Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
keseluruhan keluarga membangkitkan


__ADS_3

" Mau lomba?"


Pertanyaan itu mampu menolehkan kepalanya pada sang penanya.


Izzar dengan wajah sombongnya, tengah menantang sang ibu. Bahkan senyum yang ia tampilkan terlihat meledek.


Plak.


"Kamu cari musuh yang salah!" Laela bahkan telah menepuk bahu putra sulungnya itu. Tak bisa dipungkiri rasa kesal memang ada, namun gemaspun kala mengingat ajakan anaknya yang memang siap mengalahkan dirinya.


" Cari lawan itu yang sepadan. Kenapa harus lawan ibu,...?"


" Bukan ibu, tapi bunda!" Meidina masih sempat melayangkan protesnya. Tak pernah lelah ia mengingatkan tentang panggilan itu pada mereka yang sedikit keras kepala.


Panggil Bunda, apa susahnya sih?


Ah, andaikan anak kecil itu tahu jika terlalu sulit untuk ketiga orang itu mengubah panggilan yang sudah melekat setelah sekian tahun ini.


" Kenapa nantangin bunda." Laela mengulang pertanyaannya seraya melirik ke arah Meidina, nampak gadis kecil itu tersenyum sambil mengangguk bangga.


" Udah gak ada yang dapat lawan yang sepadan? Ridwan udah dikalahin belum?" Bibir Laela bahkan mencibir, Wajahnya ditampilkan mengejek pula seperti raut yang ditunjukkan Izzar. Ia sering sekali mendengar Ridwan yang menertawakan putranya ini karena selalu saja kalah dalam segala hal, termasuk kala berenang di sungai.


Dan tentu saja mendengar itu, wajah Izzar benar-benar cemberut setelahnya.


" Ya udah, kamu lawan ayah saja!" Armand.


Melihat kedua ibu dan anak itu seperti saling menantang justru terlihat hangat di mata pria itu. Keduanya terlihat  tak terlihat seperti ibu dan anak, melainkan seperti teman. Ia menyebut dirinya sebagai ayah, anggap saja sebagai pembiasaan diri untuk keluarga barunya itu.


Suara lantangnya itu kini menjadikan ia sebagai titik fokus seluruh keluarga.

__ADS_1


Ya kali, tantangannya seperti itu. Ketika orang dewasa melawan seorang bocah kelas enam. Sudah bisa dipastikan pemenangnnya siapa. Terlebih postur tubuh mereka terlihat berbeda dengan sangat jelasnya.


Tangan pria dewasa itu lebih kuat dan juga mampu menghimpun lebih banyak bobot air di dalam kolam, jelas saja akan membuat laju renangnya lebih cepat.


Hingga beberapa waktu lamanya, Izzar terdiam tak hendak menjawab tantangan sang ayah sambung. Jelas saja meragu. Mereka tak pernah dekat sebelumnya, dan tentu masalah kekuatanpun ia telah lebih dulu angkat tangan.


" Kamu boleh minta apa saja sama ayah kalau kamu menang!" Ucap Armand, tahu jika pria kecil itu tengah bimbang dengan tantangannya.


" Yeeee, kakak boleh minta apa saja. Kalau menang minta yang mahal-mahal kak!" Meidina bersorak riang, ia akan menjadi kompor saat kakaknya itu menang. Nanti akan menawarkan sesuatu yang mahal untuk, ia juga bisa ikut nimbrung kan? " Tapi awas yah, ayah jangan terlalu jago. Nanti kak Izzar kalah!" Tangannya menacung pada sang ayah, mengancam.


" Baiklah!"


Satu kata itu membuat semuanya tersenyum, tak tertinggal suara teriakan kembali menggema demi mendukung.


" Aku dukung kakak!"  Meidina, masih dengan penuh semangat.


" Aku juga!" Sofiah juga hendak mendukung meski pergerakannya sedikit meragu saat kedatangan pria dewasa di tengah-tengah mereka.


" Ayah yang dukung bunda aja. Kan satu kamar juga!" Polos sekali jawaban gadis kecilnya. Bahkan Meidina menarik tangan bundanya untuk lebih di dekatkan pada Armand.


Pria itu hanya bisa mengangguk, tanpa berani memandanga wajah sang istri yang turut tersipu malu.


" Ya udah, biar oma yang jadi wasitnya." Masih berdiri di atas, wanita paruh baya itu kini telah mengibar-ibarkan kain yang diyakini adalah baju milik sang putra yang dilepaskan saat hendak menceburkan diri tadi.


Semakin semangatlah keluarga itu.


" IZZAR! IZZAR!"


" AYAH! AYAH!"

__ADS_1


Teriakan! Sorakan terdengar menggema di teras samping kediaman itu. Senyum dan tawapun terukir di wajah seluruh keluarga. Saling mendukung kedua peserta lomba itu.


Izzar masih mencoba menggunakan seluruh tenaganya.


" Nanti bisa minta mobil remot yang mahal seperti punya Doni kak!" Bisikan Meidina di telinganya mampu meningkatkan semangat bocah itu berkali-kali lipat.


Namun apa daya, tenaganya tak mampu menandingi kekuatan sang ayah.


" Yeeee!" Laela memekik riang kala pria yang sedari tadi ia panggil penuh semangat baru saja menyembulkan kepala dari dalam air. Tanpa sadar Iy meraih pergelangan tangan Armand dan mengacungkannya ke atas bersama dengan tangannya. mereka menang.


Wanita itu tersenyum riang dengan wajah yang telah basah terkena percikan air sedikit demi sedikit. Manis, itu yang tertangkap dalam pandangan Armand.


Kesadaran wanita itu bahkan belum mendarat sekalipun saat tangannya beberapa kali menepuk-nepuk dada milik sang suami yang kini telah berdetak kencang tak karuan. Meloncat-loncat kegirangan, seolah kini telah lupa dengan usianya.


Armand sadar, kini jiwanya telah melemah. Tak bisa menapik tentang perasaan yang kini tengah menggelora. Apalagi saat sang istri, turut membanggakannya di hadapan seluruh keluarga.


Tubuh basah itu menampilkan lekuk tubuh wanita itu begitu sempurna. Lumayan tinggi untuk ukuran seorang wanita. Semampai dengan tubuh langsing meski telah melahirkan dua orang anak.


Jantung yang berdetak kencang akibat berenang sekali putaran itu, kini semakin menjadi kala sentuhan-demi sentuhan dihadiahkan oleh Laela untuknya. Ada sesuatu yang bergejolak dalam hatinya. Sesuatu yang telah tertidur selama sewindu lamanya kini telah bangun sempurna di bawah air.


Entah mengapa Armand tak berniat menepis segala sentuhan yang ia dapatkan dari sang istri. Sekalipun membuat tubuhnya kini tak lagi rileks. Tegang bahkan terasa semakin jelas.


" Sekarang aku lagi yang tanding sama Sofiah! Ayah jangan liatin bunda mulu, ishhhh!" Di balik sorak-sorai keluarga itu, hanya ayahnya saja yang terdiam sambil memandangi bundanya.


Dan seketika itu pula, Armand segera mengihkan pandangan dari wajah manis yang sedari tadi mampu mengalihkan dunianya. Malu, jelas saja.


Dan pegangan tangan Laelapun terlepas begitu saja. Malu, tentu saja.


Keseruan keluarga itu berlanjut, meski dengan dua orang dewasa yang kini telah bersikap semakin canggung setelah kejadian tadi.

__ADS_1


dan kini giliran Arman yang harus menyiapkan segala macam hadiah untuk seluruh anak-anaknya. menang dan kalah sama mendapat hadiah agar tak ada kecemburuan antara ketiga anak itu.


Iya bahkan sempat mendengar keluhan Meidina yang tak jadi merengek membelikan mobil remot untuk kakaknya. bisa sayang itu bocah perempuannya pada saudara sambungnya itu.


__ADS_2