Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Kado Kelulusan


__ADS_3

Nizam masuk ke dalam kamar dengan hanya menggunakan handuk menutupi tubuh. Pemandangan itu, membuat Laela tersenyum.


terlihat lebih segar, dengan sisa-sisa air yang menetes di rambut dan kulit masih lembab. Terlebih saat indera penciumannya semakin jelas menangkap wangi sabun yang melekat.


" Kamu kenapa?"Nizam, Laela justru cekikikan sendiri.


" Keluar dulu aku mau ganti baju!" Tatapan itu masih sama. Dingin, tak ada ramahnya sedikitpun.


Namun tak mengapa bagi Laela, Nizam selalu saja tampan di matanya.


Ini adalah hari bahagianya, dan ia ingin merayakannya bersama sang suami tentunya.


Bagaimana caranya? Ya dengan menyerahkan tubuhnya seutuhnya pada sang suami. Anggap saja ini adalah hadiah kelulusannya.


Mulai berjalan mendekati Nizam, tatapan kagum semakin terpancar saat langkah semakin dekat.


Nizam memundurkan langkah, raut wajah Laela justru menakutinya.


Jluuub.


Satu gerakan cepat dari Laela hingga tubuh mereka saling bersentuhan. Gadis itu telah mengalungkan tangan di leher Nizam, kepala menengadah menatap takjub ke arah Nizam.


Nizam terhentak, Laela terlalu dekat dan ini terlalu intim baginya.


Gelagapan, saat merasakan tubuh Laela begitu empuk di dadanya, segera mendorong Laela hingga terduduk di atas ranjang.


" Kamu kenapa agresif banget kayak cewek murahan aja?"


" Kamu terlalu berani bersentuhan dengan laki-laki. Aku nggak yakin kamu masih perawan."


Rasa kesal saat wudhunya justru dirusak oleh Laela. Setelah ini ia harus mengulang wudhu dan mungkin akan ketinggalan shalat jamaah.


Tanpa sedikitpun meraba perasaan wanita yang telah ia nikahi itu.


Pupil mata gadis itu membola. Ada rasa tak percaya jika kata-kata kasar itu keluar dari mulut seorang Nizam. Namun sayangnya mata dan telinga secara langsung menjadi saksi sekaligus korban pria itu.


Laela berbalik ke belakang hanya untuk mengambil bantal dari tempat tidur. Dengan gerakan cepat kemudian sekuat tenaga segera melemparkan bantal itu ke arah Nizam. Tak terima dikatakan seperti itu, harga dirinya masih begitu tinggi.


Kini ia tak lagi harus menyenangkan Nizam dengan segala upaya yang sia-sia.


Ia memang murahan, tapi semua itu hanya ia lakukan pada Nizam seorang. Jika di tanya kenapa? Jelas saja jawabannya karena ia mencintai dan menginginkan Nizam seutuhnya.

__ADS_1


Tapi nyatanya pria ini tak menganggapnya sebagai pasangan hidup.


Nizam bahkan sedikit sempoyongan saat menerima serangan Laela saat bantal itu mendarat mulus pada wajahnya lalu jatuh tepat di kaki. Terdiam di tempat, sedikit sesal saat menyadari kata-katanya barusan.


"Tarik kata-katamu!" Teriakan Laela memenuhi ruang kamar, bahkan mungkin telah keluar terdengar penghuni rumah lainnya.


Benar-benar tak rela jika mendapat predikat seperti itu.


"Stttt, jangan ribut. Ibu bapak bisa dengar!" NIzam.


"Kenapa?" Masih dengan nada tingginya. Jika Nizam saja tak menganggapnya sebagai istri, ia pun tak ingin memaksakan diri. Tak mengapa baginya untuk berpisah dengan Nizam.


Rasanya perjalanan hidupnya masih panjang. Masih banyak yang hendak ia raih. Tak perlu terlalu mengorbankan diri demi orang yang tak sudi padanya.


"Biar mereka tau hubungan kita tak pernah baik?" Laela.


"Ma-maaf." Nizam sadar kata-katanya mungkin melukai hati Laela, tapi ia tak pernah menyangka jika wanita itu akan semarah ini.


"Asal kamu tau. Aku bukan perempuan murahan seperti yang kamu bilang. Aku masih perawan dan belum pernah tersentuh sedikitpun. Kalo tidak percaya, kamu bisa membuktikan semua itu. Tapi setelah itu kamu harus berlutut dan meminta maaf padaku!"


Berbiraca panjang lebar dengan amarah yang terpancar dari sorot mata. Bahupun naik turun karena napas yang memburu cepat.


Sesak terasa di dada, tenggorokanpun terasa kering seketika.


Ah sudahlah, ia harus pergi segera.


Berbicara dengan Laela nanti saja pikirnya, saat amarah mulai mereda. Waktu pun tak cukup banyak untuk ia membujuk, kumandang adzan magrib telah terdengar. Berjalan cepat ke arah lemari mengambil seluruh keperluannya. Gunakan dengan cepat, kini mengindahkan adanya Laela di kamar itu.


Waktu terlalu mepet, apalagi suasana hati wanita itu tengah kacau. Berjalan cepat meninggalkan Laela yang masih terduduk dalam diam di tempat tidur.


Tanpa ia tahu sepeninggalannya, Laela justru mengatakan barang-barangnya masuk ke dalam koper.


Laela baru saja menutup koper saat mendengar ketukan dari luar, " Shalat magrib dulu!" Suara ibu terdengar.


" Aku salat di kamar aja Bu!" Suara itu tidak lagi ceria seperti sebelum-sebelumnya. Ibu berdiri di depan pintu terdiam, mengerti dan keadaan rumah tangga putranya. Suara Laela tadi terlalu besar untuk tidak didengar oleh orang-orang rumah.


Laela keluar guna mengambil wudhu dengan kepala yang terus menunduk. Masih sempat berpapasan dengan ibu di dapur pun tak menyapa.


Kini Laela telah berjalan keluar dengan menyeret koper kesayangannya setelah usai mengerjakan salat magrib. Berhenti tepat di depan pintu kamar, menoleh ke dalam rumah. Apakah ia masih perlu berpamitan dengan ibu mertuanya?


Ah tidak, jangan!

__ADS_1


Ibu bisa saja menahannya dan menggagalkan aksi minggatnya, ia memilih berlalu begitu saja.


Separuh hati melangkah, tak enak pergi tanpa pamit. Sesekali berbalik ke belakang memandang ke dalam rumah hingga akhirnya tubuh telah sampai di depan pintu.


"Hah," Terkejut saat melihat Kak Nisa yang juga baru saja keluar dari rumah sebelah. "Malam kak, ngapain?" Kopernya langsung di tendang agar tak terlihat oleh kakak iparnya itu.


"Oooh ini mau ambil daun seledri buat goreng telur. Kamu ngapain malam-malam keluar sendirian?" Annisa yang di tangannya telah ada beberapa daun seledri dan sebilah pisau.


"Ooh kebetulan disuruh minta daun seledri juga sama ibu." Masih tersenyum menutupi hati yang gundah.


Pintar sekali mencari alasan meski disaat genting seperti ini.


Dalam hatinya berdoa, semoga koper pinknya tidak terlihat di mata Nisa. Jika tidak, ia harus kembali memutar otak untuk mencari alasan tentang keberadaan koper besar itu di depan rumah.


Mereka berdiri di teras masing-masing dengan penghalang pagar tembok.


"Ya udah, ambil ini aja." Nisa mengulurkan tangan ke atas pagar dengan beberapa lembar daun seledri digenggaman.


Laela turut maju mengulurkan tangan mengmbil pemberian kakak iparnya, mungkin ini yang terakhir pikirnya. Wajah terus saja tersenyum, meski hati merasa was-was. "Makasih kak." Menggoyang-goyangkan tangan menunjukkan pada Nisa.


"Iya. ya udah kamu masuk udah mulai dingin juga. Aku juga udah mau masuk, goreng telur buat abang tercinta hehehehe." Wanita hamil itu telah beranjak masuk dan menutup pintu rumahnya, meninggalkan Laela yang kini terpaku sendirian di teras rumah.


Keluarga suaminya semuanya baik padanya. Wajah yang sedari tersenyum memaksa itu kini kembali menunjukkan raut yang sebenarnya.


Aman!


Berdiri menghadap ke pintu, "Maaf bu, aku jual nama ibu."


"Maaf juga gak sempat pamitan sama ibu."


"Kak Nisa juga makasih, dan maaf!" Kembali berbalik ke arah rumah sebelah.


Kini tubuh telah memandang jalanan di hadapannya, tanganpun kembali menggenggam pegangan koper kesayangannya.


Mungkin mimpinya menjadi istri Nizam tak terwujud, berganti mimpi menjadi seorang wanita karier dengan pekerjaan yang membanggakan dan gaji yang tinggi.


Selamat menempuh hidup baru Laela!


Semangat, kamu pasti bisa melaluinya!


Kata-kata itu ia tujukan pada diri sendiri. Mulai melangkahkan kaki ke depan, cita-cita menanti.

__ADS_1


__ADS_2