Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Ikhlaskan!


__ADS_3

Kumandang azan menggema memecah sunyinya malam. Pertanda malam telang berakhir berganti dengan subuh. Saling sahut-menyahut yang membuat mereka yakin masjid dekat dari tempat mereka lebih dari satu.


"Yah, bangun yah. Mau shalah di masjid gak?" Laela yang sedang mengguncang pelan pundah ayahnya. Rasa iba muncul ketika tubuh renta itu harus terbaring di atas lantai hanya dengan selembar karpet bulu, empuk namun tak seempuk kasur.


Semalam sempat terjadi perdebatan antara Laela dan sang ayah tentang siapa yang akan tidur di depan kamar. Sayangnya semua mau mengalah, rela mengorbankan tubuh demi anggota keluarga yang lain merasakan empuknya kasur.


DAn Laela tak bisa berbuat apa-apa saat ayah lebih dulu membaringkan tubuhnya di samping Mansyur yang telah terlelap lebih dulu. Jadilah Laela masuk ke kamar bergabung dengan ibu dan Izzar. Mereka memilih menginap sekeluarga demi mengetahui lebih jauh tempat tinggal sang putri bontot.


"Yah, bangun yah. Pindah di dalam aja deh!"


"Kak, bangun dulu. Shalat dulu baru pindah tidur di kamar yah! Di sini dingin." Laela beralih pada tubuh sang kakak, mengguncang pelan.


Rasa iba begitu kuat saat melihat keluarganya berkorban sejauh ini. Sekalipun ia telah berkata baik-baik saja jika harus hidup hanya berdua dengan putranya, mereka masih saja mengkhawatirkan Laela.


Kemarin sore, bahkan ibu dan ayah sempat bertamu pada seluruh penghuni kompleks sekolah, membawakan buah tangan sekaligus menitipkan Laela pada mereka.


Kata ibu, biar ada yang jagain.


Ya ampun, segitu berharganya seorang anak perempuan itu di mata keluarganya.


Dan hari ini, rencananya mereka akan keluar jalan-jalan sekaligus mencari kebutuhan-kebutuhan untuk Laela dan Izzar selama tinggal di sini. Terutama tv yang telah dijanjikan oleh kak Mansur pada keponakannya.


Mungkin ini jadi yang pertama Laela kembali jalan bersama keluarganya setelah menikah. Tak pernah sampai berkumpul seperti ini hanya untuk jalan-jalan bersama. Hanya sekedar makan bersama, atau ke pasar bersama ibu saat ia datang berkunjung ke rumah orang tuanya.


Apakah ia harus bahagia untuk hal ini atau bersedih? Seperti dipulangkan pada keluarganya.


Seandainya ada Bang Nizampun, mereka tak kan pergi bersama seperti ini. Pasti ia akan pergi bersama suami dan anaknya saja.


Suasana di sini jauh lebih ramai jika di bandingkan dengan tempat tinggalnya bersama Nizam, Jelas saja di sini kota dan di sana pegunungan. Lebih lengkap, hampir semua yang ia butuhkan ada di sini, dan semuanya butuh cuan.

__ADS_1


Ia pernah bermimpi, setelah kuliah tempat ini menjadi tujuannya dalam mencari kerja. Menjadi wanita karier dengan pakaiannya yang modis dan ****!.


Dan di sinilah ia berada dan akan tinggal. Tapi dengan cerita yang berbeda. Kini ia seorang guru dengan kain yang menutupi seluruh tubuhnya. Dan semua itu sesuai keinginan suaminya yang kini entah di mana. Menanti pria itu, hendak menunjukkan prestasinya.


"Boleh bu?"


Suara sang putra membuatnya tersadar dari lamunannya. Di tangannya ada satu set mainan pesawat superw!ngs, kecil tapi lumayan menguras dompet jika membelinya sekaligus. Pandangan mata bocah pria itu terlihat begitu teduh dan penuh pengharapan.


Hanya butuh kata iya dari Laela saja, membuat mainan itu kini telah beralih menjadi miliknya, Laela pun tak perlu mengeluarkan uang. Karena itu merupakan hadiah dari Mansyur. Habis berapa kakaknya itu sekarang?


Menjadikan Laela kini merasa sungkan pada keluarganya ini. Kak Mansyur memiliki keluarga sendiri, dan ia tidaklah menjadi tanggungan pria itu. Ada rasa bersalah dan hendak berterima kasih pada istri kak Mansyur.


Kembali pulang ke rumah sekolah dengan sama lelahnya. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali menginap di rumah ini sambil menunggu antaran barang-barang yang memang harus di tata. Tak ingin meninggalkan Laela dalam keadaan bingung sendiri dengan barang-barangnya.


Beruntung, kasur busa turut ada dalam list belanja, membuat tubuh ayah dan Mansyur tak terlalu pegal . Memang sengaja sebagai persiapan ketika mereka kembali menginap di sini. Izzar memilih bergabung tidur dengan kakek dan om kesayangannya, mungkin sebagai ucapan terima kasih telah dibelanjakan banyak barang.


Di saat rumah Laela telah siap dengan segala perabot dan perlengkapannya.


Berdiri di depan mobil yang telah siap kembali melaju membawa keluarganya kembali ke kampung halaman, meninggalkan dirinya dan sang putra diperantauan.


Salim dan pelukan hangat sebagai stok rindu Laela pada kedua orang tuanya.


Hingga tiba tubuhnya direngkuh oleh sang kakak.


"Jaga diri baik-baik!"


"Iya, aku dah besar. Ada Izzar juga sama yang lain kok."  Masih berusaha memberitahu kakaknya bahwa ia baik-baik saja.


"Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi kita."

__ADS_1


"Bukan kalau ada apa-apa saja, tapi selalu hubungi ibu, kalau perlu tiap hari, biar ibu bisa tenang melepaskan kamu di sini." Ibu sambil menepuk pelan dadanya. Risau saat kembali mengingat putrinya harus jauh diperantauan.


Izzar masih kecil, belum bisa dilimpahkan kewajiban menjaga sang ibu.


"Ikhlaskan!"


Hanya satu kata, namun mampu membuat air mata Laela meluncur bebas begitu saja. Pelukan itu tiba-tiba mengencang, kedua tangan ikut memberi tekanan dipunggung sang kakak.


Kata yang begitu sulit ia terima.


Sulit, sulit sekali menerima kata ikhlas itu.


Mansyur tahu, adiknya ini masih mengharapkan kehadiran Nizam kembali ke sisinya.


Pengharapan yang begitu dalam dan sangat.


Pengharapan yang entah kapan akan terkabul.


"Dia akan kembali kak, tenang aja!"


Segala kata diucapkan dengan sangat pelan namun begitu terasa dalam.


Betapa besarnya cinta Laela pada Nizam, hingga iapun menepis segala kemungkinan-kemungkinan buruk yang menimpa suami.


Nizam baik-baik saja.


Nizam akan kembali.


Keyakinan yang ia tanamkan begitu dalam pada sanubarinya.

__ADS_1


__ADS_2