
Laela meretuki kebodohannya sendiri. Terlalu menjadi budak cinta Nizam, Ia bahkan sengaja tak mengambil motor miliknya di rumah dengan harapan Nizam akan selalu mengantarnya kemanapun ia pergi.
Duduk di jok belakang dengan tangan melingkar di tubuh sang suami sambil menikmati perjalanan, membiarkan rambut tergerai tertiup angin malam.
Dan akhirnya kini, hanya bisa memakai kaki sebagai alat transportasinya.
Aaaah perjuangan cinta yang sia-sia.
Sempat beberapa kali menoleh ke belakang, rasa lelah mampu meniup ragu di kalbu. Apakah harus berjalan ke depan menggapai cita-citanya, atau kembali ke belakang berusaha menjadi istri yang baik untuk Nizam.
Nyatanya cintanya pada Nizam masih sangat besar, meski pria itu telah menyakiti hatinya dengan perkataan kasar. Berharap di belakang sana Nizam menyesali semua perkataannya.
Pikiran mulai kalut.
Ck, bodoh sekali. Laela teruslah berjalan, di saat engkau menggapai cita-citamu menjadi wanita karir, dan saat itu terwujud, maka banyak cinta yang akan datang menghampirimu!
Kembali berjalan di atas aspal dengan menarik koper pink kesayangan.
Sementara di sana.
Annisa mengetuk pintu rumah ibunya, setengah sisir pisang berada di tangan untuk diserahkan pada keluarganya.
Nisa menggelengkan kepala saat melihat daun seledri yang Iya dari tadi justru berada di kursi.
" Dasar anak itu," Ucapnya sambil menggeleng, pikirnya Laela mungkin lupa.
Annisa membuka pintu yang memang tak terkunci. Terus berjalan ke dalam rumah, menemukan ibu yang berkutat sendiri di dapur tengah mempersiapkan makan malam.
Nizam dan bapak pasti masih di masjid sambil menunggu waktu Isya.
"Laela mana Bu?" Tanyanya dengan meletakkan pisang di meja begitu saja.
"Belum keluar sejak magrib." Ibu hanya menoleh sebentar kembali berjalan menyiapkan empat buah piring kosong.
" Loh kok, Katanya tadi ibu suruh minta seledri?" Kening berkerut, mulai bingung.
"Enggaaak. Tadi sempat marah-marah sama Nizam. Ck, Nizam juga," Menggelengkan pelan kepala. Sudah beberapa kali berbicara dengan putranya itu, namun Nizam hanya diam saja. Dan kini kesabaran Laela mungkin di ambang batas.
"Tolonglah nasehati adikmu itu. Dia sepertinya belum menerima Laela." Ibu Berkata sambil berbisik takut jika kedengaran Laela yang menurutnya sedang menenangkan diri di kamar.
"Sekarang coba kamu ke kamarnya bujuk Laela."
Nisa tak lagi bertanya, segera berbalik menuju ke kamar sang adik yang katanya di dalam ada Laela. Entah mengapa ada yang mengganjal dalam otaknya.
__ADS_1
Mengetuk pintu kamar dengan perlahan, "La, Laela, buka pintunya dulu dek!"
Kembali mengetuk pintu, saat beberapa lama tak menemukan jawaban dari dalam.
"La, kamu di dalam kan?"
Pikiran pun mulai kalut, dengan berbagai macam opsi yang ada. "Laela, Kak Nisa masuk ya!"
Masih tak ada jawaban, membuat Nisa memberanikan diri membuka pintu kamar.
Kosong, Laela tak ada di sana.
"Laela. Laela." Mulai meninggikan suara, entah kenapa pikirannya semakin kalut saja.
"Buuuu," Mempercepat langkah kembali ke dapur.
"Laela nggak ada, buuuu." Wajahnya langsung pias. Bagaimana jika Laela meninggalkan rumah mereka, itu yang ia pikirkan sekarang.
"Nggak ada bagaimana?" Tangan terhenti bergerak begitu saja.
"Laela kabur Bu, Laela kabur. Tadi itu dia bohong, waktu bilang disuruh minta daun seledri sama ibu. pasti itu tadi saat dia mau kabur tapi lihat aku di depan."
"Ck,Laela-Laela kenapa suka kabur segala sih? Kan bisa bicarakan baik-baik."
Ibu membatu, ingatan melambung Saat Nizam menemukan Laela yang ternyata kabur dari rumah. Bagaimana jika benar Laela kembali melakukan aksinya kabur dari rumah? Apa yang harus ia sampaikan pada keluarga Laela nanti?
" Ya Allah Nis apa yang harus Ibu bilang sama besan? Kita nggak bisa menjaga Laela dengan baik!"
Annisa hanya terdiam, membiarkan tangannya berayun karena goncangan ibu. Ia juga sedang memikirkan hal sama seperti ibunya.
" Panggil Nizam! Suruh pulang sekarang juga!"
Ah iya Nizam, Nisa baru bergerak setelah mengingat sosok itu.
" Pelan-pelan saja, nggak usah lari Nisa, ingat kamu lagi hamil!" Masih mengingat kondisi putrinya yang langsung berlari begitu saja saat mendengar perintahnya.
"I-iya bu."
Anisa berjalan sedikit pelan, inginnya Ia berlari sekuat tenaga saat mengingat Laela. Perasaan benar-benar kalut. Jarak antara rumah ibu dengan masjid yang hanya beberapa meter terasa lebih jauh sekarang ini. Semua Karena rasa panik.
Mengabaikan pertanyaan yang terlontar saat warga lain melihat dan mencoba menyapanya. Hanya menaikkan tangan sembari terus melanjutkan langkah agar cepat sampai di tujuan.
Di depan masjid Nisa mulai memanjangkan leher agar bisa segera melihat sosok adiknya.
__ADS_1
"Nizam di mana?" Tanyanya pada salah seorang pemuda kampung mereka.
"Nggak tahu Kak aku juga baru datang, mau dipanggilin?" Kata pemuda itu.
" Iya, bilang katanya ini penting!" Wajah paniknya sudah tak bisa iya tutupi, membuat pria itu mengangguk kemudian segera berlari kecil masuk ke dalam masjid.
Annisa masih terus memanjangkan leher, nengok ke kiri kanan sisi masjid, barangkali menemukan Nizam yang keluar untuk berwudhu.
" Kenapa kak?"Nizam.
"Ayo pulang!" Nisa langsung saja menarik tangan Nizam keluar dari masjid.
" Eh eh eh bentar lagi Isya." Nizam menahan langkah mereka.
" Ini penting!"
" Genting Zam!"
Nizam masih menahan langkah saat Nisa mendekat lalu berbisik, "Laela pergi, ibu suruh cari!"
Nizam melongo, ada rasa tak percaya. Tadi ia meninggalkan Laela yang memang masih marah di kamar. Ingat bagaimana ia Menemukan Laela dulu mampu menjadi pembenaran pada kata-kata kakaknya. Rasa bersalah menyelimutinya kini.
Nizam ikut melangkahkan kaki saat Annisa kembali menarik tangannya.
Nisa dengan mudah menarik tangan adiknya yang berbadan jauh lebih tinggi namun sepertinya telah lemas.
"Nizam, Ya Allah Zam. Laelaa minggat Zam, Laela minggat Zam." Ibu menyambut kedatangan kedua anaknya dengan napas yang pendek-pendek. Sejak kepergian Nisa ke masjid, beliau masih terus mencari keberadaan Laela di rumah itu.
" Ya Allah Nizam, kemana istrimu?"
"Ibu bilang juga apa? Sudahi menghindari istrimu, Laela juga pasti punya batas kesabaran. Sekarang ini, pasti kesabarannya sudah habis dia lalu meninggalkan kita."
"Ya Allah Nizam, apa yang harus ibu bilang pada keluarga Laela?"
Pria itu terus melangkah menuju ke kamarnya berharap Laela masih tetap terduduk di tempat yang tadi ya tinggalkan tadi. Mengabaikan ibu yang mengoceh sambil sesekali memukul pundaknya.
Membuka pintu kamar, pandangan pertama kali jatuh pada tempat tidur mereka.
Tidak ada. Laela sudah tidak ada duduk di sana.
Laela?
Instingnya membawa kaki melangkah masuk dan berjalan ke lemari, tempat penyimpanan pakaiaan.
__ADS_1
Mencari pakaian Laela yang juga tak ada di sana? Sebagian pakaian wanita itu sudah tidak ada di sana.
Benar Laela pergi, meninggalkannya.