
Armand mulai mengangkat tubuh Sang Putri memijaki kaki pada satu demi satu anak tangga membawanya masuk ke kamar. " Sikat gigi dulu!"
Mungkin dulu, itu adalah salah satu hal yang menyenangkan dilakukan bersama ayahnya. Bisa bermain air terlebih dan saling menjahili satu sama lain.
Namun malam ini dia masih menunduk berjalan menuju ke kamar mandi.
Armand hanya menikmati pemandangan itu sambil duduk di pinggir ranjang. Ia tahu anaknya itu pasti tengah merajuk dengan mendiamkannya. kini ia berpikir apa yang akan ia lakukan demi merayu sang putri tercinta.
Bahkan hingga kedua tubuh itu telah bersembunyi di bawah selimut, Meidina belum bersedia berbicara dengan sang ayah.
" Masih marah sama ayah?" Armand mulai melancarkan bujukan dengan tangan yang bergerak menepuk-nepuk ringan bokong Meidina. Gadis itu menggeleng pelan demi menjawab pertanyaan. meski begitu ia masih saja enggan bertatapan mata dengan sang ayah.
Armand sedikit terkekeh, Meidina kini bagaikan seorang gadis yang tengah merajuk pada kekasihnya.
Dasar wanita, wajah cemberut dengan bibir yang sedikit maju. Belum lagi diamnya, kekeuuuuuh bangeeeet. Pasti lama dan harus dibujuk dengan kata-kata manis hingga ternggorokan akan mengering nantinya.
Apa seperti ini dulu ibu dari anaknya ini? Kini pria itu tengah mencari kesamaan putrinya dengan istrinya dulu.
Sayangnya waktu itu mereka tak banyak berdua.
Menikah tanpa pacaran, hanya karena terbiasa bersama hingga menimbulkan kecocokan diantara keduanya. Hanya selang sebulan kemudian istrinya telah dinyatakan hamil. Hingga akhirnya kisah mereka berdua berakhir saat sang istri menitipkan putri mereka padanya, lalu pergi dan tak akan pernah kembali lagi.
Heh, kini rindu pada ibu dari anaknya telah datang bertandang.
" Maafin Ayah ya!" Pintanya lagi, suara bahkan dibuat demi mendapatkan iba dari sang anak. BUkan hanya mengharap sebuah iba semata, tapi juga karena bayang-bayang sang istri kini ikut menghukumnya.
Seandainya istrinya masih ada, wanita itu akan bertugas sebagai penenang kala dirinya tengah marah.
" Emmm, minggu depan mau jalan sama ayah?" Penawaran pertama dalam bujukannya.
__ADS_1
Meidina mengangguk dalam dekapan sang ayah.
" Kamu mau ke mana? Atau kita pergi beli mainan saja?"
Kini, Meidina menggelengkan kepala.
Bagus! Setidaknya gadis ini mau memberikan saran hingga akan terjadi percakapan diantara ayah dan anak itu. Meski begitu, dia belum mau bersuara. Hah, mungkin pria itu masih harus membujuk.
" Jadi maunya ke mana?" Armand masih memancing.
" Aku cuma mau di rumah, boleh?" Kini gadis kecil itu telah memberanikan diri menengadah demi menatap sang ayah. Perlu sekali, karena setelah ini gilirang Meidina yang akan membujuk.
" Ya boleh dong. Memangnya kenapa gak boleh?"
" Emmm, yah?" Gadis itu masih berpikir untuk mengeluarkan sesuatu yang ada di otaknya kini.
"Hemm." Tangan Armand berada di belakang terus bekerja memberikan usapan lembut dipunggung sang putri.
Belum lagi ia berencana menawarkan Izzar akan berenang di kolam renang rumahnya. Biar ramai semuanya. Ia masih berpikir, apa yang bisa Ia janjikan pada bu Laela, agar Bu gurunya itu mau ikut mendatangi rumahnya.
"Meidina, Kan ayah sudah bilang jangan terlalu dekat dengan orang asing."
Sepenggal kalimat yang mampu meredam semangat yang baru saja menggunung itu.
" Mereka bukan orang asing yah. Sofiah itu kan teman kelasku, temannya Disty juga. Kak Izzar sama Sofiah itu saudara mereka berdua anaknya bu guru. Jadi nggak ada yang orang asing."
" BOleh yah?"
Heh, Armand hanya bisa menghembuskan nafasnya secara Pelan, berusaha mengatur amarah agar tak lagi meledak-ledak di depan anaknya.
__ADS_1
"Ngak boleh Meidina. Kamu boleh minta apa saja, tapi kalau mau bawa teman ke rumah, gak boleh."
Bahkan kata terakhirpun terasa begitu menekan di indera pendengaran gadis kecil ini. HIngga gadis kecil ini berpikir apakah salah jika dirinya berteman dengan siapa saja? Lalu apa yang di takutkan oleh ayahnya ini.
"Kita tidur, besok masih sekolah kan? AYah yang antar?" Bahkan tak ada jeda dalam ucapannya yang bisa digunakan untuk gadis kecil itu menyela.
Alunan ayat suci menggema memecahkan kesucian malam menjelang fajar ini. Armand tersadar dari tidurnya, merasakan hangat saat bersentuhan dengan kulit sang putri.
Ia menoleh, memandang Meidina yang masih terlelap dengan mata yang terpejam. Ia bisa mendengar suara sang putri yang tengah mengigau samar. Tubuhnya sedikit bangkit, tangan terulur meraba kening sang putri, "Demam." Ucapnya pelan.
Pria itu sempat terdiam, memikirkan tindakannya semalam pada putrinya. Apakah ia terlalu kejam?
Ia tak menggerakkan tangannya kan?
Tidak. Pria itu menggelengkan kepala demi memastikan perlakuaannya semalam. Benar, ia tak menggerakkan tangan untuk putrinya itu.
Menatap ke arah jam, meski dengan bantuan cahaya lampu redup ia masih bisa menatap kilauan jarum jam yang menunjuk pada angka empat. Masih terlalu dini untuk membangunkan ibunya.
" Sayang, maafkan ayah!" Ucapnya lagi sambil menjatuhkan bibir ke kening ratunya.
Hingga pria itu harus bergerak sendiri menyediakan handuk kecil beserta air hangat untuk digunakan mengompres sang putri tercintanya.
Setetes air mata menetes di sudut mata Meidina.
"Sayang, apa yang sakit?" Tanya pria itu dengan jari yang bergerak memijat pelan kening sang putri. Ia hanya bisa menebak mungkin kepala putrinya ini sedang sakit.
Tak bisa ia pungkiri, jika ada sedikit sesal dalam hatinya kala menyadari betapa keras ucapannya semalam.
Hanya demam seperti ini, namun seperti mampu mengiris hatinya. Pilu rasanya melihat putri kecilnya mengigau demi menghalau rasa sakitnya.
__ADS_1
Perasaan rindu pada sang istri yang semalam bertamu kini kembali datang mengetuk, bahkan kini telah menyambar-nyambar hatinya.
Seandainya, kekasih halalnya itu masih ada, mungkin kegiatan seperti ini akan diambil alih.