Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Seorang Putri


__ADS_3

Waktu terus berputar, membawa mereka pada satu kebiasaan dalam hidup masing-masing.


Kepingan-kepingan rindu yang tertinggal pada hati yang merena, membuat diri jauh lebih kuat dalam menghadapi kerasnya hidup.


Laela didampingi dengan putranya tercinta telah mampu melewati hidup bersama gadis kecil mereka tanpa seorang ayah yang harusnya menjadi punggung hidup mereka. Tempat bersandar yang tak ada, berganti dengan pelukan-pelukan penguat antar ketiga ibu dan anak itu.


Izzar yang kini telah memasuki tahap menjadi remaja tanggung, menjadi anak yang bertanggung jawab terlebih pada ibu dan adik perempuannya.


Sofiah kini telah menjadi bocah cantik menggemaskan. Dengan tas boneka di belakang punggungnya, ia berjalan dengan tangan yang terulur menggandeng tangan sang ibunda menuju ke kantor sekolah. Hari ini ia akan ikut mendaftarkan diri menjadi siswa baru di sekolah tempat ibunya mengajar.


Meski tinggal di dalam lingkungan sekolah, namun gadis kecil ini ingin tetap cantik di pandangan orang-orang. Jilbab menambah kesan mungil wajah cantiknya namun justru semakin terlihat menggemaskan. Kedua perempuan itu telah masuk, ikut bergabung dengan ibu-ibu dan anak-anak yang lain.


Sementara Izzar memilih duduk di taman sambil menunggu sang ibu. Pandangannya menikmati hilir mudik orang-orang di hadapannya.


BUG.


"Eh." Anak lelaki itu seketika bangkit dari duduknya kala seorang gadis cilik terjatuh tepat di hadapannya.


"Kamu gak pa-pa cantik?" Tanyanya mencoba merayu agar gadis kecil itu tak menangis. Tangannya meraih tangan mungil itu guna membersihkannya dari debu-debu lantai yang telah berpindah.


Memang tak menangis meski bibir bawahnya telah memble dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Gak pa-pa kan? Ya udah berdiri yuk!"


Izzar mengangkat kepala pada seorang wanita muda yang mungkin ibu atau tante dari anak ini, tak lupa tersenyum dengan tangan yang terulur menyerahkan tangan mungil milik sang gadis kecil itu. Dan seketika itu pula tangis bocah itupun pecah ketika berada dalam pelukan ibunya.

__ADS_1


" Gak pa-pa! Gak pa-pa! Jangan nangis yah, nanti kita obati!" Bujuk wanita itu sambil menggendong dengan bergoyang ke kiri dan ke kanan. Mungkin merasa memiliki sandaran gadis itu masih saja menangis. Hingga Izzar kembali maju demi ikut membujuk sang gadis kecil.


"Waaah, bajunya cantik yah, seperti baju putri." Mulai melancarkan kata-kata mutiaranya.


Gaun indah berwarna biru langit dengan beberapa ornamen yang membuat baju itu seperti mengkilap, dengan bawahan model A yang akan mengembang jika ia berputar, memang menampakkan penampilan seperti seorang putri.


Rasanya tak cocok jika hanya digunakan untuk mendaftar sekolah seperti sekarang ini. Tapi yah namanya juga anak-anak kadang tak ingin menerima logika dan pendapat orang lain meski itu ibu sendiri.


Gadis kecil itu mulai mengangkat kepalanya memandang orang yang telah memuji dirinya dan juga bajunya, jelas saja gadis polos itu merasa tersanjung.


" Tapi kalau mau jadi putri itu harus kuat, gak boleh nangis yah. Kan kalo nangis bisa-bisa cantiknya jadi hilang." Izzar masih melancarkan aksinya dengan rayuan mautnya.


" Tapi ada kok putri nangis." Protes sang gadis.


"Iya boleh nangis, tapi cantiknya lunturkan kalo nangis. Makanya adeknya jangan nangis yah biar cantiknya tetap awet."


"Mana yang sakit sayang?" Lanjut pemuda itu.


Si ibu justru membiarkan Izzar merayu anaknya. Memberi ruang pada anaknya untuk menunjukkan bagian tubuhnya yang sakit. Menyibak roknya, memperlihatkan lututnya tergores sedikit, pasti itu akan sangat sakit untuk anak seumuran dia.


Heh, Izzar hanya bisa mengeluh dalam hati kala mengingat perkataan ibunya yang selalu rajin memakaikan celana panjang pada Sofiah, minimal lutut tersembunyi, katanya biar jatuh gak langsung lecet. Dan kata-kata ibu itu kini ingin ia terapkan pada gadis kecil ini.


Membawa tubuh mungil itu menuju ke tempat duduknya semula,  duduk memangku dengan mulutnya komat-kamit seperti sedang membaca doa meniup-niup lutut yang tergores itu. Hanya agar gadis kecil itu yakin padanya.


"Udah sembuh?" Tanyanya lagi.

__ADS_1


Dan ajaibnya gadis kecil itu menganggukkan kepalanya demi menjawab pertanyaan.


" Waaah hebat!" Pujinya lagi, kini dilengkapi dengan tepukan tangan.


" Selain cantik kamu juga kuat yah! Sudah pas jadi putri." Dengan senyuman masih membujuk.


" Nama kamu siapa cantik?"


Dipanggil seperti itu, bocah itu tersenyum manis. Ah bukan tapi tersipu dengan menunduk malu-malu. " Dina." Jawabnya lirih.


" Namanya Meidina, biasa dipanggil Dina."


" Dia anak majikan saya. Saya bawa ke sini karena mau daftar anak saya sekolah di sini juga."


Ah, terjawab sudah meski Izzar tak mengajukan pertanyaan satupun.


" Waah, namanya juga cantik, seperti nama putri."


"Memang ada nama putri Medina?" Tanya gadis kecil itu. Matanya memandang dalam ke arah Izzar sambil menunggu jawaban. JIka ada, mungkin itu akan menjadi salah satu alasan kebahagiaannya. Ia akan memamerkan namanya itu bersanding dengan putri yang namanya sama dengannya.


Skak.


Dan pria itupun tak bisa menjawab sudah.


Memang ia tahu putri-putrian? Dia cuma sekedar ucap saja, hanya ingin membahagiakan gadis kecil yang tadinya bersedih karena terjatuh.

__ADS_1


Yang Izzar tahu adalah setiap anak perempuan suka putri dan ingin menjadi seperti putri, itu saja. Karena iapun memiliki seorang gadis kecil yang sering ia bujuk dengan rayuan yang hampir sama seperti ini.


__ADS_2