Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Di Bawah Rintik Hujan


__ADS_3

" Seandainya dia tidak ada di antara kita, Apa kamu masih mau melanjutkan Perjodohan itu?" Rizky.


Apa maksudnya Coba?


" Saya sudah menikah!" Ucapnya sambil menunduk.


Rasanya pria ini punya maksud lain dari setiap kata-katanya. Laela bukan orang yang terlalu bodoh dan lugu dalam mengartikan semua tingkah dan perkataan pria. Dan kini ia merasa menikah memanglah tepat untuknya.


" lalu Bagaimana bisa kamu berada di sini sendirian? sambil bawa koper lagi?" ucapan Rizki serasa menyudutkannya.


masa iya dia harus mengatakan kalau sedang kabur dari rumah suaminya.


Heh,


Entah mengapa kehadiran Nizam saat ini begitu ia harapkan. Ia akan berlari, menubruk dan memeluk, lalu memperkenalkan Nizam pada Rizki. Tak kan peduli meskipun Nizam akan menolaknya nanti.


Laela menundukkan kepala, tatapan pria di sana terasa dalam menembus hingga ke ulu hati.


Salah Tingkah dan grogi dirinya kini.


Memilih bangkit dan melangkah mendekati sebuah jendela dan membukanya. Biar bagaimanapun berada di dalam sebuah ruang dengan seorang pria masih menyisakan rasa takut untuknya.


DUARRR....


Lagi-lagi bunyi petir mengagetkannya, mungkin langit sedang panen di atas sana.


Laela kembali terhentak, menutup telinga dan kedua tangan, tubuh seketika itu pula berjongkok di bawah jendela.


" Jangan mendekat!" Saat ia mendengar kaki kursi yang bergeser, kemudian disusul dengan langkah kaki yang mendekat.


Entah mengapa ia menjadi semakin takut bersama dengan pria itu. bahkan detak jantung terasa sangat kencang.


Laela terus meringkuk, membiarkan titik-titik hujan yang terpantul dari jendela menyapa tubuhnya.


"La?"


Laela bahkan merentangkan satu tangannya ke arah Rizky, berharap pria itu berhenti dan tak lagi mendekatinya.


Bagaimana jika pria itu mengambil kesempatan dengan segala situasi ini. Ruangan yang remang hanya dengan cahaya senter ponsel. Suara hujan yang pasti akan menyamarkan teriakannya. Ditambah dengan kekuatannya yang pasti tidak seberapa dengan kekuatan yang dimiliki oleh Rizki.


Apa yang dipikirkan Laela saat ini?


Oh Bagaimana nasibnya setelah ini?


"La, kamu nggak apa-apa?" Rizky hanya bisa berdiri dari jarak aman. Tak bisa dekat saat melihat wanita itu justru ketakutan pada dirinya.

__ADS_1


"La, Laela."


Suara itu? ah Laela menggeleng, mungkin ketakutannya terlalu besar hingga suara yang tadinya ia takuti berganti menjadi suara pria yang sangat Ia harapkan kehadirannya saat ini.


"La."


Laela terhentak, makin mengerdilkan diri. Apalagi saat merasakan sepasang tangan telah berada di pundaknya.


"Laela, ini aku!" Kini seseorang tengah mengguncang tubuhnya pelan dengan kedua tangan yang melingkar di tubuhnya. "Laela ini aku Nizam, suamimu."


Laela membuka mata, belum mau mengangkat kepala. Memasang Indra pendengarannya baik-baik, menunggu orang itu kembali mengeluarkan suara.


"La, Maafkan Aku!" Tubuhnya kini serasa masuk dalam dekapan seseorang.


Hemmm, wangi ini? Wangi yang selalu ia rindukan setiap harinya. Wangi yang selalu memanggil dan membuatnya ingin mendekatkan diri pada sang pemilik tubuh.


Laela mulai memberanikan diri mengangkat kepala demi melihat sosok yang tengah memeluknya. Meski samar, Ia tahu dan dengan keyakinan yang penuh bahwa orang itu adalah Nizam.


"Kak," Ucapnya sebelum air mata membanjiri pipi. Turut melingkarkan tangan di pinggang sang suami.


Ada Nizam yang ikut berjongkok di sampingnya dengan mengenakan mantel basah, membuat gadis itu berani mengeluarkan suara tangisannya, memecahkan perasaan takut yang sedari tadi menyelimuti.


" Maafkan aku! Maafkan Aku!" Nizam terus mengumandangkan kata-kata itu sambil mendekat erat sang istri.


Nizam hanya mampu menggigit bibir bawah menahan rasa pedih yang seolah menghantam diri. Membiarkan Laela terus menumpahkan tangis dalam dekapannya. Harusnya sebagai suami ya memang menjadi perisai yang mampu melindungi istrinya. Bukan mendiamkan dan biarkannya pergi dalam keadaan marah seperti ini.


Tangis Laela mulai mereda, seiring redanya hujan di luar sana.


" Kita pulang ya!" Nizam mulai membujuk.


jujur, Ia tak pandai dan tak terbiasa merangkai kata demi membujuk seorang wanita, namun saat ini ia benar-benar harus memutar otak agar Laela mau ikut bersamanya.


" Kak Mansyur sudah menunggu di rumah!"


" Kakak ada di rumah?" Laela mulai mengangkat kepala menatap Nizam seolah mencari pembenaran.


Nizam menganggukkan kepala sambil sedikit tersenyum mencoba mencairkan suasana.


Dan mereka mulai bangkit,


"Aduuuh!" Keluh Laela, tak jadi menegakkan tubuh.


"Kenapa?" Nizam ikut menunduk menyamakan tinggi, tangan masih berjaga di sekitar tubuh istrinya.


"Kesemutan."

__ADS_1


"Mau digendong?"


Laela menggeleng cepat. Apalagi ini? Padahal Ia hanya butuh sedikit waktu agar menghilangkan sedikit rasa keram di kaki akibat terlalu lama berjongkok.


Semakin malu lah dirinya kini. Kedapatan ketakutan dan meringkuk di bawah jendela saja sudah membuatnya malu setengah mati. Bagaimana ia akan menghadapi Nizam setelah ini?


" Jalan pelan-pelan saja!" Nizam masih terus merangkul dan membimbing hingga keluar dari rumah kosong itu.


Melepaskan jas hujan yang ia pakai lalu dipakaikannya pada Laela.


" Kakak pakai apa?" Laela.


"Nggak papa, aku udah biasa."


Lagi-lagi membuat Laela malu bercampur rasa tak enak.


"Kakak aja yang pake, aku kan bisa sembunyi di belakang."


Padahal jas hujan telah terpasang sempurna berikut penutup kepalanya. Nizam hanya tersenyum sambil mengusap pelan kepala istri kecilnya.


Berbalik ke arah Rizki, dua kepalan tangan bertemu. " Thanks!"


"Yoi nggak masalah!" Rizky. " Aku juga udah mau jalan, Sebelum Hujan kembali deras."


Akhirnya Ketiga orang itu meninggalkan rumah kosong saat air yang tumpah dari langit mulai berkurang.


Laela mengeratkan pelukan, berusaha membungkus tubuh Nizam dengan tubuhnya. Setidaknya tidak terlalu terkena air hujan.


Motor mulai melaju dengan pelan, bersama menembus rintik hujan yang seolah memperkenankan mereka untuk lewat. Dinginnya malam seolah menembus kulit. Wajah NIzam telah basah oleh terpaan hujan gerimis.


Mereka mulai masuk ke wilayah kampung, di sana sudah ada sebagian orang yang memakai payung sebagai perlindungan diri dari hujan gerimis. Dan sebagian lagi hanya membungkus diri dengan sarung. Kepergian Laela sempat menghebohkan warga.


" Alhamdulillah Laela sudah ketemu!"


"Sukanya kabur!"


Sayup-sayup suara itu terdengar mengisi ruang dengan keduanya.


Nizam mengendarai motor dengan pelan memasuki jalanan kampung, hingga tiba di halaman rumahnya.


Menurunkan koper milik Laela yang tadi disimpan di depannya. Membiarkan Laela masuk terlebih dahulu bertemu dengan kakak laki-lakinya yang telah sampai ke rumahnya terlebih dahulu.


Mansyur yang lebih dulu mendapat kabar tentang keberadaan Laela dari Rizky. Memberitahukan Nizam yang ternyata posisinya lebih dekat dari lokasi itu, akhirnya ia meneruskan perjalanan ke rumah milik suami dari adik bungsunya itu. Biar di sini saja menunggu adik kesayangan yang sukanya mengambil keputusan sendiri itu tanpa menghiraukan orang lain.


Sementara Nizam sendiri berbalik hanya untuk mengucapkan terima kasih pada warga kampung yang turut mengkhawatirkan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2