
" Sudah berapa kali ayah bilang, jangan main terlalu lama. Kalau waktunya pulang ya pulang!" Suara lantang itu memecah kesunyian di antara mereka. Tubuh tinggi itu semakin terlihat menjulang tinggi di hadapan dua wanita yang kini duduk di sofa.
Meidina dan Oma hanya bisa tertunduk di hadapan papa.
Entah siapa yang akan disalahkan dalam hal ini.
Meidina yang sering pulang terlambat selama beberapa hari ini? Atau Oma yang telah memberikannya izin.
" Tapi kan Dina cuma main di rumah teman, Lagian ada bu,-"
" Bisa nggak sih ayah ngomong nggak usah dijawab?" Potongnya langsung. Putrinya itu memang sedikit cerewet dan tak bisa diam. Selalu saja ada sanggahan yang akan di ucapkannya.
" Di rumah kan sudah ada Disty yang bisa kamu temani main. Kenapa mesti ke rumah orang lain lagi?"
Gadis kecil itu langsung menundukkan kepalanya, jelas saja takut. Wajah sang ayah saat ini bahkan telah memerah karena amarah, membuat kedua perempuan itu kembali tertunduk.
Meidina Belumlah terlalu paham tentang keadaan sang ayah yang bukan hanya akan menghadapinya seorang. Permasalahan kantor yang kadang menyisakan pelik di dalam kepala, membuat seseorang lebih mudah terpancing emosi.
"Armand, pelan-pelan!" Ini Oma yang berkata, takut jika amarah sama anak justru membekas menjadi luka dalam hati cucunya.
Heh, pria itu masih sempat menghembuskan nafas kasarnya, " Maaf mah, Armand khilaf." Ucapnya lagi, ikut duduk berhadapan dengan mereka. Bahkan kini ia telah tertunduk tak lagi berani memandang wajah sang ibu.
__ADS_1
Ia hanya bisa menebak, jika ibunya juga pasti lelah setelah seharian mengurusi anaknya. Tapi Bukankah kehadiran Ninis memang untuk meringankan kerja ibunya itu.
Lagian kemana pula wanita itu? Ah, mungkin hendak mengamankan diri dari amukannya, atau mungkin juga memang disuruh menjauh oleh oma. Apa oma berpikir, dengan tanpa adanya Ninis di sini, bisa mampu menekan amarahnya?
"Dini, sini!" Tangan pria itu melambai ke arah sang anak. Namun bukannya mendekat Meidina justru menggeleng lalu kembali menundukkan kepala. Jangankan untuk mendekat, memandangpun ia tak berani.
Takut, ia benar-benar takut pada ayahnya kini.
Ia tahu kesalahannya terlambat pulang sekolah karena bermain membuat ayahnya murka. Belum lagi, beberapa les yang telah diaturkan oleh ayahnya, kini berantakan beberapa hari ini.
Ia memang salah.
"Maaf yah!" Suaranya yang lirih dengan pandangan yang masih setia menatap ke arah bawah.
Namun lagi-lagi gadis kecilnya itu hanya menunddukkan kepalanya, masih takut. Berpikir jika ayahnya hanya merayunya lalu kembali membentaknya. Oma saja takut, apalagi dirinya dengan tubuh mungil seperti itu.
"MEIDINA!"
Teriakan Armand kembali menyentak keduanya.
"Armand pelan-pelan!"
__ADS_1
Oma segera merengkuh tubuh sang cucu. Terasa sekali tubuh mungil itu sedikit bergetar setelah mendapat teguran keras dari ayahnya. "Kalau kamu capek kamu bisa tidur duluan. Jangan melimpahkan amarahmu pada anakmu sendiri! Biar mama yang beri pengertian pada Dina. Toh memang selama ini DIna sama mamahkan?"
" Maaf bu, aku cuma mau peluk putriku." Kini tutur katanya lebih melunak sekian persen. Ia memang sedikit lelah dan ingin segera beristirahat, tapi juga sambil memeluk sang putri tunggalnya.
" Sini sayang, ayah kangen!" Tangannya kembali terulur ke arah Meidna.
Takut kembali dibentak oleh ayahnya, kini gadis kecil itu mulai melangkahkan kaki mendekat ke arah sang ayah. Belum sampai secara sempurna, Armand menarik Putri kesayangannya hingga masuk ke dalam dekapannya, dengan segera melabuhkan kecupan-kecupan di wajah sang putri.
" Malam ini tidur dengan ayah yah!" pintanya, meski dengan nada yang telah merendah namun belum mampu melunakan hati sama anak.
Meidina memang mengangguk, tapi itu hanya karena takut. Jika diperbolehkan, Ia lebih mau tidur bersama sang Omah. Meminta perlindungan melalui pelukan tubuh tua itu, kali ini ia tak berani dekat dengan ayahnya.
Armand masih memeluk tubuh sang putri. Gadis kecil Ini adalah peninggalan mendiang sang istri yang begitu ia cintai. Dia ingin memberikan segala yang terbaik pada Meidina. Tapi juga takut kehilangan putri kecilnya ini.
Posesif, Biarlah, tak mengapa toh itu anaknya sendiri. tak bisa dipungkiri jika rasa takut selalu datang menghampiri setiap ia tak menemui Meidina saat ia pulang kerja.
baru kemarin ia meminta izin untuk pulang lebih cepat dari biasanya, itu pun mengganti hari sebelumnya yang digunakannya untuk lembur.
namun ketidakberadaan Sang Putri cantiknya membongkar semua kejadian hari-hari sebelumnya di mana putrinya itu selalu saja pulang terlambat.
Marah sudah pasti, karena ia tak mendapat kabar tentang itu.
__ADS_1
Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada putrinya di luar sana. Mungkin itu akan menjadi penyesalan terbesarnya. Dan ia tak ingin itu terjadi.