Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Satu Keluarga


__ADS_3

Malam akhirnya benar-benar berakhir dengan dua orang yang berada di atas ranjang yang sama dengan saling berpelukan tanpa sadar. Sentuhan kulit mereka membuat rasa hangat hingga terus saja beringsut mendekat meski dalam lelap.


Semalam, tak ada kata yang menggiringi tidur mereka. Hingga fajar menejang, memperdengarkan lantunan ayat suci yang terdengar saling sahut menyahut memaksa mata untuk terbuka.


Hah.


Laela tersentak kala menyadari tangannya yang berada di atas pinggang Arman. Pria yang kini telah menjadi suaminya turut meletakkan tangan di atas pinggang Laela dengan mata yang masih terpejam.


Perlahan namun pasti Laela bergerak mengangkat tangan pria itu dengan pipi yang merona merah. Ah, kehangatan kulit yang saling bersentuhan tak bisa dicegah sebab nyaman terasa. Dengan menggigit bibir bawah, wanita itu beringsut turun dari atas ranjang.


Laela kembali mendekati ranjang yang masih dihuni oleh sang suami dengan mukena yang telah terpasang menutupi seluruh tubuh. Kulitnya pun masih terasa lembab bekas wudhu.


Tangan terulur ke arah ARmand, hendak membangunkan namun masih ragu. Apakah pria itu mau disentuh olehnya? Kembali menjauh dengan menggigit bibir, kepalanya saat ini tengah berpikir sangat keras, tentang apa yang hendak ia lakukan kini.


Suara azan telah lama berhenti sejak ia masih berada di dalam kamar mandi, dan waktu subuh hanya sebentar saja. HIngga ia harus memaksakan diri untuk membangunkan Armand. Tentang reaksi pria itu, ia akan bersiap menerima saja.


Tangannya kembali terulur hendak menyentuh pundak Armand, namun kembali unrung sebab memikirkan panggilan apa yang cocok untuk pria itu.


Abang? Hah itu akan mengingatkannya pada mendiang suaminya dulu, Nizam.


Kakak? Mungkin itu terdengar lebih masuk akal.


" Kak!" Tangan yang ia gunakan untuk menyentuh ARmand hanyalah sebuah telunjuk yang sedikit menekan-nekan.


" Kak!" Ulangnya lagi.


Dan beruntungnya ia, Armand telah terbangun hanya dengan dua kali dorongan di pundak.


" Hah, kenapa kamu, ... ?" Pria itu terlihat bingung wanita itu kini tengah berada di dalam kamarnya.


Terlebih lagi, pakaian wanita itu berwarna putih menutup seluruh tubuh. Seperti, ....


Namun kalimat tanya yang tadinya hendak keluar di bibir seketika terhenti kala ingatan tentang sebuah pernikahan telah menyambar otaknya.

__ADS_1


" Shalat!"


Sepenggal kata yang diucapkan Laela sebelum menjauhkan diri dari ranjang.


Armand mengusap kasar wajahnya, pandangannya masih mampu memandang wanita itu yang terlihat sibuk menggelar sajadan untuk mereka saat ia mencoba bangkit dari tempat tidurnya.


Dan satu kelegaan bagi Laela, ketika Armand ternyata mau untuk berdiri di depannya. Mengimami dirinya di subuh pertama ia berada di rumah ini.


Pria itupun masih mau memakai pakaian kerja yang ia pilihkan, meski ia berpikir mungkin hanya ingin menghargai pilihannya.


Armand baru saja turun saat hidangan telas siap di atas meja. "Anak-anak mana?" Sebab tak melihat satupun dari mereka.


Libur yang masih panjang nyatanya mereka gunkana untuk bermalas-malasan di kamar, menambah waktu tidur. Mungkin untuk Izzar tidak, Laela sempat menengok keadaan putranya itu yang terlihat menata barang-barangnya di kamar.


" Belum ada yang turun." Jelas itu bukan Laela. Wanita itu masih merasa asing berada bersama suamiya.


" Tunggu saya panggilkan dulu." Memang lebih baik bagi mereka untuk berkumpul bersama anak-anak. Lebih ramai dan jelas mengurangi rasa canggungnya.


Menyiapkan nasi kuning yang tadi ia buat bersama bibi dan ibu ke piring sang suami, " Mau lauk apa?" Jujur ia masih ragu tentang panggilan apa yang pas untuk suaminya ini.


" Ayam goreng." Ternyata Armand pun merasakan hal yang sama, canggung dan malu. Pria itu bahkan belum memiliki keberanian memandang Laela secara terang-terangan. Meski saat Laela berjalan di sisinya deimi mengantarkannya hingga ke teras rumah. Tak usah bertanya kenapa, jelas saja itu karena perintah oma.


\=====


" Armand,..."


Armand menatap sang ibu dengan begitu dalam. Tahu jika wanita itu hendak membicarakan hal penting dengannya. Bahkan kini mereka telah berada di dalam ruang kerjanya.


" Meidina, anakmu, diterima sangat baik oleh Laela dan anak-anaknya sebagai saudara."


Pernyataan ibunya hanya bisa membuatnya menundukkan kepala. Mungkin ia bisa menebak tentang apa yang hendak dibicarakan oleh sang ibu. Namun jika saja hendak menyangkal, rasanya ia pun masih bisa. Bukankah ketiga orang itu juga diterima dengan sangat baik di rumah ini?


" Mama mohon, kamu juga bisa menerima Laela dan anak-anaknya."

__ADS_1


" Mereka terlihat sangat dengat. Bahkan Mama bisa melihat, Meidina sepertinya lebih membutuhkan mereka dari pada kamu."


" Mama ngomong apa sih?" Jelas saja ia tak terima. Orang-orang itu masih terlalu asing jika dibandingkan dengan dirinya.


" Kamu terlalu sibuk, coba saja ingat kapan terakhir kamu memeluk putrimu itu?"


Sewaktu mereka baru saja pulang dari liburan, dan ia yang masih pulang malam. Dan hari-hari selanjutnya ia lebih memilih pulang sediki malam demi menunggu Laela terlelap lebih dulu.


Ia adalah pria normal, dan mendapatkan sesosok tubuh wanita halal yang terbaring di atas kasurnya, jelas saja membangkitkan sesuatu yang telah lama terlelap panjang, sebab tak memiliki lawan. Terlebih telah beberapa kali ia melihat bentuk tubuh itu, atau kulit yang terpampang sebab baju tidur Laela tersikap ke atas.


Dan tak mungkin ia menerkan Laela, saat hubungan mereka belumlah terlalu dekat. Yakinlah, ini merupaka suatu ujian yang sangat berat bagi pria ini.


 Namun nyatanya itu juga berdampak pada putri kesayangannya, tanpa ia sadari.


Oma Ranti tak pernah tahu tentang kesibukan putranya ini. Benar-benar sibuk atau hanya mencari kesibukan di luar sana. Yang jelas dan sudah pasti, itu akan membuat jarak Armand dan seluruh keluarganya terutama putrinya menjauh.


" Kamu mau, anakmu diambil orang lain?"


" Mama ngomong apasih?" Hendak marah tapi ini ibu kandungnya, tak mugnkin rasanya. " Kan mama juga yang suruh Armand kawin sama dia."


" Oh ya?" Bu Ranti seketika menegakkan tubuhnya. Ada rasa penasaran menyelinap dalam hatinya. " Eh, kalian udah itu kan?"


Hanya sebuah pertanyaan namun mampu membuar rona merah di pipi pria itu.


Armand menggerutu dengan keingin tahuan sang ibu. Ada-ada aja, pikirnya.


Tak mungkin pula semua ia ceritakan kan?


" Iya?"


Lah orang tua itu masih saja bertanya dengan penuh keingin tahuan.


" Mah, aku mau tidur, boleh?" Pria itu menunjuk ke arah pintu, hendak lari sebelum pembicaran itu semakin jauh.

__ADS_1


__ADS_2