Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Piknik Katanya


__ADS_3

Karena kejadian malam itu, malam di mana Armand mendapat penolakan mutlak dari putri kandungnya, pria itu bertekad untuk kembali mendekati sang putri. Benar-benar takut kehilangan putri kesayangannya itu. Dan ia pun harus mencoba mendekati keluarga barunya itu.


Dan langkah awal ialah, meluangkan waktunya. Tak melulu kerja hingga ia lupa dengan kebersamaan keluarga yang selalu ia gadaikan.


Hari ini akhir pekan, hari terakhir libur sekolah.


Keluarga besar itu tengah piknik di halaman samping rumah.


Anak-anak telah berada di kolam renang dengan tubuh yang basah kuyup. sementara Oma dan Laela mengatur konsumsi untuk mereka.


Pembakaran telah sedemikian rupa, bahkan baranya telah menyala dan siap dipergunakan. Semua berkati bantuan bibi dan Pak Doro, seorang pria paruh baya yang bekerja sebagai sopir Meidina dan Oma. Pekerjaannya yang hanya mengantarkan Meidina dan oma, membuat pria itu memiliki sedikit waktu luang yang dipergunakan untuk merawat halaman rumah.


Armand baru saja muncul dengan pakaian santainya, Ia juga telah siap basah. Hari ini ia kembali mencoba peruntungan, mendekati keluarganya terutama Sang Putri. Ia tak ingin membayangkan jika benar-benar ditinggalkan.


" Bisa berenang?"  Tanyanya.


Di bibir kolam ada Meidina,Sofiah dan juga Izzar. Namun pandangan mata Armand terlihat tertuju pada bocah pria satu-satunya itu, menandakan jika pertanyaan itu ditunjukkan pada Izzar.


" Bisa Om."

__ADS_1


Jawaban bocah itu membuat Armand mendengus. Ada rasa kesal yang sempat ia rasakan saat mendengar panggilan yang ditujukan padanya. Om?


Padahal putrinya saja telah memanggil Bunda pada Laela. Mungkin benar memang ia yang terlalu jauh dengan keluarga ini.


" Bisa gaya apa saja?" Lanjutnya. Ia masih ingin mencoba mendekat, mengabaikan rasa kesal hanya karena panggilan itu.


" Emmmm,…" Nampak bocah laki-laki itu berpikir. Ia memang tahu beberapa gaya dalam renang, tapi ia tak tahu apa namanya. Hanya mengikuti gerakan teman-temannya saat berenang di sungai. Yang terpenting adalah, Siapa yang lebih dulu sampai pada titik finish yang telah mereka tentukan, maka dialah pemenangnya.


" Nggak tahu apa namanya Om."


" Ayah juga mau berenang?" Meidina. Ini mungkin bukan suatu pertanyaan tapi Sebuah ajakan dari seorang putri untuk ayahnya.


Entah sadar atau tidak, bibir pria itu terus saja menyungging senyum bisa dari awal tiba di teras samping.


Ia berdiri dekat kolam renang dengan tangan yang diangkat ke atas bergerak-gerak. Tubuhnya butuh sedikit pemanasan, sebelum bergerak aktif di dalam kolam.


Dia masih bergerak memutar tubuh ke kiri dan ke kanan, saat Laela baru saja muncul dari dalam dengan menggunakan longress lengan panjan dan jilbab instan di kepalanya.


Hanya dengan pandangan itu, Armand langsung saja menarik ibunya menjauh dari sana. Sepertinya ada sesuatu yang penting hendak ia bicarakan.

__ADS_1


" Apa sih, Mand?" Kesal sendiri, namun tak bisa menunjukkan kekesalannya tadi. Bahkan nampan ayam yang siap dibakar masih berada di tangannya.


" Mah, itu Laela di rumah kayak gitu terus?" Armand tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Namun untuk bertanya langsung pada Laela, ia masih belum berani.


" Kayak gitu gimana?"


" Itu, jilbabnya gak lepas-lepas!" Armand.


Mendengar itu, oma Ranti mengerutkan keningnya. Apakah hubungan keduanya tak ada peningkatan bahkan tentang pakaianpun?


" Kalau di kamar, Laela bagaimana?" Tanya oma hendak menguji.


" Kalau di kamar yah, biasa aja. Tapi kenapa di sini harus pake jilbab juga sih. Kan ini di dalam rumah mah?"  Ah ternyata protes tentang ini.


Oma Ranti mengangguk mengerti, tapi yang masih belum ia mengerti kenapa bukan Armand saja yang menyampaikan langsung.


" Apa kalian berdua belum ngapa-ngapain?"


Jika memang benar, Laela telah berani membuka jilbabnya di depan Armand, itu tandannya wanita itu telah membuka diri. Tapi bagaimana dengan putranya ini. Apakah memang Armand masih menjaga jarak.

__ADS_1


__ADS_2