
" Katanya kamu mau punya kegiatan yang lain?"
Nizam pada istrinya. Mereka kini telah duduk berdua di atas balai balai depan rumah, menikmati malam dengan bintang-bintang yang beraburan di atas langit. Pemandangan yang sedikit sulit untuk Sandrina nikmati sewaktu masih hidup di kota.
Sandrina merebahkan tubuh dengan berbantalkan pada Nizam. Sementara pria itu membelai lembut rambutnya.
Tak ada TV yang bisa mereka nikmati demi mengusir kebosanaan di malam hari.
Waktu bersama nyatanya benar menciptakan cinta di antara mereka berdua. Cukup bersyukur sedikit saja, maka hiduppun akan terasa lebih mudah. Dan tentunya, saling menerima kekurangan masing-masing pasangan.
" Apa?" Mata wanita itu telah terpejam, sentuhan lembut tangan lebar Nizam mampu mengantarnya hingga ke jembatan mimpi. Tapi pria itu justru menemaninya berbicara. Ah, biar saja, meski tak tertidur pun Nizam akan tetap mengangkat tubuhnya, saat mereka akan masuk ke rumah.
" Pak dusun bilang, kita bisa membangun sekolah darurat di dekat sini. Cuma butuh pengajar saja. Bukunya nanti akan di minta!" Pria itu telah berbicara dengan Pak Dusun tempat mereka tinggal sekarang. Ia hanya ingin memberikan kehidupan lain pada gadis ini.
Bisa menjadi berguna bagi banyak orang, dan setidaknya tidak merasa berputus asa dengan kehidupan mereka kini. Mungkin dengan ini pula, bisa membangkitkan semangat hidup dalam diri Sandrina meski hanya sedikit.
Dan benar saja, mata yang tadinya telah terpejam itu kini telah terbuka lebar.
"Maksudnya?"
" Kemarin kita sudah bicara tentang sekolah darurat untuk anak-anak, dan mereka minta kamu buat jadi guru. Kita cuma tinggal buat tempat untuk kelasnya. Dan mereka minta kamu untuk jadi gurunya."
Mendengar panjang lebar Nizam yang berbicara, membuat gadis itu mengangkat kepalanya. Kantuk yang tadinya telah datang menyerang bahkan kini telah pergi tanpa pamit.
"Kok aku?"
" Kan kamu yang sekolahnya paling tinggi di sini."
Mayoritas penduduk sini hanya sampai pada jenjang pendidikan sekolah dasar, Sangat tinggi hanya sampai tingkat Sekolah menengah pertama. Jarak tempuh sekolah dan medan yang dilalui kala hendak menempuh pendidikan sangatlah jauh dan sedikit sulit untuk di lalui setiap harinya.
__ADS_1
Itu pun hanya mereka yang memiliki semangat yang tinggi saja, atau memiliki kerabat di luar kampung ini yang bisa sampai pada jenjang berikutnya.
"Terus abang ngomong apa sama mereka?" Sandrina.
" Ya aku cuma bilang, tunggu ya pak, saya tanya istri saya dulu!"
" Tapi ya gitu, ...? Jangan berharap gaji dulu."
" Kan kamu tau sendiri keadaan di sini. Tapi kalau kamu mau, mereka mungkin akan mengusahakan agar kamu tetap mendapatkan jatah meski bukan berupa uang."
" Abang kok ngomong kayak gitu sih?" Tersinggung sekali saat dirinya dianggap benar-benar matre di tengah kalangan masyarakat yang tak berpunya seperti ini.
" Ya terus harus ngomong apa dong? Aku gak mungkin ngambil keputusan sendiri, sementara itu semua kamu yang akan menjalankannya."
" Ya tapi ngak usaha bahas tentang gaji juga kaliiiiii." Jawannya dengan kesal.
" Bukan aku yang bahas masalah gaji! Tapi bapak-bapaknya, katanya nanti disesuaikan saja." Tangannya membantu Sandrina untuk bangkit dari baringnya. Pembaringan mereka saat ini sepertinya akan serius.
" Ya bilang aja gak usah! Abang kayak mau ngambil kesempatan dari kesempitan orang lain aja." Matanya mendelik ke arah Nizam.
" Iya-iya nanti aku ngomong sama mereka. Jadi gimana, kamu mau kan?"
" Apa aku bisa? Lagian aku juga kayak gini!" Pandangan matanya turun ke bawah, ke arah kaki yang sampai sekarang tak bisa ia fungsikan. Ingin sekali ia turut membantu, siapa tahu melalui dirinya kampung ini akan maju perlahan, tapi kondisi tubuh belum memungkinkan.
" Kamu cukup mengajari mereka membaca, menghitung, dan ilmu pengetahuan dasar lainnya. Bukan mengajak mereka lomba lari."
PLAK.
" Abang gimana sih, orang bicara serius juga." Telapak tangannya mendarat di pundak Nizam, kesal juga lama-lama.
__ADS_1
" Kamu mengajar cukup menggunakan mulut dan tanganmu, jika tak sanggup dengan itu, sudah gak usah. Kamu juga harus melakukan semuanya sesuai dengan kemampuanmu kan?" Tak menutup kemungkinan nanti Sandrina akan menghadapi orang yang dengan karakter tak bisa diatur hanya dengan perkataan saja. Tapi di sini Nizam tak ingin gadis itu terlalu memaksakan dirinya.
" Gimana?"
" Iya aku mau. Tapi apa aku bisa jadi guru untuk mereka. Masalahnya jurusanku buka keguruan?" Bimbang dengan kemampuannya sendiri. Ia pun tak tahu dan tak berpelaman dalam bidang itu. Takut jika ia justru mengecewakan penduduk kampung yang menaruh harapan pada mereka.
"Kalau abang gimana?"
" AKu mau kamu ngajarin mereka." Mata pria itu mengambarkan sebuah pengharapan yang sangat besar.
" Masalah pengalaman, bukannya semua orang akan menghadapi semuanya dengan kata pertama kali dulu, baru setelahnya akan menjadi sosok yang berpengalaman."
"Aku akan membantumu!"
Bukankah sedari dulu ia begitu menginginkan istrinya adalah seorang guru? Bukan tentang pendapatan atau status, tapi jujur ia begitu memuja profesi guru yang begitu sabarnya menghadapi berbagai macam karakter manusia yang ada. Mengajarkan ilmu pada mereka hingga bisa menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya.
Mendapatkan sebuah pengharapan besar dari seseorang, benar saja mampu mendobrak semangat gadis lumpuh itu. Gadis itu menganggukkan kepalanya mantap. Terlebih kata terakhir Nizam, membantunya. Artinya mereka berdua, dan ia tak sendiri.
Berbicara tentang guru, pikiran Nizam melayang jauh menembus lautan. Bagaimana keadaan Laela saat ini? Bukankah sebelum kepergiaannya Laela telah mendaftarkan diri menjadi ASN sebagai seorang guru? Diterimakah atau gagal?
Rindupun kembali menghantam jiwanya, dengan segala bentuk kekhawatiran yang ada.
Mungkinkah Laela merasa kehilangan dirinya? Setiakah Laela menunggunya pulang yang entah kapan itu terjadi. Atau justru Laela tengah mencoba membuka hati kembali demi menggantikan dirinya.
Bagaimana keadaan putra mereka saat ini? Bagaimana Laela membimbing Izzar dalam menjalani hidup?
Apakah Tuhan masih berkenan memberikan mereka kesempatan untuk bertemu lagi?
Ditengah kepasrahannya tentang jalan hidup ini, nyatanya ia masih berharap penuh tentang perubahan. Setidaknya bisa kembali berkumpul dengan keluarganya.
__ADS_1