
Nizam kembali masuk ke kamar setelah mengantar kakak iparnya hingga ke teras. mendapat nilai-nilai yang terduduk di sisi ranjang dan masih meluluhkan kepala sambil menekuk wajah.
seandainya disampau perjuangan Laila saat ini hanya untuk menahan diri agar tetap jaim terlihat di depannya.
" kak Sini kak! kak Peluk dong! Kan tadi udah minta maaf!"
sayangnya itu hanya bisa diteriakkan Laela dari dalam hatinya. Gadis itu hendak menguji Nizam sekarang seberapa besar perjuangan nih sampai demi mendapatkan maafnya. apa yang terlihat saat ini justru bertolak belakang dengan apa yang ada di hatinya.
" belum ganti baju juga?"Nizam saat melihat pakaian Layla tak berubah sama sekali. Laila kembali menekuk wajah
Nizam bisa berjalan menuju ke koperLaela, membuka, mengeluarkan baju tidur selalu memberikannya padaLaela.
" nih ganti baju dulu!" sayangnya Laila masih terdiam memandang Nizam yang mengulurkan pakaian padanya.
" mau dibantuin?" ucap Nizam kemudian kemudian
" Emang berani eh," keceplosan Padahal di sini Laila ingin berakting menjadi gadis pendiam yang sedang merajuk.
" Kamu nantangin?"
Laela semakin membolakan mata Saat Nizam menaruh pakaiannya di ranjang kemudian tubuh jakung itu mulai menunduk memegang Sisi bawah bajunya.
sejenak mereka terdiam dan saling berpandangan. waktu terasa berhenti berputar di kamar itu.
namun detik-detik selanjutnya, tangan yang masih memegang Sisi baju Laela itu sudah terlihat gemetaran.
__ADS_1
bayangan punggung polos putih dan mulus itu kembali terlintas di otaknya. dan sekarang Nizam seolah menggali lubang kuburnya sendiri. Dapatkah ia bertahan setelah ini?
sementara Laila masih menanti keberanian Nizam.
se polos itukah suaminya.
" aku nggak bisa La. aku takut tak bisa mengendalikan diri." tangannya telah jatuh lunglai di samping tubuh. memilih duduk di sampingLaela karena lutut pun terasa bergetar.
" Memangnya kenapa? kan sudah sudah bisa sentuh-sentuh?"Laela.
mereka adalah sepasang suami istri yang sah, tak ada salahnya jika Nizam tak mampu mengendalikan diri padaLaela. itu memang haknya, tubuhLaela adalah milik Nizam.
" kamu masih muda, punya masa depan yang panjang dengan cara."Nizam
" maksudnya? Kakak nggak mau jadi masa depanku?"
" sudah kamu ganti baju, Aku tunggu di luar, kamu belum makan kan? Aku juga lapar."Nizam langsung berbalik, seolah ingin menghentikan pembicaraan ini.Laela menggelengkan kepala.
" kenapa?"Nizam.
" malu!"
Setelah semua yang terjadi, rasanya ia malu menampakan diri di depan ibu dan bapak. apalagi saat mendengarkan ceritakan Mansyur tentang betapa khawatirnya kedua mertuanya itu.
" Ya udah nanti aku ambil makan kita makan di kamar saja. "
__ADS_1
Nizam kembali masuk ke kamar dengan sepiring nasi lengkap dengan lauk dan sayur, juga segelas air putih yang ditaruh di atas nampan.Laela telah mengganti pakaiannya.
Makan Sepiring Berdua, dengan Nizam yang menyuapi Laela berganti dirinya. Gadis itu hanya perlu membuka mulutnya saja.
" udah, kenyang." Laela menggeleng dengan tangan yang mendorong sendok yang masih disodorkan Nizam untuknya.
Nizam mengangguk, akhirnya menghabiskan isi piring seorang diri.
"sikat gigi dulu, Jangan lupa langsung wudhu habis itu kita salat, belum salat kan? aku juga, tadi langsung lari waktu Kak Nisa Panggil."
Nizam sebelum beranjak dari hadapan Laela dengan piring yang telah tandas.
untuk kedua kalinya, Nizam mengangkat takbir dengan Laela yang berdiri di belakangnya.
malam terus berjalan, hingga akhirnya kedua tubuh tersebut terbaring di atas ranjang yang sama.
Nizam hanya mampu memandang punggung putih mulus yang tertutup kain dari belakang. sesuatu yang sejak awal menjadi racun dan bersarang di kepala seorang Nizam.
sebagian hati mengatakan jika semua ini adalah sesuatu yang normal. sesuatu yang memang harusnya menjadi miliknya. namun sebagian hati lainnya, terus saja menyangkal.
hingga entah keberanian dari mana, sebelah tangan terangkat dan mendarat di pinggang Laela, membuat Gadis itu terhentak kaget.
" belum tidur?" Nizam, padahal ia meletakkan tangannya dengan sangat pelan, berharap tak mengganggu tidur gadis itu, dan tubuh pun masih berjarak.
Laela tak menjawab, ingin berbalik tapi ragu masih ada.
__ADS_1
" tidurlah!" beserta ucapan lembut di kepala sang istri.