wajahnya benar menyiratkan ketakutan. Berharap bantuan ini sebagai penolak bala untuk keluarga mereka.
Pembicaraan waktu itu, hingga Nizam mampu menggelontorkan dana yang banyak.
Banyak, sangat banyak untuk ukuran warga biasa seperti mereka. Butuh waktu beberapa lama untuk mengumpulkan uang sebanyak itu?
Budi masih tetap menjalankan tugasnya di kandang ayamnya seperti biasa. Milik Nizam juga.
Hingga Nizam bisa pulang lebih cepat dari pada hari-hari biasanya. Saat pagi pun datang, pria itu tak terlalu keteteran saat memulai hari.
Nizam hanya singgah mengecek setiap pulang kerja, atau saat hendak pergi bekerja. Selebihnya, semua dilakukan oleh Budi. Memberi pakan pada ternak ayam-ayam, menjaga suhu kandang, dan membersihkan kandang. Semua tugas itu telah beralih pada Budi.
Jelas yang diuntungkan adalah Laela, Gadis itu memiliki lebih banyak waktu bersama Nizam.
Terlebih saat melihat penampilan Nizam yang tak pernah lagi menggunakan pakaian buluknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seiring berjalannya waktu, bunga-bunga cinta dalam rumah tangga mereka tumbuh dengan sangat suburnya.
__ADS_1
Bukan tak ada kerikil yang menghadang di sepanjang perjalanan mereka. Namun mampu dilalui bersama dengan sama-sama saling menekan ego. Dan lagi lagi itu semua karena cinta.
Laela meluluskan kuliahnya di tahun ke-enam usia pernikahan mereka. Maklum saja, Laela ada seorang ibu rumah tangga, bukan seorang gadis yang memiliki kebebasan sendiri. Laela harus mengorbankan sedikit waktunya demi menjaga Buah Hati bukti cinta mereka.
Bahkan mengambil cuti pada semester kedua kuliahnya karena kandungannya saat itu telah membesar. Hingga ia mampu membuat bangga seluruh keluarga saat menggunakan toga dan Sarjana Pendidikan tersemat di belakang namanya.
Izzar namanya, seorang anak lelaki tampan yang lahir dari rahim Laela lima tahun lalu. Semakin menambah kebahagiaan dan keruwetan dalam rumah tangga mereka.
Dan saat-saat ini, Laela dan Nizam sedang gencar-gencarnya mencari sekolah untuk Laela agar bisa masuk sebagai tim pengajar.
Miyah, adik Nizam.
Telah dipersunting oleh salah ustadz. Dan saat ini wanita itu tinggal di salah satu pondok pesantren demi mengikuti sang suami.
Sore ini, Laela masih berada di luar dengan Kak Nisa sambil menjaga anak mereka masing-masing yang sedang bermain pasir.
Kak Nisa yang juga memiliki seorang anak pria yang berusia di atas satu tahun lebih tua dari Izzar.
Ridwan namanya. Menjadi keluarga, sekaligus teman terdekat untukIzzar.
"Ambil jilbab dulu La, sebentar lagi Nizam pulang. Pasti marah saat lihat kamu keluar tidak menutup aurat." Sejak tadi ini saat telah memperingatkan adik iparnya ini.
"Kamu nurut sama Nizam cuma saat dia ada?" Belum apa-apa Nisa telah menggelengkan kepala. Ia tahu itu,Laela masih sedikit bandel jika tak ada Nizam.
"Hehehe," Gadis itu hanya terkekeh, membantah pun tidak. Cintanya pada Nizam memang sangatlah besar, gadis itu menuruti semua keinginan dan perintah Nizam. Meski, sebagian besar ia lakukan di saat pria itu ada saja.
Terutama ini, menutup aurat, Gadis itu tak bisa memaksakan diri.
Hingga tanpa mereka tahu, motor Nizam telah berhenti di dekat mereka.
Laela tak menyangka Nizam akan pulang secepat ini, atau mungkin dia yang memang lupa waktu.
" Kamu kenapa keluar rumah nggak pakai jilbab?" Pria itu baru datang dan emosinya langsung saja terlihat di wajahnya. Pandangan mata tajam menghunus pada wanitanya. Kepalanya menggelenga keras. Sudah sering Nizam tekankan padanya, jika mau keluar rumah untuk menutup auratnya.
Itu tidak hanya berlaku untuk Laela sendiri. Tapi juga ibu, Kak Annisaa dan Miyah juga.
__ADS_1
Seluruh wanita yang menjadi anggota keluarganya. Dan semuanya patuh, kecuali satu wanita ini.
Melihat kedatangan Nizam, kedua bocah itu berjalan cepat menghampiri mengambil tempat di motor pria itu. Izzar mengambil tempat di depan Nizam, sementara Ridwan naik ke jok motor, tangannya telah melingkar penuh ke pinggang sang paman.
"Eh Aku kira Abang belum mu pulang?"Laela meringis.
" Jadi kalau abang nggak ada, kamu juga nggak pakai jilbab?" tatapan semakin tajam, menembus hingga ke jantung.
" Emang bener! Hihihihi." Kak Nisa semakin kompor, mungkin senang saat melihat adik iparnya dimarahi.
" Padahal dari tadi sudah aku suruh masuk ambil jilbab Zam. Tapi kayaknya dia memang nungguin kamu pulang baru mau tutup aurat. Kalau cuma aku yang ngomong, mana dia dengar, sukanya membantah!"
Laela melirik sebal pada kakak iparnya.
Kak Nisa nggak seru, ngadu lagi!
umpatnya dalam hati.
Sementara wanita yang masih duduk itu, menggulung bibir agar senyumnya tak terlalu terlihat.
Nyaho Kamu,kena marah kan?
Sepertinya kedua wanita itu tengah berperang meski hanya melalui tatapan mata.
"Masuk!"
Satu kata yang diucapkan sangat tegas tak mampu Laela bantah. Wanita itu tertunduk mulai melangkahkan kaki ke dalam pekarangan rumahnya.
"Cuci tangan dulu!"
Nizam berkata pada ke dua bocah itu. Tak ada ketegasan dalam tutur katanya kini, hanya ada kelembutan dan kasih sayang yang terpancar.
Akhirnya tempat itu kembali kosong. Kedua wanita itu masuk ke dalam rumah masing-masing dengan raut wajah yang berbeda. Laela masuk ke rumah dengan wajah yang cemberut.
Sementara Nisa dengan wajah jahilnya, kesal juga saat perkataannya tadi tak digubris adik iparnya itu.
__ADS_1
Nizam mulai menjalankan motornya dengan membawa dua bocah pria.
Sudah jadi kebiasaan kedua bocah itu jika NIzam pulang sore. Pria itu akan membawa mereka berkeliling kampung sambil menikmati indahnya pemandangan sore hari. Sejuknya angin yang menerpa tak diidahkan. Melambaikan tangan pada bocah-bocah yang lain yang mereka jumpai selam perjalanan.