
BUG.
Nizam baru saja membuka pintu rumahnya, namun penampakan pertama yang ia nikmati adalah sang istri yang baru saja tergeletak di lantai sambil meringis. Sontak pria itu segera berlari mendatangi Sandrina, memeluk dan mulai mengangkat tubuh ringkih itu?
"Kamu gak pa-pa?"
"Engak, enggak pa-pa." Namun napas yang sedikit ter-engah itu nyata jika gadis ini tak baik-baik saja.
Sandrina baru saja melatih kakinya agar bisa kembali digunakan dengan semestinya, dan semua itu tanpa sepengetahuan Nizam, itu menurutnya. Namun pria itu bisa menebak dengan mudah.
Sejak ditawarkan mengajar, gadis itu kembali melatih kakinya dengan sangat rajin dan rutin. Sekarang ia memiliki semangat yang lebih besar. Suami yang begitu menyayangi dan memperdulikannya dengan begitu sangat.
Wanita ini sadar jika dirinya bukanlah yang pertama bagi Nizam, ada wanita lain di ujung sana yang memiliki pria itu terlebih dahulu. Namun kini yang mereka jalani adalah dirinya yang bersama Nizam, dan wanita yang di sana itu terlalu jauh untuk digapai. Mungkin ini yang dinamakan mulai cinta, tanpa ia sadari.
Ditambah lagi dengan warga kampung yang menantinya untuk mengajar anak-anak mereka. Ia akan menikmati masa sulit ini dengan menyumbangkan waktu dan kemampuannya agar lebih berguna.
"Jangan terlalu dipaksakan." Nizam sambil menyodorkan gelas air putih pada sang istri.
Sandrina justru tersenyum sebelum menghabiskan air putihnya. Selalu saja terpana dengan kemanjaan yang diberikan pria ini, terlebih saat Nizam membelai rambutnya dengan begitu lembut seperti sekarang ini. Semakin jatuh cintalah wanita ini.
" Abang dari mana? Kayaknya capek banget!" Jemari lentik itu mengusap pelan rahang tegas milik sang suami. Dalam hati sempat memuji wajah tampan sang suami. Matang dengan segala kemampuan yang pria ini miliki, membuat rasa kagum itu semakin menjadi. Namun untuk memuji secara langsung, Sandrina merasa tak terlalu berani. Ingat, ia adalah wanita ke dua dalam hidup Nizam.
__ADS_1
" Sekolah daruratnya mulai dibangun. Nanti aku buatkan penyanggnya buat kamu ngajar nanti."
Sandrina tersenyum kala memandang suaminya yang begitu dengan antusiasnya, " Abang kayaknya semangat banget!"
" Bukan cuma aku saja, tapi seluruh warga kampung!"
" Mereka menunggu kamu!"
Kata terkait yang semakin membuat semangat Sandrina kembali berkobar. Wanita itu menganggukkkan kepala sambil tersenyum memandang binar wajah sang suami yang turut tersenyum di hadapannya.
Ia harus bangkit demi semuanya. Tak boleh mengecewakan.
" Mau kupanggilkan Ambo Roe buat urut kakimu? Biar cepat sembuh."
Dia hanya ingin berlatih sendiri, tanpa dilihat dan diperhatikan oleh orang lain meski itu adalah suaminya sendiri. Namun sekarang, semuanya harus ia tahan dan kesampingkan demi agar bisa berjalan secepatnya, dan itu semua demi warga kampung yang menanti kesiapannya.
Sejak semalam gadis itu telah berlatih menjadi guru, dan Nizam yang berlaku sebagai siswanya.
"Bu guru-bu guru, saya mau tanya bu guru!"
Sandrina hanya memberenggut, padahal ia belum menjelaskan apa-apa tentang pria pelajaran yang akan ia bawakan besok, eh pria ini sudah ingin mengajukan tanya.
__ADS_1
"Belum, sebentar! Ada sesi tanya jawab. Sekarang ibu jelaskan dulu yah tentang pelajaran kali ini."
Hahahaha, pecahlah tawa Nizam seketika. Ia tak sanggup untuk berlama-lama memerankan peranan ini dengan istrinya sendiri sebagai guru.
" Abang isshhh." Kesal sekali padahal ini adalah malam terakhir dirinya berlatih, sebab besoknya telah menjadi hari peresmian untuk sekolah baru mereka.
"Fokus-fokus! Kalau gak mau bantuin ya sudah sana tidur saja!" Wajah cantik itu telah memberenggut saja, hingga mau tidak mau Nizam harus menahan diri agar tak lagi tertawa.
"Iya-iya maap, hehehe." Masih tersisa tawa, yakinlah ia telah menahan diri. Pria itu menggulum bibir agar tak bisa tersenyum.
Namun Sandrina masih diam dengan bibir yang cemberut. " Ngak mau, bentar abang ketawa lagi. Biar aku latihan sendiri saja!"
"Iya beneran. Gak ketawa lagi." Lanjut Nizam dengan wajah seriusnya, namun hanya sebentar saja," Bentar!" Pria kembali tertawa, kali ini ingin menghabiskan seluruh tawanya dulu, baru kembali serius.
Hufff.
Hufff.
Hufff.
Nizam mulai mengatur napas, tawa telah mereda, wajah diatur sedemikian rupa agar nampak serius.
__ADS_1
"Udah?" Sandrina bertanya kala melihat Nizam yang kini berdiri tegak menatapnya.
"Sudah bu guru." Jawabnya dengan sangat lantang.