Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Abang Rindu!


__ADS_3

Setelah dua hari di rawat di Rumah sakit, akhirnya ibu dan bayi itu bisa di bolehkan untuk pulang. Dan keluarga lebih memilih membawa Laela pulang ke kampung, sekalian menghabiskan waktu cuti melahirkan hingga tiga bulan ke depan.


Rumah ibu dan bapak kembali ramai, bayi mungil nan cantik itu menjadi salah satu alasannya. Laela lebih memilih kembali ke rumah mertuanya, di sini Ia memiliki banyak kenangan yang bisa ia gunakan demi melepas rindu pada sang kekasih hati.


Sofiah Ardirina binti Nizam, nama yang dipersembahkan oleh sang kakek untuk bayi Laela.


Keluarga mereka datang silih berganti semakin meramaikan rumah sederhana ini. Miyah yang juga pulang pada akhir pekan ini, sambil membawa suami dan juga dua anaknya menambah jumlah bocah dengan segala keruwetan.


Ridwan dan Izzar, menjadi penjaga di antara bocah itu.


Suara langkah kaki yang saling berkejar-kejaran, dengan suara bocah beraneka ragam. Ada yang tertawa, ada yang mengomel dengan suku bahasa yang dirinya dan sang Ibu ketahui,


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jauh di seberang lautan sana.


"AKu pergi melaut dulu!" Pamit Nizam. Aktifitasnya kini bukan lagi sebagai salah satu dalam tim pasukan orange, tapi bergabung dengan para nelayan lain untuk mencari ikan di laut. Selanjutnya hasil dari melaut akan mereka jual ke pasar dan sebagian lagi untuk dikonsumsi.


Sandrina mengangguk, tak lupa mengulurkan tangan pada pria yang baru beberapa hari lalu menjadi suaminya.


Senyum berupaya ia persembahkan meski hatinya, entah harus bagaimana.


Dulunya ia adalah seorang gadis yang sangat cantik, dengan seorang pria yang menjadi tambatan hati yang setia berada di sampingnya.


Gadis yang dulunya sangat cantik itu kini terlihat sedikit kusam. Jangankan untuk membeli berbagai macam skincare, untuk kebutuhan sehari-hari pun mereka harus menunggu Nizam pulang dulu.


Entah dosa apa yang pernah ia lakukan di masa lalu hingga alampun turut menghukumnya. Sabar dan ikhlasnya tengah di uji kini.


Bukan ia tak menerima Nizam sebagai suaminya.


Ia akui, pertama kali melihat pria itu saat baru saja tersadar akibat terseret terpaan ombak dasyat itu,  ia sempat memuji paras dan postur tubuh yang tinggi tegap milik Nizam. Tapi bukan berarti ia tertarik dan jatuh cinta pada pria itu.


Belum lagi perigai yang sangat baik selalu ia dapatkan dari pria bertanggung jawab seperti Nizam.


Kini pria itu telah menjadi suaminya. Ia harus bisa mempersembahkan yang terbaik untuk Nizam.


Hah, yang terbaik?


Dirinya sendiri saja tak bisa di urus. Untuk berpindah ke tempat lain saja ia harus menyeret diri. Beberapa bulan mendapat penanganan dari warga kampung dengan pelayanan tukang urut, namun hasilnya? Heh!


Meski begitu ia harusnya masih harus bersyukur, ia masih dijinkan menghirup udara meski dengan kehidupan yang  berputar seratus delapan puluh derajat.


Gadis itu masih menikmati punggung Nizam mulai menjauh dari pandangannya. Hembusan keras terdengar dari hidungnya sebelum ia berbalik dan menyeret tubuh masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Jangan bayangkan tubuhnya bergesekan dengan lantai keramik yang licin, tapi hanya karpet plastik yang hanya menutup sebagian rumah saja, dan itupun  hasil dari sumbangsih warga yang iba pada keadaannya.


Pulang?


Kata yang begitu sulit untuk ia dapatikan kini.


Sejauh mata memandang, di depan sana hanya ada laut.


Untuk melintasi jalanpun harus menggunakan cuan yang tidak sedikit, dan mereka tak punya itu.


Miris sekali hidupnya kini.


Ingin menangis tapi air matanya mungkin telah kering, bahkan boleh dibilang ia telah terbiasa dengan keadaannya beberapa bulan belakangan ini. Melupakan cintanya dulu pada seorang pria, dan berusaha menerima Nizam sebagai suaminya.


Putus asa dirinya kini.


Sambil menanti sang suami pulang melaut, ia mencoba menyiapkan santapan untuk sang suami nantinya.


Hingga Nizam kembali muncul saat lembayun merah diufuk barat. Sandrina menyambut sang suami di depan rumah.


"Eh kok! Kenapa di sini?"


Tanya Nizam saat gadis itu mengulurkan tangannya.


"Mau masuk?"


"Eh." Gadis itu tercengang saat Nizam justru menggendongnya sambil berjalan masuk ke dalam.


Jangan lagi tanyakan bagaimana jantungnya bekerja saat ini.


"Maaf!" Nizam saat mendudukkannya di atas karpet dalam rumah. Pria itu hanya ingin membantu saja tanpa berniat apapun. Iapun tahu jika gadis ini mungkin sedikit risih dengan tubuh mereka yang saling menempel seperti ini.


"NGak pa-pa kok!" Rina berusaha tersenyum menghilangkan kecanggungan antara mereka. Bukannya mereka suami istri? Lalu mengapa harus meminta maaf.


"AKu sudah masak kak!" Ucapnya lagi.


"Oh ya?" Nizam yang hendak berlalu membersihkan diri kini berhenti dan kembali berbalik. "Kenapa gak tunggu aku saja!" Pria itu tak ingin memberatkan gadis ini.


" Kan masaknya buat kakak, kalau sudah pulang. Pasti laparkan? AKu siapkan dulu!"


"Gak usah, bentaran aja. Nanti abis magrib, biar sama aku aja."


Gadis itu hanya mengangguk, meski dalam hati berniat akan tetap menyiapkan santapan malam untuk Nizam.

__ADS_1


Benar saja, selepas pulang dari surau, makanan telah tersaji di atas lantai karpet itu. Membuat Nizam tersenyum, rasa tak enakpun tak bisa ia bantahkan.


Tak sampai di situ, Rina bahkan menyiapkan nasi pada piring NIzam, membuat pria itu mengukir senyum saat menerima piringnya.


Selepas santap malam, Nizam mencoba menata kasur kapuk yang akan digunakan Sandrina untuk tidur.


" Kamu tidur yah!" Matanya memandang pada gadis itu. Meski canggungpun gadis itu masih tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Kakak mau ke mana?" Tanyanya saat NIzam justru berlalu.


"Cuma di luar, belum ngantuk!"


Nizam kini telah duduk di atas balai-balai depan rumahnya yang terbuat dari bambu. Kepala menengadah ke atas, menatap awan kelabu seolah menggambarkan hatinya saat ini.


Rindu yang menghukum jiwa seolah sangat menyiksa untuk ia nikmati.


Pria itu tengah merutuki nasibnya. Sepanjang ingatannya dalam menghadapi kehidupan, ia tak pernah berbuat zalim, tak pernah berbuat Ingkar, tak pernah berbuat yang dapat merugikan orang lain.


Tapi mengapa nasibnya seperti ini?


Hukuman macam apa yang kini ia hadapi?


Apakah merutuki nasib termasuk sebuah kezaliman?


" Laela." Nama yang sering ia ucapkan.


" Gimana kabarmu dek?"


" Abang rindu!"


" Izzar sudah sekolah kan? Sekolah di mana? Pasti sama Ridwan kan?"


" Laela!"


Ia hanya bisa menyebut nama itu. Mempertahankan paras cantik sang istri dalam hatinya.


" Maaf kan abang!"


" Abang sudah menikah lagi!"


" Abang tak bisa menolak takdir. Jika suatu saat nanti kamu tau, abang mohong, jangan marah sama abang!"


" Maafkan abang yang tidak bisa menjaga diri. Maaf kan abang yang tak bisa menjaga kepercayaan kamu!"

__ADS_1


"Laela!"


" Abang rindu!"


__ADS_2