
Dan hari ini, ia telah berdiri di sebuah ruangan yang disebut sekolah darurat oleh mereka. Hanya sebuah gubuk yang hampir sama dengan keadaan rumahnya. Dengan sebuah walker yang terbuat dari bambu hasil karya sang suami, ia telah berdiri di depan kelas.
Bangku-bangku yang terbuat dari kayu oleh para penduduk menjadi tempat mereka duduk dan meja tulis. Tak lupa cat berwarnah hijau semakin menarik di mata anak-anak agar semakin menambah semangat belajar anak-anak.
Tak ada papan tulis dan kapur, Pak Dusun Baru meminta pada Lurah setempat agar dibuatkan proposal untuk itu. Entah itu bisa terwujud atau tidak, hanya waktu yang bisa menjawab. Dan kita hanya bisa berdoa.
" Baiklah pelajaran hari ini bisa kita mulai yah? Tapi sebelumnya ibu mau tanya dulu, siapa yang sudah bisa membaca?"
"Saya bu guru!"
Jawaban serentak dari lima orang anak, sementara tiga lainnya hanya mengangkat tangan tanpa disertai dengan ucapan.
Tiga lagi yang lainnya, hanya melihat satu persatu teman-temannya. Mereka adalah anak yang baru saja mengenal sekolah saat sekolah darurat ini didirikan dengan Sandrina sebagai gurunya.
Sementara anak-anak yang lain, lebih memilih melanjutkan sekolah mereka di tempat awal mereka bersekolah.
Katanya sekolah mereka jauh lebih meyakinkan dibandingkan dengan sekolah darurat yang warga bangun ini.
Hanya butuh mental yang kuat dan fisik untuk menempuh jarak berkilo-kilo meter dengan segala halangan dan rintangan yang ada.
Terlebih lagi, para orang tua mereka kurang mempercayai keahlian gadis itu.
" Nah, ibu akan panggil satu persatu untuk memperkenalkan diri dulu yah!"
Di depan sana anak-anak mulai riuh sambil mendorong pundak teman yang berada di samping mereka, menunjuk teman-temannya, siapa yang akan maju terlebih dahulu memperkenalkan diri.
" Sebelumnya ibu akan perkenalkan diri sendiri. Nama saya Sandrina Aprilia Yusuf. Nah, Yusuf itu nama ayah saya. Pekerjaannya ayah saya itu, dosen anak-anak."
__ADS_1
"Tahu apa itu dosen?"
DI sana anak-anak yang lain menggelengkan kepala.
"DOsen itu guru untuk orang yang lebih besar lagi. Hebatkan ayah saya?"
"Nah, sekarang ibu tanya, siapa yang mau jadi guru?"
Riuhlah kini ruangan itu. Hampir dari semua anak-anak yang ada di sana mengangkat tangan pertanda hendak seperti yang disebutkan oleh Sandrina.
"Bu guru saya mau jadi polisi!"
Satu teriakan membuat ruangan semakin riuh.
"Saya mau jadi dokter."
Ia kembali berdiri menopang diri dengan walkernya. bibir tersenyum menyeramkan sebuah kebahagiaan tersendiri. Rasa bangga pada dirinya sendiri pun ada, ternyata Ia juga bisa menjadi guru darurat untuk anak-anak di sini.
Tak sia-sia Ia berlatih semalaman, meski harus ditertawakan oleh sang suami.
"Nah, kalau mau jadi guru, polisi atau dokter harus rajin bela,..." Sengaja memotong kata, memancing agar anak-anak menjawab.
"JARRRR."
Jawaban serentak yang ia peroleh membuatnya tersenyum secara spontan.
Di luar, Nizam berdiri di antara ibu-ibu yang lain, memperhatikan istrinya dengan sangat bangga.
__ADS_1
Jika dirinya dan Sandrina yang terbuang ke kampung ini membawa berkah tersendiri pada khayalak ramai, ia bukan lagi ikhlas tapi juga akan bersyukur.
Mungkin ini cara Tuhan memanfaatkan mereka.
InsyaAllah ia sangatlah ikhlas.
Lalu bagaimana dengan keluarganya di sana?
Bukankah Laela juga dulu adalah seorang guru?
Ah, nama itu lagi.
Nama yang lagi-lagi mampu mengguncang hatinya dengan kerinduan yang begitu perih. Tabahkah wanita itu tanpanya?
Sekuat apa iman Laela tanpanya?
Nizam mulai berlalu mundur dari kerumunan ibu-ibu yang menyaksikan proses belajar mengajar itu.
Kepala menunduk, hendak menikmati kerinduannya tersendiri.
Adakah waktu yang dipersiapkan Tuhan untuk mereka bisa bertemu lagi.
" Zam, Pak Nizam, masih bisa masuk sekolah? Anak saya juga mau sekolah pak!" Seorang ibu yang baru saja berada di hadapannya, tangan menggandeng seorang anak kecil dengan napas yang ter-engah nampak seperti orang yang baru saja berlari.
" Oh, iya bu. Boleh-boleh." Langkah kakinya mengayun kembali ke kelas mengantarkan sang ibu beserta anaknya. Wajah murung itu langsung berubah riang kala sekolah itu mendapatkan antusias warga yang begitu sangat.
Sepertinya sebentar lagi ia akan bergabung dengan istrinya untuk membantu menjalankan sekolah ini.
__ADS_1