Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Satu Kosong


__ADS_3

" Bang pulang Bang!"


" Aku hamil, ini anakmu Bang."


" Abang harus pulang, tanggung jawab Bang!"


" Jangan lari dari keluarga dan tanggung jawabmu!"


Untuk kesekian kalinya Laela berdiri menghadap laut.


Sengaja datang di sebuah pelabuhan, pandangannya tak ;epas memperhatikan kapal-kapal yang baru saja sandar. Berharap satu kapal saja yang membawa penumpang dan diantara itu ia Berharap ada satu sosok pria yang selama ini ia nantikan berbaur bersama yang lain.


" Angin bantu aku, Tolong sampaikan pada suamiku jika aku dan anak-anaknya menunggu kehadirannya!" Kini ia menegadahkan kepala, menatap langit yang terlihat cerah bahkan sangat terang di siang ini.


Di depan sana, air membentang dengan tepian yang tak terlihat mata. Angin sepoi-sepoi menyambar jilbab dan gamisnya berayun melambai. Ia tak peduli, bahkan sengaja menikmati demi mengusir penatnya hati dan jiwa.


Hanya ini yang bisa dilakukan Laela saat merasakan Rindu.


Mansyur masih Setia berdiri menemani dan menjaga sang adik dalam jarak aman.


Meski ia berkata semua yang dilakukan Laela hanyalah sia-sia belaka, namun Ia tetap membiarkan adiknya melepaskan seluruh perasaan yang menyesakkan dada. Berharap jika setelah ini, sang adik bisa kembali dengan perasaan yang lebih lega dan kembali kuat demi melanjutkan langkah.


Beberapa kali pria itu terlihat menunduk, saat kalimat yang Laela sebutkan terasa mencubit hatinya. Beberapa saat lamanya membiarkan sang adik, kini Mansyur telah melangkahkan kaki mendekati Laela.


" Bang, pulang Bang. Bagaimana nanti jika aku ngidam sesuatu? Siapa yang akan mewujudkan ngidamku kalau bukan Abang?"


" Apalagi, sekarang Aku sudah tidak tinggal di rumah lagi, seperti yang pernah Abang bilang, kita akan mengontrak sama-sama Biar kerjanya dekat."


Sengaja Ia menuturkan Hal ini, berharap jika Nizam mendengarnya dan kembali pulang, pria itu bisa dengan segera menghampirinya di sana.


"La, Sudah La!" Mansyur kini telah memeluk sang adik, kata demi kata terdengar begitu menyakitkan di telinganya. Betapa ia tak tega saat harus menikmati pemandangan ini.


" Aku hamil Kak," Mansyur mengangguk, Ia memang telah tahu tentang itu.


" Aku hamil, tanpa suami."

__ADS_1


Rasa terpuruk kembali datang setiap kali mengingat Nizam. pria itu tidak hanya meninggalkannya, tapi juga meninggalkan benih di dalam perutnya yang harus ia tanggung seorang diri.


"La."


" Anakku tak punya ayah kak."


"La, sudah!" Mansyur bahkan menegurnya dengan penuh penekanan. Laela terlihat seperti wanita yang putus asa. ya Mungkin memang ia telah Putus Asa saat ini. " Anak kamu punya ayah, hanya saja dia tidak sedang bersama dengan kita. Doakan dia di sana mendapat tempat yang layak di sisi-NYa. Nizam orang yang sangat baik, pasti Tuhan menyayanginya."


" Ngak kak. Engga!"


" Bang NIzam masih hidup, dia cuma pergi sebentar. Dia cuma ke sasar, gak tau jalan pulang kak."


" Tolong carikan dia untukku!"


Kini wanita itu telah luruh ke bawah. Tubuhnya rasanya tak mampu menopang beratnya kehidupan yang harus ia tempuh selanjutnya.


Tanggung jawabnya kini semakin bertambah dengan hadirnya janin dalam perutnya, lalu bagaimana ia bisa menanggungnya seorang diri?


"La, sudah La. Ikhlaskan Nizam!"


Harus hidup jauh dari seluruh keluarganya hanya karena mimpi Dan harapannya pada suami yang akan kembali datang. Berat bagi Laela untuk menerima kenyataan jika suaminya telah tiada.


...****************...


" Ridwan oi! Ridwan!"


Izzar berjalan mendekat ke arah rumah tantenya, Kepalanya menengok, memanjang mencari sosok yang ia sebut namanya. Sang sepupu.


"Apa!"


Ridwan muncul dari dalam dengan penuh tanya saat memandang bocah yang tengah memasang senyum lebar di wajahnya. Sontak pemandangan itu turut membuat bibirnya menyumbangkan senyum.


Bahagianya tak bisa ia tutupi, kala melihat sang sepupu sekaligus teman sepermainannya kini berada di sini. Meski tak berucap, namun jelas kerinduan pada dua bocah ini jelas ada.


" Aku mau punya adik Wan!" Seru Izzar dengan sedikit lantang. Langkah kaki sedikit dipercepat agar bisa segera sampai di sana, tak sabar.

__ADS_1


Kini ia punya sesuatu yang bisa ia banggakan pada sepupunya ini. Setelah semuanya seolah terkalahkan, dan Ridwan tak menyisakan sedikit saja baginya untuk bisa berbangga.


Ridwan yang lebih dulu masuk sekolah, hingga ia pun harus membujuk sang ayah agar bisa diikutkan masuk Taman Kanak-kanak meski usianya belum cukup.


Ridwan yang lebih dulu bisa membaca dan mengaji, hingga ayahnya sering menyuruhnya untuk belajar pada sepupunya itu.


Ridwan lebih dulu bisa menggunakan sepeda dari pada dia, lalu banyak lagi yang Ridwan kalahkan darinya.


Dan kini ia memiliki satu yang tak dimiliki Ridwan, adik.


Hahaha, pasti setelah ini sepupunya itu kalang kabut meminta pada ayah dan ibunya.


Semakin yakin kala menatap wajah Ridwan yang hanya terdiam melongo saat ia bahkan telah berada di depan bocah pria itu.


Sirikkan? Sirikkan?


Ya pasti Siriklah! Masak eggak.


"Aku mau punya adik! Hahaha kamu kalah!" Izzar bahkan beberapa kali bertepuk tangan lalu menunjuuk ke arah Ridwan, kembali bertepuk tangan dengan tawa di bibirnya.


"Kamu kalah. Aku punya adik dalam perut ibuku!"


Bagaimana bisa bocah ini bisa mengetahui tentang kondisi ibunya padahal ibunya sendiri belum mengatakan apa-apa padanya.


Jelas saja, bocah kecil ini menguping pembicaraan saat ibu melakukan sambungan telepon entah pada siapa.


Dia yang hanya ingin memastikan kondisi sang ibu saat mendengar suara ibu yang terdengar serak sambil sesekali mengusut !ngus, sangat tahu jika ibunya itu tengah menangis, ternyata mampu membuatnya mendapatkan sebuah informasi penting seperti itu.


Tapi ia tak tahu kenapa justru kabar bahagia itu membuat ibunya menangis. Meski setelah kepergian ayah yang belum kembali ia sering mendapatkan ibunya yang menangis secara sembunyi-sembunyi.


Benar saja, kala Izzar kembali ke rumah nenek, Ridwan merengek meminta untuk dibuatkan adik juga pada ibu dan ayahnya.


Hahaha, benar kan.


Satu kosong untuk Izzar. Lupakan semua yang dulu pernah Ridwan kalahkan padanya.

__ADS_1


__ADS_2