Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Mereka Yang Berbeda


__ADS_3

" Assalamualaikum!"


Nizam berdiri di depan sebuah rumah, tangan satunya digunakan mengetuk pintu yang tak tertutup.


Di belakangnya Laela berdiri dengan rapi dan hening.


"Wa'alaikumussalam, masuk Zam!"


Jawaban dari dalam, seorang pria paruh baya muncul dengan senyuman di wajah menyambut tamunya.


" Syukron ustad." Dengan pembukaan sedikit badan, Nizam mulai melangkah masuk ke dalam rumah mengikuti arah tangan pria itu yang terulur ke sebuah sofa. Tak lupa bisa mengajak sang istri hanya dengan anggukan kepalanya.


"Duduk Zam!"


"Syukron ustad!" Sebelum Ia benar-benar mendaratkan tubuh di sofa, tangannya di belakang punggung Laela mempersilahkan lebih dulu untuk duduk.


"Jadi ini istri kamu Zam?"


" Iya ustad, ini istri saya yang pernah saya ceritakan."


Nizam telah beberapa kali menginjakkan kakinya di rumah ini. Tujuannya, adalah mencari lowongan pekerjaan untuk Laela sebagai pengajar.


" Masya Allah."


Ustadz Azzam. Beliau adalah salah satu petinggi di Yayasan tempat Nizam dulu mengenyam pendidikan.


Salah satu Ustadz yang paling ramah yang Nizam kenal.


"Baru lulus?" Ustadz Azzam kini mengalihkan pandangannya pada Laela yang duduk tepat di samping Nizam.


" Iya Ustaz, fresh graduate istilahnya, hehehe." Jawab Laela mencoba mengakrabkan diri.


Nizam tersenyum melihat istrinya yang memang mudah mengakrabkan diri. Tapi jika boleh ia tak terlalu suka dengan sifat yang ini.


Ia ingin wanitanya anggun dan sedikit pemalu.


" Masya Allah." Ustadz Azzam disertai dengan angkutan kepala. " jurusan?"


"Sastra ustad, bahasa Indonesia."


"Boleh boleh boleh!" Masih dengan anggukan kepalanya.


" Tunggu sebentar ya!"


Setelah itu beliau berdiri meninggalkan sepasang suami istri yang menjadi tamunya itu.


"Kamu deg-degan?" Bisik Nizam takut terdengar oleh orang lain.

__ADS_1


"Nggak, B aja!" Santainya seorang Laela, Seperti telah beberapa kali menghadapi peristiwa seperti ini. Menurutnya, ini tidak lebih menakutkan daripada sidang.


Jika pun tidak diterima, Ia tak masalah. Toh Iya tak pernah mempunyai cita-cita menjadi seorang guru, semua ini ia lakukan demi Nizam.


"Tenang ya!" Nizam menggenggam tangannya, meski istrinya berkata seperti itu, Ia masih tetap mencoba memberikan ketenangan.


Hingga Ustadz Azzam kembali masuk, dengan seorang wanita yang menggunakan gamis longgar lengkap dengan jilbab yang juga terulur panjang.


Penampilan sederhana itu, nyatanya mampu mengusik perasaan seseorang, dada bergemuruh ramai tanpa bisa dikendalikan.


Nizam menundukkan kepala, mencoba mengendalikan diri. Ia tahu semua ini salah.


Perasaannya, hatinya.


Menghirup udara dalam-dalam demi memenuhi semua rongga dadanya. Tanpa ia sadari, tangannya yang dari tadi menggenggam tangan istrinya semakin kuat saja.


"Nus, ini Nizam Nus. Pernah belajar di yayasan juga. Kenal?"


"Emm, kenal sih gak yah. Cuma tahu orangnya sih, hehehe."


Tertawa sedikit demi menghilangkan kesan sombong karena tak mengenali pria di depannya.


Ia tak munafik, selama menjadi siswa pesantren dulu, wanita ini salah satu santri terbaik yang menutup diri dari pergaulan dengan lawan jenis.


Yang tanpa Ia ketahui, begitu banyak hati pria yang terketuk hanya dengan melihat parasnya saja.


Dan menitipkan cinta di hati meski tak terbalas. jangan dulu berbicara tentang balasan, mereka bahkan tak berani mengutarakan maksud hati.


Karena wanita, Putri dari pimpinan Pesantren ini dianggap terlalu sempurna untuk mereka santri biasa.


Jangankan untuk menyapa, memandangpun Nus sedikit enggan. Wajar jika ia tak terlalu banyak mengetahui tentang para santi pria.


Ustadz Azzam mengangguk mengerti.


"Tunggu sebentar yah!" Ucapan Nus sebelum beranjak dari sana.


Kembali masuk dengan menggandeng tangan seorang pria yang diyakini sebagai pasangan halalnya. pria yang berhasil mengetuk pintu hati gadis itu.


Ah bukan, lebih tepatnya pria yang telah berhasil mendapati hati Ustadz Azzam hingga menyerahkan putrinya pada pria ini.


Nizam tak tahu apa alasan Ustadz Azzam menerima pinangan pria ini untuk putrinya dulu. Pasalnya latar belakang pria ini tak sama dengan mereka yang memiliki pondasi berpendidikan keagamaan yang kental.


"Bang, ini kenalin ini ada mantan santri ayah dulu sama istrinya!"


"Ohh, iya." Pria itu mengulurkan tangan di depan NIzam, bersambut. Namun hanya bersedekap sambil tersenyum pada Laela.


Sepertinya sedikit canggung saat Laela berada di sini.

__ADS_1


Meski sering kali suaminya menceramahinya tentang membatasi diri dari lawan jenis, tapi maaf, ia tak bisa seperti mereka.


Pergaulan di kampusnya sedikit membebaskan tangannya terulur demi menyalami lawan jenisnya. Baik itu teman sekelas maupun dosen prianya.


"Kenapa dikenalin?" Tanya pria itu pada istrinya. Merasa tak memiliki keperluan dengan mereka, toh ada ayah dan Nus juga.


"Ya biar gak ada fitnah, hehehe." Sambil bergelayu di lengan sang suami. Hanya mencegah hal-hal negatif tercipta akibat pertemuannya dengan pria lain. Termasuk kecemburuan sang suami.


"Mungkin setelah ini, kita akan sering ketemu soalnya istrinya calon guru di pesantren."


Masya Allah,...


Hanya seperti ini saja, ia meminta ijin pada suaminya. Padahal di sini masih ada ayah sebagai mahramnya.


Bagaiman tidak mengacaukan suami dari istri lain, jika wanita ini benar-benar menjaga kehormatannya.


"Ya udah aman. Aku percaya kok." Sambil mengusap lembut kepala sang istri yang tertutup kain berjuntai panjang.


"Saya permisi dulu! Masih ada kerjaan di depan!" Ucapnya sebelum meninggalkan ruang tamu.


"Jadi gimana?" Ayah bertanya.


Pasalnya Nus tadi menyebutkan Laela sebagai calon guru, padahal tes saja belum.


"KIta memang sedang kekurangan tenaga pengajar, karena Aisyah sedang hamil tua. Nus juga gak terlalu yakin kalau Aisyah masih diijinkan untuk bekerja sama suaminya. Kalaupun dijinikan berarti dia harus ambil baby sister untuk jagain anaknya nanti."


"Tapi, ...? Ngajarnya di Ibtidaiyah, gak papa?" Ucapnya sedikit meragu.


"Iya ga pa-pa kan sayang?"


Hah, Laela sampai membolakan mata demi mendengarkan panggilan itu.


Bahkan saat ditanya tentang cintapun Nizam enggan menjawab. Waah ada apa gerangan?


Mungkin mau pamer seperti pasangan tadi.


"I-iya, gak pa-pa."


"Alhamdulillah." Seru ketiganya saat mendengarkan ucapan Laela meski sedikit terbata.


tak lupa mengenalkan seseorang lagi pada mereka.


Masyita, gadis yang juga baru saja lulus di universitas yang sama tempat Laila dulu mengenyam pendidikan. Berpredikat sarjana pendidikan Islam yang mungkin jelas dipersiapkan untuk mengajar di pesantren.


Rupanya anak bungsu dari Ustadz Azzam. mungkin pria paruh baya itu menyiapkan putri-putrinya untuk bisa melanjutkan yayasan yang ia Pimpin itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Madrasah Ibtidaiyah adalah jenjang dasar pada pendidikan formal di Indonesia, setara dengan Sekolah Dasar, yang pengelolaannya dilakukan oleh Kementerian Agama. Madrasah Ibtidaiyah ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6.


__ADS_2