Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Meraba Ngidam


__ADS_3

Waktu terus berjalan membuat mereka harus kembali melakukan aktivitas masing-masing. Begitupun dengan Laela, meski dengan berat hati ia harus kembali demi menjalankan tugasnya sebagai guru.


Diantar oleh sang kakak, tak lupa beberapa rak telur yang telah disisihkan secara khusus oleh Budi sebagai bekal mereka di sana nanti.


" Izzar, mau makan martabak nggak?" Laela tengah meraba apa yang Ia inginkan kala menyadari dirinya tengah hamil muda.


Ngidam sangat ia nantikan, meski rasanya ia tak terlalu tahu apa yang benar-benar ia inginkan.


" Mau Bu, mau!" Jawab anak itu dengan penuh semangat.


" Ayok! Ganti baju dulu jangan lupa pakai jaket!" Ucapnya kembali.


Malam ini malam minggu, mereka hanya bisa menikmati malam Yang katanya lebih panjang daripada malam yang lainnya dengan berdua saja.


Menaiki motor matic nya, dengan Izzar yang duduk di jok belakang sambil memeluk erat perut sang ibu, takut terjatuh. Ibu dan anak itu menelusuri jalan yang cukup ramai. Lampu-lampu jalan dan lampu kendaraan membuat malam


Tinggal di daerah dekat Kota membuat jalan raya tetap ramai bahkan hingga sampai tengah malam.


Sepasang ibu dan anak itu berdiam diri di samping gerobak, sabar menanti hingga tiba antrian mereka, sambil tetap mengamati cara pembuatan martabak asin oleh penjualnya.


Laela meneguk salivanya, kini yang terbayang olehnya adalah telur mata sapi buatan sang suami. Namun bagaimana caranya?


Dan kini pandangannya tertuju pada sang Buah Hati, mungkin tak ada salahnya jika ia mencoba buatan tangan putranya itu.


"Zar, ..."


Namun setelahnya, Ia hanya bisa terdiam dengan segala keraguan yang ada meski tatapan penuh harap yang tetap tertuju pada bocah pria itu.


" Kenapa Bu?"


Bocah itu telah beberapa saat menoleh namun sang ibu belum melanjutkan kata.


" Nggak papa kok!" Entahlah, sedikit ragu. Ia tak ingin memberatkan sang putra dengan keinginannya.

__ADS_1


" Ibu, mau ngomong sesuatu?" Bocah pria itu mencoba membaca pikiran sang ibu, namun ia terlalu cilik untuk bisa menebak.


" Ibu bikin penasaran aja, mau ngomong apa sih Bu?" Kini Ia Sedikit menuntut.


Di sini hanya dirinya yang menjadi keluarga terdekat. Kata tantenya ia harus bisa menjadi penjaga, perawat atau apapun demi sang ibu, karena ibu pasti keberatan harus membawa sang adik di dalam perut. Jadi Izzar harus membantu ibu.


" Ibu mau makan telur ceplok, tapi kamu yang buat kan, boleh?" Meski sedikit ragu, Laela kini berucap.


Tatapan hangat dari mata sang Buah Hati yang begitu teduh namun sendu tak mampu ia bendung. Bahkan sering kali mengingatkan pada sang suami.


" Oh itu, Ia nanti kalau sudah sampai rumah."


" Mau dimakan pakai kecap kan Bu?" Tebaknya.


Laela menggeleng dengan senyum di bibir, " Gorengnya pakai mentega, nanti makannya cukup pakai air garam saja, udah mantap kok!"


Itu adalah kebiasaan Nizam saat dulu, dan ia akan berada di samping sang suami sambil memenuhi kebutuhan yang lainnya.


Rasanya, kenangan itu ingin Ia rasakan kembali.


Sesampai di rumah, Izzar benar-benar memenuhi keinginan sang ibu.


Klik.


Kompor telah mulai dinyalakan.


" Nyalanya dikecilin aja!" Tangan Laela terulur pada knop kompor yang baru saja diputar oleh Izzar.


" Boleh margarinnya sedikit!" Laela kembali memberikan instruksi.


Dan kini telur telah dipecahkan di atas teflon, " Tutup bentaran Zar!"


Dan bocah itu masih mengikuti tak sang ibu, sesekali ia berbalik menatap wanita yang turut berdiri di belakangnya. Ia masih takut salah, meski telah dituntun oleh sang ibu dengan sedemikian rupa.

__ADS_1


" Udah gitu aja, Makasih sayang!"


" Eh kamu mau juga?" Laela baru saja berbalik dan hendak melangkahkan kaki, namun ia kembali teringat pada Sang putra yang mungkin akan turut menginginkan sesuatu yang sama dengannya.


" Nggak usah Bu aku makan nasi sama martabaknya saja."


Mereka kini telah duduk di depan TV beralaskan karpet, makan sambil menonton siaran tv mampu menghilangkan Kesunyian mereka.


" Enak BU?"


Bocah pria itu bertanya kalau melihat sang ibu yang begitu menikmati hasil tangannya. tak bisa dipungkiri kini ada rasa bangga yang Mengusik dadanya. bibir tersenyum, iya bisa memberikan sebuah kebahagiaan pada sang ibu.


"Emmm, enak!" Dengan anggukan kepala. "Enak banget buatan anak ibu."


" Mau lagi?"


" Nggak usah ini udah cukup, besok lagi deh. Boleh?"


Izzar mengangguk cepat, jelas saja boleh dan ia akan melakukannya sepenuh hati, bahkan sampai ibunya bosan dengan masakannya.


...****************...


Tanpa terasa waktu bergulir dengan begitu cepatnya mengantarkan kehamilan Laela setelah sampai pada bulan ke-sembilan.


Dia hanya bisa menikmati kehamilannya didampingi oleh sang anak yang senantiasa mempersembahkan apa yang ia bisa pada sang ibu.


Laela masih bisa bersyukur, Karena ia memiliki kesibukan sebagai seorang guru yang mampu menenggelamkan kesedihannya ada sang suami yang tak kunjung pulang.


Seluruh keluarga bahkan kini telah berada di rumah sakit guna menemani Laela menjalani persalinannya.


Di dalam ruang persalinan, ada ibu dan ibu mertuanya yang berada di Sisi kiri dan kanannya yang megang tangannya masing-masing. Memberikan semangat dan kekuatan pada sang anak, sambil sesekali membisikkan kalimat dzikir di telinganya.


Sementara di luar, Ayah dan Bapak mertuanya menunggu dengan perasaan cemas. sesekali Mereka bergantian berdiri berjalan ke sana dan kemari, setelah letih sedikit barulah mereka duduk meski hanya sebentar lalu kembali berdiri dan berjalan.

__ADS_1


Semua yang mereka lakukan hanya untuk menepis rasa kekhawatiran yang tercipta selama berada di depan ruang persalinan.


__ADS_2