Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Bin Nizam


__ADS_3

" Kita ke rumahku aja ya Kak!"


Saat saat mobil telah berada di persimpangan antara kampung halamannya atau ke kampung suaminya. Biar bagaimana pun rumah itu adalah rumah suaminya, yang artinya itu juga rumahnya. Di sanalah memang seharusnya ia berada ketika sedang pulang kampung seperti ini.


" Tapi ayah ibu sudah nungguin kamu La, mereka udah tahu kondisi kamu." Sang kakak yang kali ini kembali bertindak sebagai sopir.


Pak Budi yang tadinya membawakan motor milik Laela untuk dipergunakan di sana, kini tengah tertidur di samping Izzar yang sama menikmati perjalanan dengan lelapnya.


" Kita ke rumah Ibu dulu ya, bentar aku antar kamu ke rumahmu."


" Tapi itu tempat tinggalku, tempat di mana aku harus pulang." Laela.


Dalam hati masih berharap, ketika ia pulang di rumah itu maka Nizam akan lebih mudah menemuinya daripada di rumah orang tua kandungnya sendiri.


" Kita ke rumahku saja Om!" Dukungan penuh didapat dari bangku belakang, Sejak kapan bocah itu terbangun?


Mobil perlahan melambat saat memasuki kampung kelahiran Izzar. Seberapa besar bujukan Mansyur untuk membawa adiknya pulang ke rumah orang tua mereka namun tak dapat menggoyahkan kehendak kedua ibu dan anak itu.


Berniat memasukkan mobilnya ke dalam pekarangan rumah Nizam, namun bocah yang tadinya duduk di belakang itu kini telah melompat keluar, tak sabar.


Bukan langsung masuk ke dalam rumahnya namun yang pertama di sambanginya adalah rumah yang berada di samping.


" Ridwan, Oi Ridwan." Teriaknya lantang saat telah berdiri di depan teras. Memang benar ia sudah tak sabar bertemu dengan sepupu terdekatnya itu.


Rindu memang sudah hampir sebulan tak bermain bersama. Di tempat tinggalnya yang baru, ia belum mendapat teman sedekat RIdwan.


Banyak hal yang ingin ia bagi dengan bocah itu.


Cerita tentang ia yang tinggal di sekolahnya sendiri, jadi setelah shalat subuh, ia masih bisa tidur sejenak sebelum bersiap berangkat ke sekolah.


Tentang banyaknya pedagang yang mangkal tiap harinya di depan gerbang sekolahnya.


Ah banyak sekali.


Ia baru hendak melepas sandalnya, hendak masuk meski belum dipersilahkan sang tuan rumah, itu sudah biasa bagi mereka, saat bocah laki-laki beserta ibunya berjalan keluar setelah mendengarkan suaranya.


" Sini!" Panggil bocah itu dengan tangan yang melambai, bibirnya melengkung menciptakan senyuman manis di wajahnya, nampak sekali ada sebuah kebahagiaan yang telah dirasakan anak lelaki itu.


" Kapan datang?" Pertanyaan pertama dari sang tante. Jelas saja wanita itu sedikit bingung, pasalnya Ia baru beberapa jam yang lalu berteleponan dengan ibu sang bocah.

__ADS_1


" Baru tante, Dijemput om Mansyur." Padahal pria dewasa yang dimaksudnya hanya berniat menjenguk sekaligus mengantar motor untuk Laela agar memudahkan mobilisasinya.


Tangan kembali mengulur seolah hendak menarik tangan sepupunya, rasanya Ridwan berjalan terlalu lama di belakang ibunya.


" Apa?" Ridwan saat melihat senyum sumringah dari sepupunya.


" Aku mau punya adik, hahaha." Ucapnya dengan tawa yang terlihat memang sangat bahagia.


" Kamu kalah, aku yang duluan punya adik."


Bangga sekali rasanya bisa mengalahkan sepupunya ini. Pasalnya selama ini ia yang selalu dikalahkan.


Dengan Ridwan yang selalu lebih unggul dan lebih dulu tahu sebelum dirinya.


Ridwan yang lebih dulu mengenal huruf dan angka.


Ridwan yang lebih dulu tahu cara mengendarai sepeda.


Ridwan yang lebih dulu tahu cara memanjat pohon tinggi.


Terlalu banyak keunggulan Ridwan dibandingkan dengan dirinya. Bahkan Ridwan justru sering mengajarkan dirinya tentang hal-hal itu. Sangat wajar sebenarnya, mengingat umur mereka, Ridwan memang lebih tua darinya meski hanya setahun lebih.


" Aku punya adik dalam perut ibuku, yeee!" Teriaknya lagi. Betapa riangnya bocah lelaki itu, tanpa tahu apa yang mengganjal di dada sang ibu dengan kebahagiaannya kini.


Keduanya telah duduk berdampingan di teras rumah Ridwan.


"Hemmm, kalau cowok kita bisa jadi tim bola, bisa kalahkan si Agus sama Reka."


Izzar mengangguk menyetujui semua kata dan usulan Ridwan. Belum apa-apa mereka telah mengatur strategi untuk mengalahkan tim lawan yang selalu mereka hadapi saat bermain di lapangan sana.


Membayangkan kehidupan sehari-hari mereka pasti akan bertambah seru dengan bertambahnya anggota keluarga.


Sementara Annisa telah berada di rumah ibunya, menyambut kedatangan Laela dengan pelukan hangat. Hanya seperti itu saja, namun mampu memancing air mata yang Kembali keluar seolah tiada hentinya.


Kabar kehamilan Laela mampu kembali mengusik ketenangan mereka, yang telah sejenak melupakan kesedihan tentang kepergian salah satu anggota keluarga.


" Aku hamil Kak, Bu!"


Ucapnya bersandar pada kakak iparnya, kedua tangan masing-masing menggenggam tangan ibu dan Nisa. KIni ia berada di antara ibu dan kakak iparnya. Setidaknya bersandar sebentar saja sebelum kembali membawa tubuh dan bebannya sendiri.

__ADS_1


Ibu mertuanya hanya mampu mengelus punggungnya tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun.


"Itu anugerah yang diberikan Tuhan untukmu. Kamu harus banyak-banyak bersyukur!" Nisa.


"Tapi aku gak punya suami."


"Sttttt,"


"Orang-orang pasti akan membicarakan ku." Laela mencoba mengidahkan isyarat dari ibu.


Inginnya ia mengeluarkan segala sesuatu yang mengganjal dalam hatinya sekarang juga tanpa hendak menunda.


Besok Mansyur akan mengantarnya pulang kembali ke kota. Rasanya terlalu sempit waktu libur ini.


"Bagaimana kalau kau ngidam bu. aku mau minta sama siapa?"


"Harusnya abang pulang sekarang, karena aku butuh suamiku bu."


"Kenapa rasanya Tuhan tidak adil begini. Suamiku diambil, tapi justru menitipkan anaknya padaku!"


"Aku harus apa bu!"


"Stttt. Kamu gak boleh ngomong kayak gitu!" Ibu mulai menyela. Pembicaraan Laela sudah sedikit menyimpang menurutnya. Mungkin putus asa.


"Allah tau, kamu wanita yang kuat, makanya Allah memberikan kamu ujian seperti ini. Kamu adalah wanita yang dipilih Allah untuk menitipkan hambanya. Jaga baik-baik, didik baik-baik. Karena kamu adalah ibu sekaligus ayah dari anak-anak kamu sekarang ini."


"Tentang anak itu, jelas punya ayah, meski sekarang tak ada bersama kita. Nasabnya pasti, Bin atau Binti Nizam."


"Jika memang sudah tak sanggup lagi merawat cucu ibu, berikan pada ibu! Biarkan nanti ibu yang merawat dan membesarkan cucu-cucu ibu."


Bukan maksud mengambil, namun Ibu tahu jika pundak itu mungkin telah lelah.


"Gak mau."


"Nanti abang marah kalau aku titipkan anakku pada ibu."


Ibu hanya mampu terdiam tanpa menyela lagi. Hidup Laela sejauh ini telah terkontaminasi seluruhnya pada Nizam.


CInta yang terlampau besar, membuat wanita itu akan mengikuti segala ucapan pria itu. Beruntung pria yang ia cintai sosok seperti Nizam. Yang mampu membawa dan menuntunnya ke jalan yang lebih baik lagi.

__ADS_1


__ADS_2