
Nizam masih berdiri di depan lemari pakaian, menengadah menatap sisi atas dari lemari. Di sana koper pink Laela harusnya tersimpan, tapi keadaan pun sama, tempat itu sudah kosong.
Laela telah pergi dengan membawa barang-barangnya, Laela benar-benar ingin meninggalkan Nizam Memang benar kata ibu, jika Wanita itu telah berada dalam batas kesabarannya dalam menghadapi Nizam. Suami yang tak pernah menganggap dan menerima kehadiran dirinya sejak awal.
Sejenak Nizam terpaku masih mendongak.
Kaki mulai mundur ke belakang, lemas rasanya tubuh saat menyadari kejadian ini benar adanya. Membuang tubuh begitu saja saat kakinya menyambar tempat tidur, ia terduduk dengan kedua bahu turun, turut lemas.
Pertanggung jawabannya akan Laela segera diminta oleh keluarga itu, lalu pertanggung jawabannya dengan yang di Atas bagaimana?
Kembali merasakan pukulan di bahunya, " Kamu zdalim Zam, kamu zdalim dengan istrimu."
Annisa menghampiri ibunya mencoba menenangka, adiknya bahkan terdiam tanpa sepatah katapun. "Bu sabar bu! Kita cari Laela sama-sama!"
"Kenapa kamu malah tinggal bengong Zam? Tanggung jawab! Cari Laela sekarang juga!" Ibu kembali melayangkan pukulan di pundak Nizam.
"Mau cari di mana bu?" Nizam baru mengangkat kepalanya, tatapan sendu seperti orang yang minta tolong.
"Kamu cari di mana saja." Panik ibu belum hilang.
"Coba kamu telpon keluarganya? Mungkin udah sampai rumah?" Untungnya masih ada Annisa yang berpikir dingin diantara kedua orang yang sama paniknya.
"Memangnya kamu ketemu sama Laela jam berapa?" Ibu kini menghadap pada Annisa.
"Abis magrib aku langsung keluar." Annisa.
"Kakak ketemu sama Laela?" Nizam.
Nisa mengangguk, "Iya tadi, kayaknya itu waktu dia mau pergi, tapi malah bohong bilang disuruh sama ibu minta daun seledri. Itu cuma alasan dia aja pasti."
"Aduuuhh, ya ampun." Menepuk keningnya sendiri. "Kenapa gak kepikiran waktu liat pakaiannya yah?"
"Iya Zam, Laela pake baju bagusnya, rapi."
"Aduuuh, aku kok bod0h banget yah!" Merutuki diri sendiri.
"Udah, kamu telpon keluarganya sekarang, tanya Laela udah sampai apa belum?" Ibu.
"Aku malu bu!" Nizam dengan menunduk. Mau bilang apa pada keluarga istrinya nanti.
"Tuh kan malu sendiri! Biar ibu aja." Ibu mulai berjalan keluar kamar.
Mulai menghubungi nomor ibunya Laela. Namun wajah semakin pias saja saat jawaban di sana tak seperti yang diharapkan. Laela belum sampai di rumah orang tuanya.
"Cari Laela Zam! Cari Laela!"
__ADS_1
"Iya bu." Bergegas bergerak mungkin kesadaran telah kembali.
Keluar dari rumah mulai mengendarai motornya. Beberapa orang mencoba menyapa dan bertanya mengapa Nizam pergi begitu saja saat shala baru akan dimulai.
Tak menjawab, Nizam hanya membunyikan klakson. Ia begitu terburu-buru, lebih saat merasakan angin berhembus dingin pertanda hujan akan turun. Ia harus menemukan istrinya sebelum itu.
Sementara di sana.
Laela telah berteduh di sebuah rumah kosong, saat hujan telah menghampiri tempatnya berdiri. Rasa takut menghantui, apalagi saat terdengar bunyi keras menghantam si Langit.
Ada rasa menyesal dalam hati, kenapa pergi disaat seperti ini? Semoga saja Nizam mencarinya.
Tangan menggeledah tas selempangnya, mencari alat komunikasi. Harusnya sedari tadi ia menghubungi kakaknya, minta dijemput dari rumah mertuanya.
DUARRRR.....
Petir besar menyambar, membuat Laela refleks menutup telinga dengan kedua tangannya.
Ciiiittt....
Sebuah motor berhenti tiba-tiba turut masuk berlindung di depan teras rumah kosong itu. Dikendarai seorang pria yang baru saja membuka helmnya.
Laela terus saja menunduk. Pergerakan di sisi sana hanya tertangkap oleh ekor matanya. Perlahan ia mulai merendahkan tubuh, berharap agar tak terlihat oleh sang pria.
DUARRR....
padahal pria di sana jelas melihat keberadaannya sejak tadi.
Pria itu melangkah, mendekat membuat nyali Laela menciut, tubuh yang berjongkok semakin dibuat kerdil. Semoga tak terlihat, do'nya.
" Kamu,… Laela kan?"
Suara itu? Sepertinya ia kenal. Tapi siapa dan di mana? Laela terlalu takut untuk mengangkat kepala, justru semakin menunduk berharap sosoknya tak terlihat.
" Kamu takut? Hehehe,…"
"Laela, ini aku, Rizky Temannya Kakak kamu. Nggak usah takut, kita kan hampir menikah!" Rizky Berusaha untuk terus menyapa dan seolah ingin memberi tahukan bahwa gadis itu tak sendiri.
DUARRR....
Hah, petir itu kembali terdengar mengagetkan dan membuat Laela kembali terhentak. Bunyi decit pintu terdengar, "La, kamu masih masuk ke dalam aja! Biar nggak terlalu kedinginan."
Laela mulai mengangkat kepala, sinar cahaya dari senter ponsel pria itu menyilaukan mata.
"Laela, sini!" Aku nggak akan ngapa-ngapain kok! Aku takut nanti dipukulin keluargamu kalau sampai kamu lecet." Ucap Rizky lagi meyakinkan.
__ADS_1
Laela mulai bangkit berjalan tak lupa menyeret koper miliknya, masih dibantu penerangan dari ponsel Rizki.
Pria itu terlihat menggoyangkan sebuah kursi, mencoba menguji kekuatan apakah masih layak diduduki atau tidak.
" Kamu duduk sini!" Masih layak, pria itu menunjukkan kursi itu pada Laela.
" Makasih Kak!" Kata pertama dari Laela cukup melegakan bagi Rizky, setidaknya gadis itu sudah tidak terlalu takut padanya.
Pria itu kembali menggoyang-goyangkan sebuah bangku.
Laela turut mengambil ponsel di dalamnya mencoba menghubungi nomor ponsel kakaknya, sayangnya hujan lebat seperti menjadi tirai untuk menutupi sinyal hingga membuat telepon sulit tersambung.
" Aku sudah kirim pesan untuk kakakmu, kita tunggu saja." Rizky.
Kaku dan keki itulah yang dirasakan Laela saat ini. Jari-jarinya terus bergerak di atas layar,
🗨" Kak tolong aku!"
🗨" jemput!"
Laela hanya bisa mengirimkan pesan pada kakaknya. entah nanti kapan orang di sana membacanya.
Helaan nafas pada orang yang baru saja membaca pesan itu. Hal ini sudah bisa diprediksi sebelumnya, tapi tak pernah berpikir jika ini akan terjadi lebih cepat. Baru sebulan lebih, harusnya hubungan mereka masih hangat-hangatnya.
Hingga akhirnya lampu senter ikut Ia nyalakan.
" Jangan dulu nyalakan senter hp-mu, kita pakai penerangan dari hp-ku saja dulu. Nanti kalau hp-ku mati baru pakai hp-mu. Kita nggak tahu sampai kapan hujan akan reda. Kita juga nggak tahu sampai kapan hp-ku bisa bertahan."
Panjang lebar yang telah Rizki ucapkan hanya dibalas anggukan kepala oleh Laela.
Untuk beberapa saat suasana hening tanpa pembicaraan lebih lanjut.
" Aku kira kamu nggak akan nolak Perjodohan kita dulu."
Laela hanya tersenyum menanggapi, Seandainya bisa ia ingin menjauh dari pria ini.
Ia bukannya tak sadar, semenjak perjodohan itu pria ini selalu memperhatikannya lain daripada yang lain. Bukan sebagai teman dari kekasihnya, entah apa arti dari tatapan itu.
Namun yang jelas Novia pernah cemburu berat pada dirinya, mengharuskan Ia terus menjauh, berharap tak ada lagi kesempatan bahkan hanya untuk sebuah gosip di antara mereka.
" Padahal aku nggak pernah menolak Perjodohan kita. Aku pun tak keberatan jika harus menikahimu."
" Kakak kan punya Novia."
" Seandainya dia tidak ada di antara kita, Apa kamu masih mau melanjutkan Perjodohan itu?"
__ADS_1