
Sepanjang perjalanan pulang Laela beserta keluarganya, Tak ada satupun kata yang tercipta di antara mereka.
" Awas jangan maksa-maksa lagi buat jodohin!" Pesan Laela sebelum masuk ke dalam rumah.
" Laelaaaaa. Dari mana saja kamu Nak?" Ibu yang muncul dari dalam saat mendengar riuh dari luar kamar.
" Ya ampun Laelaaaaa." Histerisnya ibu saat mendapatkan Putri bungsunya kembali pulang dengan selamat.
Berjalan cepat demi menghampiri Sang Putri, " Ya ampun, anak kesayangan ibu." Kecupan sayang bercampur khawatir mendarat di seluruh permukaan wajah.
Memeluk, mencium, menyalurkan rasa rindu setelah 2 hari tak bersua.
"Udah Bu, capek!" Laela justru menepis. Meski dengan pelan Namun mampu mematahkan hati lembut ibu. Mengidahkan raut khawatir yang terpasang di wajah sang ibu.
Bukan tak merindu, namun sebagai bentuk protes pada ibu yang tak mau membelanya waktu itu.
Ibu terima, dikiranya Laela takkan berani untuk kabur meninggalkan rumah seperti ini. Ternyata gadis yang ia anggap masih kecil itu nekat juga.
"Udah, besok aja lepas kangennya. Udah malam, Mansyur juga harus pulang, kasian istri anaknya menunggu di rumah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di sana, Nizam terus berjalan di tengah malam.
Meski dengan menutup mata, Ia bahkan tahu pada langkah ke berapa harus berbelok.
Memasuki masjid lewat pintu samping, tak lupa mengunci kembali. Satu mata kipas angin dinyalakan, demi menghalau nyamuk-nyamuk nakal yang telah bersiap menggerogoti tubuh. Lalu Shalat dua rakaat.
Di atas karpet bergambar masjid, tubuh berbaring terlentang. Pandangan lurus ke awang-awang, namun pikirannya jauh melayang.
Berbicara tentang jodoh, ingatannya tertuju pada seorang gadis nun jauh di sana.
Anak Pak ustaz, yang sejak dulu menjadi primadona di pesantren mereka.
Cantik, pintar, lembut, dengan tutur kata sopan dan santun. Hati siapa yang takkan jatuh.
Seluruh tubuh dijaga dan ditutup, dipersiapkan khusus untuk sang pendamping hidup. Agamapun mantap.
Wanita yang memang telah siap untuk menjadi istri dan ibu.
Bukankah orang tua yang akan menjadi guru pertama untuk anak-anaknya?
Di sepertiga malam, Nizam terbangun. Sejenak berfikir, ia harus melaksanakan salat istikharah atau salat hajat?
Salat hajat agar pernikahannya dengan gadis asing itu tak terlaksana.
Tapi bagaimana jika Gadis itu justru membawa seribu kebaikan yang tak ia ketahui.
Menjatuhkan takbir dengan niat salat istikharah, Semoga Allah memberikan petunjuk mana yang terbaik untuk jodohnya.
Kembali tidur sambil menunggu waktu subuh.
Dan kembali pulang ke rumah setelah Subuh berjamaah.
Mengawali waktu dengan rasa kantuk yang masih tersisa.
__ADS_1
" Kata bapak kamu istirahat aja, ayam biar bapak yang urus. Katanya, bapak bisa pulang tidur siang sementara kamu nggak bisa."
Nizam mengangguk, memang masih mengantuk karena tidur malam tadi hanya sedikit.
Lebih meminta kopi menggantikan teh yang biasa ia nikmati sebagai hidangan pembuka paginya.
"Nizam, mandi!" Dibalik pintu suara Ibu terdengar, diiringi dengan ketukan pintu. " Kamu nggak kerja?"
"Kerja bu." Mencoba melawan rasa kantuk, tubuh belum beranjak dari tempat tidur.
Kembali tidur saat pulang kerja, memeluk guling yang sudah sedari tadi ia rindukan.
"Nizam sini!" Panggil ibu saat baru saja iya melangkahkan kaki keluar kamar.
Hari menjelang petang, siap mandi sore lalu ke masjid.
Kini mereka telah kembali berkumpul di rumah itu setelah seharian melakukan kegiatan masing-masing.
" Kamu ada tabungan kan?"
Nizam mengangguk.
Ibu tersenyum, putranya ini selalu bisa diandalkan, " Alhamdulillah, Ibu juga ada kok."
"Liburnya kapan?"
"Kenapa bu?" Tanyanya.
Ibu menghempaskan nafas, " Mau ke rumah Laela, keluarganya menunggu kedatangan kita.
"Ya pasti melamarnya untukmu." Penjelasan ibu.
Nizam termenung, langkah yang diambil ibu rasanya terlalu tergesa-gesa. "Bu,...."
Heh. Entah bantahan apa yang ingin ia ucapkan, rasanya tak tahu bagaimana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu apakan pria itu sampai mau menikah denganmu?"
" Emangnya aku apaan?" Laela sambil memasang wajah ketusnya, " Nggak ngapa-ngapain kok." Namun enggan mengangkat wajah demi melihat mata ayah dan kakaknya.
" Terus kenapa ada gosip kalau dia nidurin kamu?"
Laela masih bungkam, menyibukkan diri dengan menikmati acara kartun di layar tv.
"Katanya dia kadang jadi Imam Shalat yah?" Ayah turut bertanya.
"Ya mana ku tauuuu. Ketemu aja jarang." Lela menjawab dengan malas.
Hihihihi, cekikikan tertahan keluar dari arah Kak Wardah. Wanita itu membiarkan saja putranya yang baru belajar berjalan ke mana-mana. Sambil sesekali memegang pinggiran sofa, bocah setahun itu terus berjalan di sekitar keluarga mereka.
"Ini? Ini apaan sih? Yah?" Ibu.
Berita tentang Nizam telah sampai pada masing-masing nyonya, namun belum jelas karena semalam terlalu larut untuk bercerita.
__ADS_1
"Anakmu ketemu cowok cakep bu. Ayah suka!" SAmbil tersenyum menatap pada sang istri kemudian menoleh pada putri bungsunya.
Laela berbinar kala mendengar kata itu, "Ayah suka?" Tanyanya. Mengangkat tubuh menuju ke sisi sang ayah, seolah mencari dukungan yang memang telah ada. Memeluk erat lengan sang ayah, mungkin bisa ide-ide lain yang bisa menogkohkan NIzam menjadi miliknya.
"Heem, ayah suka. Katanya dia pria alim di desanya, gak pernah pacaran, pekerja keras, trus ya itu, jadi imamnya yang buat ayah tambah suka."
"Tapi dia bukan pekerja kantoran seperti kakak sama Kak Rezki?" Tangan gadis itu telah bergelayut manja di lengan sang ayah. Menampakkan wajah sedih, takut ayah berubah pikiran.
"Gak pa-pa, kan dia udah punya pekerjaan tetap, yang tim penyelamat orang itu kan? Pasti tangguh!" Kepala ayah mengangguk mantap.
"Heeh, pasti tangguh yah." Lela membenarkan dengan kepala yang juga mengannguk.
"Trus kenapa ada ceritanya kalau dia sampai nidur!n kamu? Kamu yang bohong kan?" Pertanyaan serius itu dari sang kakak.
"Ayah mau bantu aku sama dia kan?" BUkannnya menjawab, Laela justru kembali merengek sama ayah.
"Iya, ayah pasti bantu!"
"Yaaah, gak bisa gitu yah. Itu fitnah namanya. Lagian kalau cowok itu memang alim gak mungkin sampai gitu kan?" Mansyur seolah tak mendukung.
Rasa kasihan pada pria itu jika memang benar adanya, lalu mendapatkan gadis manja seperti Laela, belum tentu pria itu akan sanggup.
"Yah, ayah gak bisa terus mendukung kejahatan Lela kayak gini!"
"Kejahatan apasih? Aku gak ngapa-ngapain loh!" Tangan belumpun lepas dari lengan sang ayah. Semangat baru muncul saat ayah berada di pihaknya.
"Ngak mungkin?"
Hihihihi.
"Kamu ngapain sih cekikikan mulu?" Kini berbalik pada sang istri yang sedari tadi seolah bercanda saat mereka tengah membahas masalah penting.
"Lucu aja. Sebenarnya aku juga penasaran apa yang di lakukan adik ipar kesayanganku ini bisa dapatkan pria sempurna seperti itu?" Wardah.
"Pria sempurna bagaimana?" Mansyur.
"Ayah aja langsung suka. Padahal ini buat suami anak gadisnya loh. Maunya ayahkan yang capek, tanggung jawab, trus harus PNS biar hidup terjamin sampai hari tua. Iya kan yah!"
"Lely aja, dapat suami pekerja kantoran restu ayah lumayan lama, padahal bekerja di perusahaan besar kayak gitu pasti gajinya lebih tinggi dari pada yang pegawai Negri."
Ayah mengangguk, senyum terpancar. Semua yang dikatakan oleh menantunya itu. " Suami Lely bukan pekerja kantoran tapi gudang." Ralatnya.
"Iya, tapi diakan dikasi kepercayaan buat pegang gudangnya."
"Emang kamu bisa pegang gudang? Aku gak bisa, cuma bisa sentuh temboknya aja." Mansyur.
"Ini apaan sih. Kita ini lagi bahas Lela bukan Lely." Ibu melayangkan protes pada pembicaraan yang serasa tidak nyambung ini.
"EH, nanti kalo aku nikah, Kak Lely bisa datang kan?" Lela.
"Ya harus datang dong! Ini kan pesta anak bungsunya ayah." Ibu.
"Emang udah deal yah, kamu mau nikah?" Wardah sambil memicingkan mata. Adik iparnya itu terlalu percaya diri akan dilamar.
"Ayaaaah." Lela merajuk plus membujuk. Tekadnya mendapatkan Nizam sebagai calon suami sudah bulat.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...