
" Kakak!"
Suara teriakan itu disusul dengan tubuh mungil yang langsung menubruk tubuh Izzar.
Anak lelaki itu hanya melongok saat seorang anak perempuan dengan pakaian seragam merah putih telah mendekap tangannya.
Laela dan Sofiah yang berjalan di depan turut berpaling kala mendengar panggilan itu, namun setelahnya mereka hanya bisa melongo melihat pemandangan lelaki mereka kini telah berdekatan dengan seorang anak perempuan yang rasanya belum mereka kenal, bingung sendiri sebenarnya.
" Maaf bu guru, ini Meidina, dia temennya Disty dan mulai ikut sekolah di sini mulai hari ini." Ninis mulai memperkenalkan anak majikannya pada wali kelas satu.
Laela tersenyum sambil menganggukkan kepala, " Oh ini yang namanya Meidina, cantik sekali."
Cantik memang, dan ini bukan hanya sekedar pujian kosong semata. Kulit putih mulus dengan rambut lurus hitam bergelombang semakin memancarkan kecantikannya bahkan sekecil ini.
Terlebih saat gadis kecil itu tersenyum, sangat manis dan imut.
Bu guru ini memang telah menerima info terkait adanya siswa baru yang akan masuk ke dalam kelasnya. Laela kembali memandang Izzar yang hanya diam ketika tangannya di peluk dan diayun-ayunkan, terlalu dekat menurutnya.
Sorot mata tajam itu seolah melayangkan tanya pada sang putra ," Siapa?"
Ah, sebentar saja akan ia kupas tuntas pada sang anak.
Sofiahpun sama, sorot matanya hendak melayangkan protes kala tangan kakaknya, "Itu kakakku!"
Namun suara bel berbunyi tanda masuk mengharuskan mereka meredam semua rasa penasaran terlebih dahulu.
Pun dengan Izzar. Remaja tanggung itu menunduk, mulai melepaskan tangan Meidina di lengannya. " Bel sudah bunyi, Kakak ke kelas dulu yah! Kamu juga, belajar yang rajin biar jadi putri yang cantik dan pintar!" Satu tangannya bergerak di atas pucuk kepala sang gadis kecil.
Meidina mengangguk kecil, turut berbalik menikmati pemandangan tubuh Izzar yang menjauh meninggalkannya. Berharap istirahat nanti kakak barunya itu akan mendatanginya di sini.
"Oooh itu anak cowoknya." Oma yang turut mengantarkan sang cucu dihari pertama di sekolah barunya kini telah bisa menebak alasan cucunya itu memilih pindah sekolah.
Karena seorang anak pria yang memberikan perhatian berikut dengan sanjungan memabukkan, tapi setelahnya anak pria itu pergi tanpa menoleh lagi pada cucunya. Terlalu nampak jika semua perhatian yang diberikan anak pria itu adalah hanya sebuah penenang pada cucunya, tak lebih.
" Iya nya." Ninis menjawab dengan kepala yang ikut mengangguk. Pandangan dua wanita itu masih terarah pada sosok anak pria itu yang kini telah masuk dalam barisan di depan kelasnya.
__ADS_1
Sementara Laela mencoba menangkap pembicaraan dua wanita itu yang kini mengarah pada putranya. Rasa penasaran semakin merajalela dalam hatinya.
Apa gerangan yang telah putranya lakukan? Berharap semoga Izzar tak bertindak diluar batasnya.
Sambil menyiapkan barisan anak-anak didiknya yang di dalamnya juga ada putri kandungnya.
" Yang lebih tinggi di belakang yah!" Ia berusaha mengatur siswa dengan sedikit lirikan pada dua orang wanita yang masih berada di sana.
Wanita paruh baya itu terlihat tampil cantik dan elegan dengan semua pakaian yang melekat ditubuh nampak lebih mahal dari miliknya. Dalam hati mencoba menebak dari kalangan mana beliau berada.
Rasa penasaran semakin menjadi kala mendengar wanita itu membicarakan tentang putranya.
\======
" Kakak." Lagi suara teriakan gadis kecil membuat Izzar menoleh seketika. Sepertinya suara itu telah terbiasa menyentuh gendang telinganya. Ketika pandangannya mulai menangkap sosok gadis mungil itu, Izzarpun langsung tersenyum.
Niat awalnya mendatangi kelas 1-B untuk menengok sang adik barangkali membutuhkan bantuannya, namun niatnya langsung berbelok seketika berhadapan dengan gadis kecil nan manis ini.
"Hai, apa kabar putri cantik." Kalimat basa-basinya.
"Kabar baik kakak ganteng!" Meidina bahkan memiringkan kepala dengan binar bahagia dan senyum di wajahnya.
"Kak, aku sudah pindah ke sekolah ini loh!" Ucapnya dengan bangga.
"Oh ya?" Padahal memang telah tahu, kan tadi pagi sudah ketemu. Namun Izzar masih meladeni basa-basi gadis kecil ini. "Kenapa pindah? Memang dulunya sekolahnya di mana?"
"Emm, di mana yah? Lupa kak, hehehehe."
Disty jadi bingung sendiri, antara ingin menyahut tapi ia tak tahu apa yang akan ia ucapkan. Sepenggal kalimat dari orang-orang terdekatnya kini bersarang di otaknya. Jangan dekat-dekat dengan orang yang tidak di kenal!"
Namun melihat temannya enteng saja, diapun mencoba untuk bersikap biasa saja. Wajahnya langsung berbinar kala melihat ibu dan oma DIna mendekat ke arah mereka. Mungkin ke dua orang dewasa itu mau menyelamatkan mereka.
Entah mengapa oma dan NInis langsung berpikiran negatif kala melihat anak lelaki ini lebih memilih mendatangi Dina dibandingkan menikmati jam istirahat dengan bermain bersama teman-temannya sendiri.
" KAmu siapa?" Oma yang tak bisa lagi menawar rasa penasarannya.
__ADS_1
"Oh, maaf bu." Hanya seperti itu lalu Izzar meninggalkan mereka semua yang hanya bisa melongok.
Baginya, tak ada urusan sebenarnya dengan mereka semua, meski dengan gadis kecil cantik ini. Dia tahu kedua wanita ini adalah keluarga Meidina.
Izzar berjalan mendekati adiknya, adik kandungnya.
" Udah jajan?" Tanya dengan penuh perhatian. Tangan yang baru saja merogoh kocek keluar dengan selembar uang dua ribu lalu memberikannya pada sang adik.
Setelah itu ia kemudian berbalik, dan tanpa sepatah kata meninggalkan tempat itu dengan begitu banyak pertanyaan yang gentayangan padanya.
" Itu siapamu?" Meidina saat melihat Sofiah yang melintas di sampingnya. Gadis ini hendak menikmati minuman dingin sashetan yang ada di warung sekolah.
" Itukan abangku. Kamu yang siapa, panggil-panggil kakak sama kakakku?" Ia merasa tak punya saudara lain, dan saingan untuk sang kakak. Tak bisa dipunggkiri ada rasa kesal saat kakaknya diakui oleh orang lain yang tidak ia ketahui.
" Oma sih. Kenapa ke sini sih?" Hingga akhirnya Meidina merajuk.
" Oma juga kenapa kak Izzar harus ditanya-tanya sih?" Dan semua kesalahan ditujukan pada omanya.
Jika saja omanya tak mendatanginya dan bertanya pada Izzar, mungkin anak lelaki itu akan tetap menemaninya di sini. Belum lagi saat Izzar lebih memilih mendatangi anak lain dari pada dirinya. Kemudian seorang anak yang mengaku sebagai adiknya Izzar, jelas menjadi saingan untuknya.
Dan semua itu menimbulkan kekesalan tersendiri pada gadis kecil ini. Ia masih ingin bersama dengan Izzar. Ia masih ingin mendengar pujian itu. Tapi semuanya buyar karena kehadiran omanya.
" Besok gak usah masuk ke sini oma." Rajuknya berlanjut.
" Kan cuma mau temani DIna di sekolah baru." Oma dengan sangat lembut, sudah bisa menebak ke arah mana pemikiran cucunya kini.
" Teman-temanku yang lain juga gak ada yang dijagain sama omanya."
" Disty juga gak dijagain ibunya, kalau aku gak ada di sini."
" Ya itu karena mereka sudah terbiasa dengan sekolah ini. Eh, tapi adakok ibu-ibu di sana." Oma menunjuk kearah sebuah pohon besar yang dikelilingi dengan bangku-bangku.
Di sana ada beberapa wanita yang sedang duduk sambil bercengkrama, jelas mereka juga sedang menanti anak-anak mereka.
" Ya kan tapi gak ke kelas juga oma." Wajah imut itu telah memberenggut saja. Dirasanya omanya tidak mengerti dengan keinginannya saat ini.
__ADS_1
"Iya-iya, nanti oma duduk di sana saja."
Hingga hari-hari kemudian, oma tak lagi masuk ke kelas sang cucu. Lebih memilih mengamati dan menjaga dari jarak aman saja.