Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Tamu Malam Hari


__ADS_3

Nizam memilih berdiri, masuk ke dalam kamar. Pembicaraan ini seolah memberatkan kepalanya.


Tidur terlentang sambil memandang plafon kamar. Kenapa Tadi ia tak bisa membantah ucapan gadis itu. Padahal Ia tak pernah berbuat apa-apa.


Kemarin melupakan sebuah kecelakaan yang tak disengaja. Tapi Gadis itu membuat seolah menjadi berat dan harus di hukum.


Apa benar, hanya karena tak sengaja mencium Pipi sang gadis Ia harus bertanggung jawab. Kalau tanggung jawab apa Yang harus ia lakukan. Bukan Sampai menikah kan?


" Assalamualaikum." Salam dari luar terdengar lama-lama di telinganya.


" Waalaikumsalam." Disambut oleh orang-orang yang memang telah berada di dalam. Pak RT yang terdengar paling antusias.


" Silakan duduk pak! Silakan duduk!" Ucap pak RT lagi tentu saja pada sang tamu.


Feelingnya berkata, mungkin tamu itu keluarga dari sang gadis.


"Waaah, maaf ini pak sebelumnya karena telah mengundang bapak jauh-jauh kemari, hehehehe." Pak RT memulai berbasa-basi. Berbicara sambil sesekali terkekeh demi mencairkan situasi. "Malam-malam begini lagi, hehehehe."


"Iya gak pa-pa pak. Saya juga sedikit kaget waktu ada teman yang bilang mau ngajak ke sini, hehehehe," Turut menyambut basa-basi, pun dengan kekehan.


" Apa benar gadis ini anak pak dusun?" Pertanyaan to the point dari Pak RT. Malam semakin larut, mungkin menginginkan agar masalah cepat mendapat jalan keluar.


Nizam bangkit dari tidur, duduk sambil menajamkan pendengaran.


" Iya benar pak, ini putri bungsu saya. Ck, biasalah remaja, apalagi jadi anak perempuan satu-satunya. Ya manja, semua semua harus dituruti. nggak dikasih ya gini, kabur. Hehehe,"


Dalam hati Nizam bersyukur, gadis itu akan pergi dari rumahnya malam ini juga.


"Iya pak kami ngerti."


"Tapi Ini, emmm masalahnya, ...?" Suara pak RT terhenti, memikirkan kata selanjutnya setidaknya keluarga Gadis itu tidak tersinggung.


Ck, lagi Nizam membanting punggung di kasur miliknya. Tidur terlentang.


Mungkin sebentar lagi ia akan dipanggil turut bergabung di luar. Apa yang akan ia katakan, agar orang-orang mampu mempercayainya.


"Nizaaaam."


Benar saja, tak lama setelah itu namanya disebut. Ada Ibu yang berdiri di depan pintu kamarnya sambil mengetuk pelan.


Nizam bangkit dengan malas, ingin marah tapi tak bisa. Yang ia hadapi di depan adalah tetua kampung.

__ADS_1


Menatap ibu dengan pandangan nanar, mengiba dan penuh pengharapan.


" Di luar ada ayahnya Laela, yang satunya itu kakaknya Laela, terus yang satunya itu kenalan Pak RT kayaknya. Kamu keluar dulu ya!" Minta Ibu suaranya masih tenang.


" Ibu nggak percaya sama aku?" Tanyanya.


" Ibu percaya. Ibu percaya. Dan akan selalu percaya sama kamu." Dukungan buat sang anak.


" Jadi bagaimana?" Pak RT kembali melayangkan tanya yang sama untuk kesekian kalinya.


Nizam diam, mau bagaimana dia pun tak tahu.


Hening untuk beberapa saat. Orang-orang saling memandang, sebentar memandang Nizam lalu berganti Laela. Kedua remaja itu saling menunduk.


"Nizam sudah cukup umur, pekerjaan juga ada. Mapan untuk membangun rumah tangga." Pak RT memulai kalimat dengan pujian terhadap Pemuda itu.


"Saudara Nizam juga menjadi salah satu Imam salat di kampung kami."


Namun itu tak membuat Nizam melayang, justru ia semakin menundukkan kepala.


Orang yang dianggap Saleh, difitnah seperti ini. Tak terima namun tak bisa membantah. Bibirnya memang sempat menyentuh permukaan wajah gadis itu, tapi sumpah dia tak sengaja. Itu hanya sebuah kecelakaan.


"Ya Bagus kalau begitu, sudah siap nikah." Kalimat pendukung dari keluarga sang gadis.


"Kami menunggu itikad baik dari keluarga Bapak." Mungkin ini sebuah permintaan dari keluarga Laela.


Akhirnya briefing selesai saat waktu menunjukkan hampir tengah malam.


Laela harus mau meninggalkan rumah itu, kembali pada keluarganya.


Menyisakan Bapak, Ibu dan Nizam yang kini tengah berkumpul di meja makan demi mengisi Kampung Tengah.


Makan dengan diam, menikmati santapan malam pada jam yang sudah sangat terlambat. Setiap Insan memikirkan pada suatu masalah.


Masing-masing mengartikan iktikad baik yang diungkapkan oleh keluarga Laela.


" Jadi kapan kita akan ke rumah gadis itu?" Suara tenang bapak saat baru saja menyelesaikan santap malam.


Mereka masih terduduk di kursi meja makan.


" Bapak tidak percaya dengan aku?" Pertanyaan yang sama yang ia lontarkan tadi pada ibu.

__ADS_1


Bapak terdiam, dan dari diam itu Nizam bisa menjawab sendiri pertanyaannya.


"Nizam nggak melakukan apa-apa sama Gadis itu Pak!" Ucapnya.


Bagaimana rasanya saat orang terakhir yang ia mintai perlindungan justru tak percaya padanya.


"Bapak percaya sama kamu, tapi... "


Nizam tersenyum masam, tertunduk. sedari tadi rasanya ia tak mendapat dukungan dari pria itu.


Dalam diam seolah bapak meyakinkan tuduhan Laela padanya.


" Kita percaya." Itu suara ibunya yang mungkin hanya mencoba memberikan kepercayaan padanya.


" Ibu percaya sama kamu." Ucap ibu lagi.


" Kamu tahu rukun iman yang terakhir?"


Nizam mengangguk, meski tanpa suara.


" Iman kepada Qada dan Qadar. Artinya percaya dan setiap ketetapan Allah."


"Dan mungkin saja Laela jodohmu adalah salah satu ketetapan Allah yang harus kamu terima dan percaya." Ibu masih berbicara dengan nada tenang dan lembut. Namun mampu menyentuh sudut hati terdalam Nizam.


Meski hati kecil belum saja menerima semua itu.


" Biar aku saja Bu!" Melerai tangan ibu yang telah siap di bawah kucuran air wastafel, membersihkan piring kotor sisa makan malam mereka.


Iba rasanya melihat ibu yang masih terjaga pada jam seperti ini, dan itu semua karena rapat dadakan dengan keluarga gadis asing itu. Rasa kesal kembali mengetuk demi mengingat itu semua.


"Nggak apa-apa biar Ibu saja, kamu masuk tidur, besok kan kerja pagi lagi."


"Ini juga mau tidur, makanya biar Nizam saja biar cepat Bu!" pintanya lagi.


Tak ingin berlama-lama Ibu Pun memilih mengalah, menjauh dan menanti sambil membereskan hal lain dalam dapur.


" Bu aku ke masjid ya." Pamitnya pada ibu setelah pekerjaannya selesai.


"Katanya mau tidur?"


" Iya Nizam mau tidur dia masjid saja." Niat dalam hati akan bangun sepertiga malam demi menenangkan diri dan mencari jawab dari segala gundah yang menghampiri.

__ADS_1


__ADS_2