Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Jangan Terlalu Cepat Pergi!


__ADS_3

Semua berjalan sesuai dengan rencana, itu menurut Oma.


Mobil Arman kembali melaju pulang ke rumah papanya yang kini ditempati oleh keluarga tantenya.


Dan kabar tentang mamanya yang telah melamar Laela telah sampai pada penghuni rumah itu. Baru saja menginjakkan kaki, suara Oma menggelegar memanggil semuanya.


" Tiniiiiii." Suaranya kencang sekali memanggil iparnya, dilengkapi dengan suara plat sepatu yang berjalan tergesa masuk ke dalam rumah.


" Apa? Apa, ada apa?" Orang yang dipanggil saja gelagapan, mengira Jika sesuatu hal buruk terjadi pada Meidina yang telah dua hari ditinggal pergi di rumah orang.


" Cepat ganti bajumu, temani aku belanja seserahan?"


Secepat itu Oma Ranti berkata hingga membuat Tini melongok. Seserahan? Untuk siapa?


" Cepetan kok malah bengong?" Oma Ranti bahkan sampai menepuk lengannya. Bagaimana tidak kesal, ia harus terburu-buru sementara yang hendak dimintai pertolongan justru hanya terdiam dengan mulut yang terbuka.


Dan tepukan itu mampu membuat tante Tini tersadar, baru saja ia hendak beranjak dari sana, lengannya langsung ditarik secara tiba-tiba.


" Eh tunggu dulu, aku mau tanya kamu kenal orang yang bisa bantuin dekorasi sama Tata rias di sekitar sini? Sederhana aja, asal cantik!"


Dan lagi  Tini kembali melongok kalau mendengar penjelasan itu. Hingga terpaksa Oma Ranti harus melayangkan tepukan untuk kedua kalinya, karena orang yang dihadapannya ini kembali terdiam di saat ia justru terburu-buru.


" Kenapa bengong lagi sih? Kita harus cepetan ini!" Ucapnya dengan sewot.


Tini menarik nafas dengan kuat sebelum menghembuskannya secara perlahan, berusaha menenangkan diri di hadapan orang yang terlihat bingung sendiri.


Ya kebingungan itu terlihat jelas di wajah Ranti. Ditambah lagi wanita paruh baya itu tak tahu apa yang leih dulu harus ia kerjakan. Semuanya, dan harus dikerjakan saat ini juga.


" Tunggu dulu!" Tini kembali menenangkan diri dengan mengatur pernapasannya. Tangannya kini meraih pergelangan tangan sang ipar, menuntun mereka agar bisa duduk di sofa. Ia ingin berbicara dengan istri dari kakaknya ini.

__ADS_1


Di sana telah ada Armand yang memang memilih langsung duduk setibanya di rumah itu. Iapun sebenarnya bingung dengan ibunya sendiri, lebih bingung lagi jika harus menjalani hubungan yang terikata dan secepat ini.


" Tarik nafas dulu!" Tini saat mereka baru saja mendudukkan diri. " Nah begitu, sudah tenang?" Tanyanya lagi saat ia telah melihat Ranti menarik nafas sesuai anjurannya.


" Kamu kenapa? Mau ngapain? Ngomong yang jelas, biar kita juga paham." Tanyanya beruntun, kiranya Ranti telah tenang hingga ia bisa melayangkan tanya secara peruntun.


Oma Ranti terlihat baru saja menghembuskan nafas panjangnya. "Armand mau kawin!"


Ucapannya lagi-lagi mampu membuat Tini melongok. Tak percaya, jelas saja. Pria yang mereka bahas itu bahkan baru tiba tadi pagi untuk menjemput sang ibu dan anaknya yang katanya sedang berlibur. Tapi berita yang ia terima siang ini justru tentang pernikahan pria itu.


" Kok bisa?" Tanyanya lepas.


" Ya bisalah, namanya juga jodoh. Makanya kamu bantu aku buat persiapkan semuanya." Oma Ranti.


" Apa nggak bisa ditunda mah? Ini terlalu terburu-buru, aku juga harus pulang, nggak dapat izin dari kantor." Pria ini hanya memanfaatkan waktu libur akhir pekan untuk menjemput ibu dan anaknya. Namun kejutan yang ibunya berikan benar-benar membuatnya shock hingga tak mampu membantah apapun.


Dan menikah? Ia belum terpikirkan untuk itu, tapi ibunya justru terlihat sangat bersemangat. Tak ingin membuat ibunya kecewa terlebih malu dengan penolakannya hingga ia hanya bisa berdiam diri mengikuti semua keinginan ibunya ini. Ia tak tahu setelah ini, adakah kata bahagia atau tidak.


Cinta akan datang karena terbiasa, semboyan itu selalu ia katakan pada putranya ini. Lalu bagaimana dengan Laela?


" Dengan siapa?" Tini menyela ibu dan anak yang tengah berdebat ini.


" Bu guru Nur Laela, yang kemarin kamu ceritakan itu?" Oma Ranti, wajahnya tak menampakkan ada beban apapun, seolah semua ini telah direncanakan jauh hari sebelumnya.


Tini mengangguk-anggukkan kepalanya paham, iparnya itu memang membahas janda dua anak itu sejak baru saja tiba di sini. Dan ternyata inilah sebabnya.


" Oke, kamu yang mau yang seperti apa?" Tanyanya lagi memastikan, mereka mungkin memang harus bergerak cepat mengingat sang pengantin pria Tak memiliki izin libur lebih.


" Sederhana saja, tapi harus lengkap seserahan dan segala macam jenisnya."

__ADS_1


Tini kemudian mengambil ponselnya, sepertinya ia butuh bantuan orang lain agar bisa membantu kakak iparnya ini.


Setelah berbelanja yang katanya barang-barang seserahan, mereka benar-benar membagi diri agar semua berjalan sesuai permintaan Oma Ranti.


Oma Ranti akan bersiap di rumah orang tua kandung Laela, di mana telah ada orang yang telah diminta Tini untuk mengatur rumah sedemikian rupa agar nampak cantik digunakan untuk melamar.


Sementara tante Tini sendiri, dikirim oma Ranti ke rumah orang tua Nizam, di mana wanita itu akan didandani. Dari sana mereka akan menuju ke rumah Laela, tempat perhelatan pernikahan dadakan itu akan terlaksana.


Om Husman bahkan harus pulang lebih cepat, terpaksa meninggalkan pekerjaannya kala mendapat berita genting itu. Pun dengan kedua anaknya, harus ada di saat sepupunya hendak melaksanakan pernikahan yang membuat mereka sama-sama bingung.


Anak-anak aman di bawang pengasuhan Annisa beserta suaminya.


Laela yang di dampingi tante Tini dan mertuanya. Ah, apakah masih bisa dikatakan mertua setelah ini. Di sana, Armand telah duduk di dampingi Bu Ranti, calon mertuanya. Hanya membahas mertua saja, hatinya sedikit tersenggol. Apakah ia begitu tega mengganti julukan itu pada orang lain.


Kini calon pengantin itu telah sampai di dekat Armand. Duduk sebentar saja, mungkin hanya demi menenangkan hatinya. Acara dengan segera dimulai dengan ijab kabul.


Waktu berganti begitu cepat, seiring bergantinya status mereka kala kata Sah terdengar menggema secara serempak.


Di antara pembatas meja, ayah kandung Laela menundukkan kepalanya, menyembunyikan air mata. Untuk kedua kalinya, ia kembali menyerahkan putrinya pada seorang pria yang diharapkan mampu membahagiakan sang anak.


Dulu Laela bahagia, bahkan sangat bahagia. Ia pun merasa bangga dengan menantunya yang kini ia anggap telah berjulukan mendiang. Namun takdir justru memisahkan mereka.


Jangan terlalu cepat pergi! Jangan terlalu cepat meninggalkan putriku!


Doanya saat ini.


Sepasang pengantin baru itu kini telah dituntun untuk saling bersalaman. Mungkin ini adalah pertama kalinya mereka sedekat ini. Tak bisa membantah kala penghulu memerintahkan Armand untuk mengecup kening istrinya.


Istri, ya berkat ibu, kini ia telah kembali beristri. Wanita asing yang baru beberapa kali ia temui. Ia bahkan mungkin lupa dengan suara wanita itu.

__ADS_1


Kini pria itu telah pamit undur diri telebih dahulu. Pekerjaannya tak menginginkannya untuk terlalu lama tinggal di kampung ini. Menitipkan sang putri pada istri barunya.


Mimpi apa Armand semalam? Rasanya ia tak bermimpi aneh-aneh, tapi kenapa perjalanan pulang ini ia telah mengubah statusnya menjadi seorang suami dari ibu guru Sang Putri.


__ADS_2