Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Demi Kebagiaan Anak-anak


__ADS_3

" Kamu juga ikut pulang dong sayang. Gak baik terlalu lama menumpang di rumah orang! Engga enak, kalau merepotkan orang terus!" Jujur ia tak terlalu pandai membujuk. Kalimat yang keluar benar datang dari otaknya yang polos.


" Tapi kata oma, boleh kok! Aku juga bisa minta Ibu Laela tinggal di rumah, tapi setelah ayah sama Bu guru kawin dulu!"


Deg!


Pernyataan macam apa yang keluar dari bibir bocah cilik ini?


Armand seketika itu pula langsung melirik ke arah ibunya, sementara yang dilirik juga turut melirik secara bergantian ke arah sang Putra, lalu ke arah Laela. Terlalu bisa ditebak jika, perkataan gadis polos itu berasal dari bisikannya.


Di sudut sana, Laela hanya bisa menundukkan kepala. Dalam pikirannya kini, ia takut jika dianggap sebagai orang yang telah mempengaruhi bocah polos itu.


Sementara ibu yang turut bergabung menemani sang tamu hanya bisa tersenyum masam, tak terlalu menganggap berarti celutukan sang bocah.


"Eheemm, eheeemmm." Oma berdehem, berusaha mengembalikan suasana yang tempat canggung di antara mereka.


" Benarkan Oma?"


Gubrak.


Dan sekarang wanita tua itu seperti merasa tertangkap basah setelah melakukan suatu kejahatan. Tak ada lagi yang bisa ia jadikan sebagai pengalihan. Hendak menutup mulut sang bocah, tapi ah sudah terlambat kini.


Ah sudahlah, Mungkin memang ini saatnya. Terlebih saat ini semua mata tertuju padanya, seolah Tengah mencari sebuah kepastian.


Namun tidak untuk Laela, wanita itu hanya sebentar menatap oma, lalu kemudian kembali menundukkan kepalanya. Ia tidak pernah bermimpi untuk menikah lagi, tak pernah bermimpi untuk menggantikan sang suami yang hingga kini masih mengisi hatinya.


"Eheeemmm, begini!" Terlanjur basah sudah, oma kini berniat berbicara secara serius. Benar saja, kini ia kembali menjadi pusat perhatian para penduduk ruang.


"Saya berniat melamar Laela untuk menjadi istri dari anak saya, Armand." Tangannya kini menyentuh paha sang putra seolah tengah memperkenalkan pria yang kini tengah ia bicarakan ini. Namun sedikit tekanan ia berikan, berharap pria itu tak menyela ucapannya, apalagi jika sampai membantah, bisa malu dia kini.

__ADS_1


" Kita tahu jika mereka sama-sama single parent, baik putra saya maupun Bu Laela, apalagi anak-anak mereka terlihat sangat cocok."


"Heem, kalo Bu guru jadi kawin sama ayahku, aku janji akan membagi kamarku dengan Sofiah, iyakan oma?"


Ya ampun, nih bocah masih nyelutuk aja. Boleh gak sih, di kirim ke planet pluto dulu? Eh tapi cucu sendiri, kan sayang.


Batin oma tengah bergelut sendirian. Lama kelamaan rasanya Meidina siap membongkar


" Zar, Izzar!" Suara nenek sedikit lebih besar, memanggil cucunya yang lebih memilih duduk di teras bersama dengan Ridwan. Sebongkah hatinya sempat tercubit kala mendengar permintaan oma Meidina itu. Jika ayah Meidina dan ibunya menikah, apakah itu artinya pria itu akan menempati tempat sang ayah?


Bukan bermaksud untuk menguping, tapi jarak antra mereka yang hanya terpisah dengan satu dinding, ditambah dengan pintu yang tak tertutup membuat semua suara yang berasal dari dalam tertangkap jelas oleh indera pendengarannya.


Pun dengan Ridwan. Kedua bocah lelaki itu hanya terdiam saja. Memberikan waktu pada otak yang bebas memikirkan segalanya.


" Izzar!" Kini wanita paruh baya itu telah berdiri di gawang pintu. Entah apa yang dipikirkan oleh cucunya ini hingga mengidahkan panggilannya sedari tadi.


" Ya, apa?" Tuh kan benar kelabakan.


" Bawa adik-adikmu pergi main dulu. Gak usah jauh-jauh! Ke sebelah saja yah!"


Rasanya pembicaraan dengan tamunya sedikit serius. Mengamankan anak-anak terlebih dahulu sebelum kembali melanjutkan obrolan. Tapi, mentari yang semakin meninggi, dan waktu makan siang yang sebentar lagi membuatnya ragu melepas anak-anak untuk bermain lebih jauh.


Kedua bocah lelaki langsung mengangguk kemudian berdiri. Mengikuti intruksi sang nenek, membawa kedua bocah perempuan itu pergi dari rumah itu.


Nenek masih mampu melihat tatapan kosong Izzar saat bocah itu meninggalkan rumah sambil terus menundukkan kepala. Ia masih bisa mencoba mengetahui isi hati sang cucu. Menerima orang asing menggantikan posisi ayahnya pasti tak mudah bagi bocah pria itu.


Wanita paruh baya itu kembali masuk, masih dengan suasana hening yang tercipta. Kedua orang yang jadi pembahasan hanya mampu tertunduk dengan segala prasangka dalam diri masing-masing.


Sementara oma turut terdiam, hanya tangannya yang sedikit bergerak menyengol-nyenggol sang putra.

__ADS_1


Armand diam, benar ia tak tahu apa yang menjadi arti dari senggolan-senggolan kecil sang ibu. Iapun tak tahu apa yang akan ia ucapkan kini. Tak pernah menyangka jika ibunya telah berpikir sejauh ini.


Bukankah menikah tak semudah membalikkan telapak tangan. Menikah adalah menyatukan dua orang dalam satu ikatan, tapi untuk mereka bukan hanya dua orang, tapi lebih. Masih banyak yang harus dipikirkan.


" Eheeem, eheeem." Oma kembali berdehem untuk kesekian kalinya. Sepertinya akan kembali berucap, entah itu apa dan semoga saja kalimat yang terlontar tak meruntuhkan langit biru mereka.


" Kita semua tau jika Laela adalah seorang janda, begitupun dengan putra saya ini, sama, dia seorang duda dua anak. Apa salahnya jika kalian bersama-sama, saya rasa kalian cocok!" Kepalanya bahkan mengangguk-angguk seolah membenarkan sendiri segala opininya dengan begitu meyakinkan.


" Mungkin mereka memang belum ada perasaan satu sama lain, tapi bukankah cinta bisa hadir karena terbiasa?"


" Meidina masih kecil, ia juga masih butuh kasih sayang seorang ibu. Dan saya harap semua itu bisa ia dapatkan dari bu guru kesayangannya, Bu Laela. Begitupun dengan Sofiah, ia juga masih butuh kehadiran seorang ayah, dan putra saya semoga bisa menjadi sosok itu."


" Anak-anak membutuhkan keutuhan keluarga demi kebahagiaan mereka. Dan kita sebagai orang tua hanya bisa memberikan apa yang kita bisa."


" Bahkan orang tua yang lainnya rela melakukan apa saja demi kebahagiaan anak-anak mereka, lalu bagaimana dengan kita?"


Tangannya kembali mencengkram paha sang putra yang hingga kini belum mengerti arti dari cengkraman itu. Meminta pertolongankah atau apa, ia tak tahu.


Armand hanya membiarkan semua tingkah ibunya meski berat. Jika memang mereka berjodoh, tak perlu ragu lagi maka mereka pasti akan menikah seperti mau ibunya ini.


" Bagaimana dengan ibu, apakah sependapat dengan saya?" Tangannya terulur ke hadapan ibunya Nizam. Oma tahu jika yang dihadapannya ini bukanlah ibu kandung Laela melainkan adalah ibu mertua dari wanita itu.


Helaan napas pelan sebelum ibu Aminah berkata, " Semua keputusan ada di tangan Laela." Tatapan menuju pada Laela.


" Mungkin perlu bapak dan ibu ketahui, jika Laela adalah menantu dari mendiang putra saya. Jadi jika memang kalian hendak meminang menantu saya ini, mungkin bisa melalui orang tua kandungnya. Saya rasa mereka lebih berhak dari saya."


Dan saat itu pun Armand berani menganggkat wajah, menatap Laela yang masih menundukkan kepalanya. Pria itu hanya hendak mengukur, berapa dekat wanita itu dengan keluarga mantan suaminya ini.


Suaminya yang telah tiada bisa ia jadikan alasan untuk kembali pada keluarganya sendiri, tapi kenapa wanita itu justru lebih memilih tinggal dengan keluarga suaminya ini. Mungkin dari situ juga ia bisa menilai sedalam apa perasaan wanita ini untuk mendiang suaminya, lalu bagaimana bisa ia menggantikan posisi itu?

__ADS_1


__ADS_2