Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Siapa Yang Lebih Berhak?


__ADS_3

"Loh kok La, La, loh kok?" Paniknya Nizam saat melihat Laela kembali menyeret-menyeret koper kesayangannya, bukannya ganti baju seperti apa katanya tadi. Nizam berdiri segera meraih koper Laela menjauhkan keduanya satu sama lain.


" Kamu mau ke mana lagi?" Tanyanya frustasi seperti tak bisa ia sembunyikan.


" Aku mau bawa pulang Laela dulu Zam." Mansyur telah berdiri di belakangnya.


" Kenapa harus kayak gini?"Nizam.


Laela masih setia dalam diamnya sejak tadi.


"Biar kalian punya waktu untuk saling berpikir dan intropeksi diri masing-masing." Mansyur masih berkata dengan pelan.


" Sebentar!" Nizam segera melangkah masuk dengan dua gandengan di tangan. Sebelah kanannya menggenggam tangan sang istri, sementara sebelah kirinya menarik koper milik sang istri. Masuk ke dalam kamar menutup pintu dengan rapat lalu menguncinya. Tinggallah mereka kini berdua di dalam kamar meninggalkan Mansyur yang berada di ruang tamu yang hanya mampu melongok.


Sekarang hanya keheningan yang ada di antara mereka berdua, saling berhadapan. Kini kedua tangan Laela berada dalam genggaman Nizam.


Laela terus saja menunduk.


Gadis itu tak lagi berani memikirkan apalagi yang akan terjadi setelah ini. Ia Bahkan tak berani mengumpat meski hanya dalam hati seperti pada saat berhadapan kakaknya. Berada di posisi ini membuat jantungnya melompat-lompat. Hendak girang, tapi tak tepat waktu.


" Kamu marah?" Pertanyaan Nizam pun Ia tak tahu harus menjawab apa.


Nizam menunduk demi melihat ekspresi Laela, membuat Gadis itu juga semakin menunduk, masih enggan memperlihatkan wajahnya.


Satu gerakan cepat membuat Laela membolakan mata. Sedikit tak percaya saat Nizam membawanya masuk ke dalam dekapan.


Nizam memeluknya saat ini, Benarkah?


Benar, bahkan denyut jantung Nizam yang bertalu terdengar dengan begitu jelas di telinganya.


" Aku minta maaf!" Suara lirih Nizam justru terdengar begitu Syahdu di telinganya.


" Aku tahu aku salah, aku nggak terbiasa deketan cewek. San kamu langsung datang di kehidupanku begitu saja. Aku juga minta maaf karena udah ngatain kamu, seandainya aku berada di posisi kamu pasti akan marah juga saat pasanganmu justru ngatain kamu yang bukan-bukan."


"Ya pasti marah lah!" Laela tak tahan untuk tak mengumpat meski dalam hati.


"Maaf karena telah fitnah kamu. Kamu pasti terluka kan? Maafkan Aku!" Nizam semakin menguatkan pelukannya.


sejenak melepaskan, hanya untuk membawa kedua tangan Laela yang dari tadi menggantung di samping tubuh, melingkar di tubuhnya. Nizam ingin Laela membalas pelukannya.


"Jangan Pergi!" Ucapnya lagi.


"Laela, jangan pergi lagi ya?" Tanya Nizam lagi, ternyata kini ia butuh jawaban.


"Aku juga nggak akan menghindarimu lagi!"

__ADS_1


Laela membulatkan mata penuh, ternyata benar prasangkanya selama ini jika Nizam memang menghindarinya.


Aaah, bodohnya dia selalu berpikiran positif tentang Nizam. Dia memang tahu tentang itu, namun saat mendengarkan perkataan jujur dari Nizam, Aduuuuh entah mengapa rasanya sakit sekali seperti tercubit.


"Dasar kutu kupret! Mentang-mentang ganteng!"


"Tunggu di sini ya aku mau bicara sama kakakmu dulu!"


Laela kembali membola, saat Nizam menunduk dan merapatkan bibir. Nizam baru saja menciumnya.


Pria itu kemudian berbalik begitu saja, menutup pintu dan meninggalkan Laela yang terpaku di tempatnya.


Ingin menjikrat-jikrat kesenangan, tapi bagaimana jika pintu itu langsung terbuka. Menggulum bibir, agar senyum-senyum tidak jelasnya tak terlalu kentara.


Laela berbalik membelakangi pintu, menundukkan kepala dengan kedua tangan yang berada di depan bibir, bahu turut terangkat demi menyembunyikan ekspresi bahagianya.


Hihihihi, cekikikan sendiri. Kini ia sudah ditahan agar tidak tertawa.


Kembali menegakkan tubuh, raut wajah jadi normal kembali, cool. Menoleh ke belakang, Siapa tahu Nizam kembali masuk ke kamar.


Tak ada orang, di kamar ini dia hanya sendiri. Kembali menunduk dengan kedua dua tangan menyembunyikan mulut yang cekikikan.


Jari-jari lentiknya kini menyapu bibir, Oh ya ampun ciuman pertamaku. Rasanya seperti,…?


Ia hanya bisa teriak dalam hati. Aduh gini amat ya rasanya cinta terbalaskan. Rasanya seperti,…?


Gila, gila, gila!


"Zam." Mansyur segera berdiri menyambut Nizam yang baru saja keluar dari dalam kamar.


"Maaf Kak lama ya?" Pria itu kini tersenyum sungkan setelah membuat kakak iparnya menunggu cukup lama.


"Nizam, Maafkan Laela! Dia memang begitu, senangnya lari saat ada masalah."


Nizam mengangguk membenarkan kalimat itu.


" Tadi aku panik dan bingung saat Ibumu menelpon jika Laela kabur dari rumahmu. Seandainya Laela kabur dari rumah kami, kami tak terlalu kaget lagi saking seringnya dia seperti itu. Biasanya saat dia kabur, dia akan ke rumah Novia atau tante Suli. Tapi di sini dia mau kabur ke mana?"


Nizam kembali menganggukkan, dari sini ia tahu jika istrinya sedikit pembangkang. Heh, biar bagaimanapun wanita itu adalah istrinya, tanggung jawabnya.


"Kami juga yang salah, membiarkan Laela menikah muda. Harusnya waktu itu kami bisa mencegah niat Laela nikahimu. Tapi ya, Ayah justru mendukung penuh keinginan Laela itu. Kamu tahu kenapa?"


Ditanya seperti itu Nizam diam bahkan enggan menggerakkan kepala sebagai jawaban.


"Karena ternyata Ayah juga menyukaimu. Ayah berpikir, Jika kamu adalah pria yang baik dan bertanggung jawab untuk Laela. maafkan Laela. Maafkan keluarga kami juga!"

__ADS_1


"Untuk sementara biarkan Laela untuk ikut pulang ke rumah."


Hening selama beberapa waktu. Kedua pria itu saling berpikir jalan yang terbaik.


"Sampaikan pada Ayah, Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan untuk menjaga putrinya. Dan saya akan tetap mencoba memberikan yang terbaik untuk putri tercintanya."


"Sekarang ini Laela sudah menjadi istriku, dia tanggung jawabku. Izinkan aku mendidik istriku dengan caraku sendiri."


" Kenapa kamu tidak mau mengembalikan Laela pada keluarga kami?" Mansyur yang rupanya masih berjuang keras agar Laela bisa ikut kembali dengannya.


Keterangan dari Laela tentang hubungannya dengan Nizam menjadi penyebabnya. Sebulan pria di depannya ini katanya belum pernah sekalipun menyentuh adiknya.


Ia tahu jika pria ini tak mencintai adiknya, bahkan terkesan terpaksa saat menikah dulu.


Namun apakah benar, Nizam tak pernah merasa tegang saat bersama dengan Laela?


Bukankan hasrat tak perlu rasa cinta?


Ia pria dewasa, yang tahu betapa tersiksanya seorang pria jika harus terus berdekatan dengan wanita dewasa pula. Seberapa keras usaha Nizam menghindari adiknya yang halal dan mereka setiap hari bertemu dalam berbagai keadaan. Saking kerasnya usaha Nizam menghindari Laela hingga sebulan pernikahan mereka, pria itu masih tahan godaan.


Lalu bagaimana kondisi NIzam saat melihat Laela yang dalam keadaan tidur di sampingnya?


Atau setelah mandi dengan handuk yang menutup sebagian tubuh?


Tak pernahkah Nizam tergoda sama sekali?


Tahan sekali Nizam.


Ingin sekali Mansur menanyakan tentang semua itu?


Tapi, tak elok rasanya jika masuk terlalu jauh pada hubungan suami istri meskipun itu adiknya.


" Aku hanya ingin menjalankan kewajibanku sebagai seorang suami yang baik untuk istriku. Doakan saja semoga keluarga kami jadi lebih baik kedepannya!"


Keheningan kembali terjadi untuk beberapa saat. Keduanya seolah sama mempertahankan Laela.


Hingga akhirnya,


"Baiklah! Tapi jika suatu saat kalian menghadapi masalah lagi, tolong bicara baik-baik saja pada adikku. Jangan sekali-kali kamu menggunakan kata keras dan kasar padanya, dia tak biasa."


"Dan juga jika dia mau pulang, antar saja dulu, dari pada kabur lagi! Heh."


Mansyur mengalah.


Dalam posisi ini, Nizam lebih berhak atas Laela.

__ADS_1


__ADS_2