
Fajar menyinsing, mempersembahkan kokokan ayam- ayam jantan yang saling bersahut-sahutan seolah menjadi alarm untuk sebagian mereka.
Nyatanya drama malam pertama belumlah usai seiring usainya malam.
Dengan lembut Nizam mencoba membangunkan Laela dari tidur lelapnya.
Kali ini saja, Ia tak melangkahkan kaki menuju ke masjid seperti biasanya. Ia hendak membantu seluruh aktivitas Laela yang kini masih lemas karena keegoisannya semalam.
Bahkan rasanya ia ingin selalu berada di sisi sang istri.
"La, bangun dulu ya, mandi!" Masih dengan guncangan pelan di pundak sang istri.
Laela sudah mulai mendudukkan diri, kembali menyandarkan kepala di dada Nizam. Rasa kantuk masih menyelimuti, tubuh rasanya masih remuk redam. Ia butuh pijatan di seluruh anggota tubuhnya.
" Abang sudah masak air untuk kamu mandi!"
Laela menajamkan pendengarannya, apa Iya tak salah dengar Nizam menyebut dirinya Abang?
"La, bangun dulu ya. Abang bantuin ke kamar mandi." Belum apa-apa Nizam kembali menggendong tubuh Laela, membawanya ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi semuanya telah siap, air hangat, beserta handuk yang akan Laela gunakan setelah mandi nanti.
"Bisa?" Nizam kembali mengajukan diri demi membantu istrinya untuk mandi.
Laela mengangguk meski mata masih tertutup rapat. Nizam mulai meninggalkan Laela sendirian dalam kamar mandi, dia sendiri hanya berdiri di luar menanti jika Laela butuh bantuannya.
" Bisa jalan?"
Laela telah keluar dari kamar mandi dengan tubuh dan rambut yang basah.
Laela mengangguk, mencoba melangkahkan kaki meski pada langkah pertama ia kembali meringis menahan perihnya di bawah sana.
" Kamu tunggu ya!" Nizam segera berlalu, kembali datang dengan sebuah sarung di tangan.
Mulai membentangkan sarung lalu digunakannya untuk membungkus tubuh Laela. Ia kembali merengkuh tubuh Laela selalu membawanya ke kamar, melewati ibu yang baru saja bangun dengan mengucek mata.
menurunkan tubuh Laela secara perlahan, ia kembali melayani Laela dengan menyiapkan pakaian untuk digunakan gadis itu.
"Kamu Pakaian, tunggu aku kita salat bareng-bareng."
Ini kedua kalinya mereka salat berjamaah.
"Laela masih sakit Zam?"
Ibu masuk ke kamar mereka, perasaan khawatir langsung menyergap saat melihat Nizam membopong tubuh Laela dari kamar mandi tadi.
__ADS_1
"I-iya bu. Tapi udah baikan kok cuma mau istirahat sedikit."
Nizam ragu apakah ini tergolong membohongi ibu atau tidak? Laela memang sakit, tapi sakit yang berbeda dengan yang dimaksud ibunya.
Kini mereka telah berada kembali ke tempat tidur, dengan Nizam yang duduk di samping tubuh Laela yang kini tengah berbaring.
Tak lupa usapan-usapan lembut berganti dengan pijatan-pijatan ringan di tubuh sang istri, berharap itu bisa membantu meringankan kesakitan yang di rasakan Laela.
Ibu kembali ke luar dari kamar itu, memberikan waktu pada sepasang suami istri yang terlihat seperti telah berbaikan itu. Ibupun tak terlalu berani menebak, sejauh mana hubungan mereka berdua, biarlah waktu yang menjawab semuanya.
Kembali ke kamar Nizam, kali ini ia mengetuk pintu terlebih dahulu dan masuk setelah mendapat jawaban dari dalam.
"Zam, kamu sarapan sana, udah siap di meja makan. Kalau mau bawa ke sini aja biar sekalian makan sama Laela."
Nizam menganggukan kepala, sepertinya pagi ini terasa berat untuk ia memulia hari. Artinya ia harus meninggalkan Laela selama beberapa jam ke depan.
Kembali ke kamar dengan sepiring nasi hangat penuh untuk berdua.
"Bu, aku titip Laela yah!"
Ibu mencibir saat mendengarkan kata pamit Nizam, lebay.
Tak lupa mengecup bibir sang istri dengan penuh perasaan.
Hari-hari yang mereka lalui setelah ini semakin indah saja. Saat menerima pernikahan dengan tangan dan perasaan yang terbuka satu sama lain.
Kepalanya langsung terangkat saat mendengar derit pintu menandakan pintu terbuka, dan itu pasti istrinya.
"La, sini. Temani tidur!" Ucapnya sambil menepuk sisi samping.
"Aku cuma mau ambil baju kotor bang, mau nyuci, malah di ajak bobo." Istrinya mulai belajar mengomel, mulai menampakkan wajah aslinya.
"Sebentar aja. Cuma temani aku bobo dulu, abis itu kamu keluar lagi gak pa-pa deh!" Tak bisa ia bayangkan betapa manjanya ia saat ini. Laela telah menjadi obat tidur yang paling mujarab baginya. Padahal dulu tak seperti ini, ketemu dengan bantal saja sudah mampu membuatnya tenggelam dalam tidur nyenyak.
"Abang merem aja, bentar juga tidur sendiri."
Nizam mulai bangkit menghampiri Laela yang tengah mengumpulkan baju-baju kotor.
"Aaaaa." Jerit gadis itu saat tak siap diri Nizam mengangkat tubuhnya.
"Jangan teriak, nanti dikira aku ngapain kamu!"
"Abang sih, nakal!" Mulut mengoceh, tapi pipi bersemu merah mendapati tubuhnya kini telah terbaring di ranjang dengan Nizam yang kini teramat sangat dekat dengannya.
Belum lagi saat pria itu menyerbu wajahnya dengan kecupan yang membabi buta, Laela hanya mampu menutup mata rapat-rapat.
__ADS_1
Mulai berani membuka mata saat Nizam menjatuhkan diri tepat di sampingnya.
"Cuma mau peluk kamu sambil tidur, kalau aku udah bobo kamu boleh keluar. Jangan terlalu lama, nanti ibu curiga lagi."
Tubuh Laela telah dibekuk oleh Nizam.
"Ck, harusnya yang bilang kayak gitu aku. Ini juga pasti ibu udah curiga sama aku, ambil cucian kok lama?" Lagi, mode ngomel berjalan.
"Ibu juga gak mungkin marahin kamu kan? Mana ada ibu pernah marah-marah, apalagi sama kamu. Kamu kan menantu kesayangan ibu."
"Ibu emang gak marah, tapi akunya yang mali sendiri." Laela.
"Udah ah, kapan aku tidurnya kalo kamu ngomel mulu."
Laela mulai membalikkan badan, sambil mengusap pelan punggung sang suami sebagai pengantar tidur. Tapi, ...
"Gak usah mancing-mancing deh, jangan sampai yang ibu curigai benar-benar terjadi." Nizam yang telah menutup matanya rapat bersiap untuk tidur.
"Aku cuma sapu-sapu biar kamu cepat tidur." Bantah Laela.
"Itu bukan sapu-sapu tapi belai-belai." Mata pria itu kini kembali terbuka lebar, membuat mata Laela ikut terbuka lebar. Jangan sampai yang ia takutkan benar terjadi, bisa semakin lama ia tinggal di kamar ini.
Ibu memang tak kan bertanya tentang apa yang terjadi dalam kamar ini, tapi tetap saja malu tak bisa ia bendung saat harus kembali keramas setelah keluar dari kamar.
"Udah ah, mau tidur atau gak nih. Aku keluar nih!" Ancaman mulai ditabuh sebelum lawan menyerang.
Dan akhirnya diam itu datang ketika napas Nizam mulai terdengar teratur.
Laela memiliki banyak waktu demi memandang lepas wajah milik sang kekasih hatinya.
Wajah pria yang mampu membawanya lari dari kehidupan manjanya sebelumnya.
Menjadi istri dalam usia yang sangat muda. Mencuci baju, mencuci piring, menyapu lantai, hingga mengepel.
Semua pekerjaan yang hampir tak pernah ia lakukan sebelumnya.
Bukan tak pernah, namun jarang. Saat keluarga yang biasa membantu mengurus rumah mereka berhalangan datang ke rumah. Itupun ia kerjakan semuanya dengan bantuan dan disertai omelan ibunya.
Dan alasan sekolahnya menjadi alasan paling jitu menghindari pekerjaan-pekerjaan itu.
Dan saat ibunya berkata, "Bagaimana mau jadi istri yang baik masak aja gak bisa?"
Maka jawabannya ialah, "Aku mau cari suami yang kaya, CEO, biar tinggal tunjuk sana tunjuk sini!"
Namun sekarang, semuanya ia lakukan. Karena apa?
__ADS_1
Jelas karena cinta.
Ia selalu ingin menjadi istri dan menantu yang baik untuk Nizam dan ibu.