Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Kelulusan


__ADS_3

"Kak Nizaaaam!" Di sana, Laela memanggil suaminya dengan suara lantang sambil melambai-lambaikan tangan. Menggunakan seragam putih abu-abu, jilbab berwarna putih yang hanya dipergunakan saat jam sekolah saja.


Beberapa siswa turut berdiri di dekat pintu gerbang sekolah menunggu kedatangan Wali masing-masing.


Laela berlari pelan menyongsong Nizam dengan tangan yang terbuka. Langsung masuk dalam dekapan ketika tubuh telah menggapai, mungkin rindu. Padahal tadi pagi berangkat bersama sambil berboncengan.


"Eh, jangan kayak gini! Malu dilihat banyak orang." Nizam terkesiap, mendorong bahu Laela perlahan.


Laela melepas, memandang Nizam dengan senyum manja.


Baiklah, jangan memeluk ketika di depan umum, itu yang ia tangkap dari penolakan Nizam barusan. Nanti di rumah saja pikirnya.


Beralih memeluk lengan, sesekali menyandarkan kepala masih dengan raut manja. Berjalan menghampiri barisan di sana.


" Ini suamiku!" Ucapnya pada beberapa siswa dan guru yang mereka jumpai.


"Via, kenalin ini suamiku!" Masih dengan senyum sumringah memamerkan Nizam yang hadir dengan seragam orange nya.


Tubuh tegak tinggi, menjadi satu penampakan yang sangat mencolok di tengah tamu undangan lainnya. Nizam hanya izin beberapa jam demi memenuhi undangan yang diberikan waktu itu.


"Nggak usah dikenalin, udah kenal waktu kamu nikahan." Novia, ikut tersenyum saat melihat sahabat yang pernah jadi saingannya. Lega, Rezky tetap aman jadi kekasihnya, tak jadi dijodohkan dengan Laela karena gadis itu ternyata telah menikah duluan.


Diperkenalkan dengan seorang gadis, Nizam hanya menangkupkan kedua tangan di depan dada.


"Iiihhhh, tau banget kalau istrimu suka cemburu, nggak mau sentuhan sama cewek lain." Ucapnya pada Nizam, masih menunjukkan senyum manja.


Kamu salah Laela. Nizam memang seperti itu, tak ingin terlalu berinteraksi dengan yang bukan mahramnya, bahkan jauh sebelum kalian menikah. Kecuali dalam hal pekerjaan. Jadi jangan besar kepala dulu!


Mulai melangkah, mencari tempat duduk untuk mereka. Dalam perjalanan hingga sampai ke tempat duduk, Laela terus saja bergelayut mesra di lengan sang suami.


Beberapa kali Nizam harus menahan nafas dengan degupan jantung yang tak beraturan saat lengan kokohnya menyambar, menyenggol benda kenyal milik sang istri.


Beberapa kali pula hendak melerai dekapan tangannya dari Laela, namun gadis itu seakan enggan melepas atau menjauh.


" Jangan kayak gini malu dilihat orang!" Penolakan itu terdengar beberapa kali. Namun hanya berlaku tak lebih lima menit, hingga Laela kembali meraih memeluk lengannya.


Nizam pasrah, tak enak rasanya pun jika selalu menolak sang istri di depan teman-teman gadis itu. Jika diperbolehkan untuk jujur, Nizam risih dengan sikap Laela yang seperti ini. Apakah gadis itu tak merasakan tubuh mereka yang saling bersenggolan dan bergesek? Ataukah sudah terbiasa seperti ini? Dengan siapa pula?


Kembali Pulang, dengan Laela yang duduk di belakangnya dengan kedua tangan melingkar di perut Nizam. Lagi-lagi membuat Nizam sesekali meringis menahan rasa yang terasa campur aduk di dalam sana.


Risih, malu namun mampu menggetarkan syaraf-syaraf dalam tubuh. Penolakan Nizam yang tak terlalu saat di hadapan banyak orang, membuat Laela seolah mendapatkan celah banyak untuk dapat berdekatan suaminya itu.

__ADS_1


Kesempatan yang tak boleh dilalui begitu saja. Mendekat, merangkul, memeluk dan bermanja. hal yang telah lama ia dambakan saat bertemu dengan Nizam.


Selesai mengantar Laela, Nizam kembali bekerja.


Pulang ke rumah, Laela telah menunggu di depan rumah dengan senyum indah nan menawan.


"Adduuuuhhhh. Laela, lepas dulu gimana sih?" Masih berusaha melerai tangan Laela yang masih bergelayut padanya, padahal ia baru saja tiba di rumah. "Gerah tau."


Laela masih tersenyum, terus mengikuti Nizam ke kamar mandi. Terlebih dahulu mengambil handuk untuk diserahkan pada Nizam. Berusaha menjalankan tugas sebagai istri.


Menerima perlakuan itu, Nizam memicingkan mata memandang. Aneh rasanya. Namun tetap menerima setelah itu berlalu.


\==========


Nizam mengetuk pintu kamar ibu dengan sangat pelan saat semua orang telah masuk ke dalam alam mimpi.


"Bu,... Ibu,...." Memanggilpun dengan sangat pelan, takut mengganggu penghuni lain. Padahal yang lain di sini hanya Laela.


"Pak,... Bapak,...."


Pintu kamar terbuka menampilkan ibu dengan raut kantuk. "Kenapa Zam?"


"Kunci rumah?" Dengan tangan menengadah. Tumben sekali semua kunci pintu rumah tak terpasang pada tempatnya.


"Ibu simpan. Kamu kembali ke kamarmu." Pintu itu akan ditutup kembali, namun Nizam menahan dengan raut wajah bingungnya.


"Aku mau ke masjid bu." Ucapnya.


"Sampai kapan Zam?" Ibu masih berbicara pelan dengan penekanan. Rasanya membiarkan Nizam dengan kebiasaannya ini seperti mengancam rumah tangga yang baru saja berdiri tanpa pondasi cinta itu.


Bukan melarang menjalankan sunnah, tapi Nizam justru seolah meninggalkan kewajibannya sebagai suami.


Nizam diam, tak mampu menjawab. Iapun tak tahu sampai kapan harus menghindari istrinya. Terlebih Laela terlihat lebih agresif dari sebelumnya, membuatnya sedikit takut.


"Kembali ke kamarmu. Jangan menghindar lagi! Shalat malam masih bisa di rumah!" Pintu di tutup, menyisakan Nizam yang berdiri di depan pintu. Bingung harus melakukan apa sekarang?


Berjalan ke ruang tamu, menjatuhkan tubuh di sofa lalu menghidupkan tv sekedar mengusir sepi.


Membaringkan tubuh yang benar-benar lelah. Harusnya ia tidur nyenyak setelah seharian menggunakan tubuh mencari nafkah. Nyatanya otak seolah tak mengijinkan untuk beristirahat lebih cepat.


Waktu hampir tengah malam, kantuk benar-benar menyerang namun kembali tertahan saat mendengar derit pintu dari arah kamarnya.

__ADS_1


"Kak, kenapa tidur di situ?" Suara serak milik Laela terdengar. Nizam mengangkat lengan yang digunakan menutup matanya. Memandang Laela yang tengah mengusap-usap mata sedang berdiri di dekat kakinya.


Tak tahu saja wanita itu, jika Nizam tak pernah tertidur hingga subuh di sampingnya.


"Kenapa gak ke kamar? Kan udah malam, besok masih kerja." Sambil menepuk-nepuk kakinya menyuruh bangun.


"Kenapa bangun?" Tanyanya meski rasanya enggan untuk beranjak.


"Mau pipis." Laela mulai berbalik, "mau minum juga."


Nizam sempat mengintip punggung Laela yang berjalan dalam keremangan.


Kembali mengingat potongan-potongan petuah ibu.


"Tuhan mempertemukan kamu dengan gadis seperti istrimu bukan tanpa sebab. Mungkin Tuhan ingin kamu menjadi guru dan pembimbing yang baik untuknya."


"Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."


"Suka atau tidak, Allah tetap akan meminta pertanggung jawabanmu nanti sebagai suami."


Seberapa banyak doa yang terucap dalam sujudnya, Laela tetap sebagai jawaban.


Laela adalah jodohnya.


Laela tercipta dari tulang rusuknya yang bengkok, dan ia harus sabar untuk meluruskannya.


" Kak masuk ke kamar! di sini dingin." suara Laela membangunkannya dari khayalan.


Mengangguk, " Kamu duluan!"


Membiarkan Laela terlebih dulu masuk ke bilik mereka. beberapa waktu ia masih terdiam duduk di sofa, biarkanLaela tenggelam dalam lelapnya.


Berbaring membelakang dengan sangat pelan tak ingin mengusik ketenangan Laela. Nizam terhentak saat Laela justru memeluknya dari belakang. dikiranya gadis itu telah terlelap nyatanya tidak. Laela memang menanti Nizam.


Nizam melepaskan rengkuhan tangan itu dengan perlahan," Aku ngantuk, capek." ucapnya.


" Kan cuma peluk." Suara serak itu menandakan Laela begitu menahan kantuk.


"Gerah La," Dengan sedikit penekanan berharap Laela mengerti dan tak menggubrisnya lagi.


Benar saja, pelukan itu terlepas. Masih merasakan pergerakan di belakangya, mungkin Laela kembali ke tempatnya atau mencari posisi untuk tidur.

__ADS_1


Aman! Setidaknya untuk malam ini.


__ADS_2