Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Semakin Jauh


__ADS_3

" Ini kan boneka aku?" Meidina bahkan telah merebut sebuah boneka Barbie dari tangan Sofiah.


" Kata Oma kan sama-sama?" Sofiah tak kalah sengitnya, tangannya pun terulur demi merebut kembali boneka itu.


" Issshhh kamu yang itu saja ih!" Meidina menunjukkan pada satu boneka lain.


" Kamu aja yang ngambil itu, kan kamu yang kakak harus marah sama adiknya." Sofiah selalu saja menggunakan alasan umur yang hanya berbeda 2 bulan itu jika berdebat dengan Meidina.


" Kan masih banyak yang lain, kok berebut sih?" Suara Ibu mereka membuat pertikaian berhenti sejenak.


Boneka Meidina bukan hanya sebuah saja, namun itu adalah satu boneka yang telah mereka dandani bersama-sama sehingga akhirnya menjadi rebutan karena terlihat lebih cantik daripada yang lain.


Meidina cemberut, meski dalam hati ia merasa senang dan sedikit bangga kala menyadari dirinya sekarang adalah seorang kakak bagi Sofia. Namun kata mengalah pada sang adik seolah memberatkannya. Sebab ia harus beberapa kali mengalah pada Sofiah hanya demi kata itu.


Meskipun tangannya menghentak, gadis kecil itu tetap memberikan yang diminta adiknya. Setelahnya ia kemudian beranjak dari sana meninggalkan Sofiah, masih dengan wajah yang ditekuk.


Meidina lebih memilih mendatangi Izzar yang duduk terjauh dari mereka. Bocah laki-lai itu tengah asik menikmati  layar televisi yang kini telah menayangkan tentang program satwa liar. Tontonan itu terasa lebih menarik, hingga perdebatan kedua saudaranya Ia abaikan. Padahal biasanya, Ia yang akan menjadi penengah diantara dua gadis kecil itu.


Semua peristiwa itu ternyata juga terlihat oleh Armand yang berdiri di lantai 2. Dia yang keluar dari ruang kerja memang berniat melihat aktivitas seluruh keluarganya, sambil meluruskan punggungnya.


Hingga perkataan ibunya kemarin terlintas di otaknya. Meidina yang mungkin akan lebih memilih keluarga barunya dibandingkan dengan dia, hanya karena orang-orang baru itu lebih sering berinteraksi dengan putrinya dibandingkan ia sendiri. Dan Meidina merasa nyaman dengan mereka.


Armand mulai melangkahkan kaki menuruni tangga. Sepertinya ia hendak mencoba peruntungan. Hingga tiba di bawah, dia melihat putrinya telah duduk di atas pangkuan Izzar sambil bergelayut.

__ADS_1


" Udah, tidur semua!" Ucapnya dengan kedua tangan yang terulur hendak meraih tubuh Putri kandungnya.


" Eh, belum Yah, baru juga jam berapa." Mata Meidina sekilas menatap ke arah jam yang tertempel di dinding.


" Ya daripada ribut, mending tidur!" Mungkin Arman setengah menghukum mereka dengan ini. Kedua tangannya kembali terulur ke arah Meidina hendak mengambil alih tubuh bocah itu dari Izzar.


" Nggak mau, aku sama Kak Izzar aja." Meidina mengeratkan lingkaran tangan yang kini tengah berada di leher Izzar. bahkan gadis kecil itu memalingkan wajahnya menghindari tatapan ayahnya.


Deg.


Armand terpaku mendapat perlakuan seperti itu. Apakah benar ia akan kehilangan putri kandungnya?


Dan semua karena kehadiran keluarga baru itu.


Kamu terlalu lama meninggalkan putrimu, hingga tanpa kamu sadari jika Meidina sebenarnya selalu saja merasa kesepian.


Ia tak pernah berniat meninggalkan putri tunggalnya ini. Hanya saja rasa sakit ditinggalkan oleh sang istri membuat ia memilih menyibukkan dirinya, salahkah dirinya?


Armand terduduk di sofa dekat ibunya. Mungkin ia hendak membujuk putrinya.


" Ya udah, mainnya udahan dulu yah! Waktunya beres-beres!" Laela bergerak, turun dari sofa dan mendekati tempat Sofiah yang masih duduk di atas karpet dengan berserakan mainan.


Entah mengapa Armand justru tersinggung dengan pergerakan wanita yang kini menjadi istrinya itu. Pikirnya, Laela hendak menjauhi dirinya.

__ADS_1


Melihat ibunya berberes mainan, jelas saja Izzar beringsut mendekat meski dengan Meidina yang berada di pangkuannya. Bocah laki-laki itu tak terlalu terbiasa melihat ibunya bekerja sendiri, meski hal sekecil ini. Bahkan ia turut menggerakkan tangan Meidina guna meraih sebuah mainan yang akan dimasukkan dalam kardus penyimpanan.


" Sayang sudah yah, kakaknya capek mangku terus." Lagi Armand membujuk sang putri kala mainan telah beres.


" Sama kak Izzar aja deh!" Mungkin gadis kecil itu telah nyaman berada dalam gendongan kakaknya, meski Izzar harus menumpu tubuhnya dulu kala bangkit dari duduknya.


" Ya udah deh, biar Sofiah aja yang sama ayah." Pria dewasa itu menundukkan pandangannya agar tak bertubrukan dengan Laela saat kedua tangannya terulur demi meraih anak dari wanita itu. Namun ia masih saja mendapat penolakan. Sofiah menggelengkan kepala dan bersembunyi di belakang sang ibu.


Jelas saja Armand malu. Hah mau ditaruh di mana mukanya ini, apalagi ini terjadi di depan Laela.


Salahnya sendiri, kenapa langsung hendak mengambil tanpa berkenalan terlebih dahulu.


" Itu ayah sayang!" Oma Ranti mencoba membujuk. Ia tahu jika anaknya itu mencoba mendekati keluarga barunya ini. Tangan wanita itu turut terulur ke arah Sofiah, mungkin dari tangannya anak itu mau berpindah pada Armand.


Namun sayang, bocah itu masih menggeleng di belakang tubuh ibunya.


" Ya sudah, pelan-pelan yah!" Oma Ranti menepuk pundak sang putra demi memberikan sebuah semangat. Sadar jika semua tak mungkin dekat secepat ini.


Pandangannya mengarah pada Izzar yang tengan menggendong Meidina di belakang punggugnya tengah menapaki anak tangga hendak menuju ke kamar.


Mungkin beliau menyuruh Armand untuk kembali membujuk putri kandungnya.


" Yah, bu, aku mau tidur di kamarnya kak Izzar, boleh?"

__ADS_1


Hah, kini langkah kaki pria itu terhenti. Memandang dua bocah itu yang kini mengarah pada mereka.


Mengapa jarak mereka semakin jauh rasanya?


__ADS_2