Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Mengalah! Dari pada lama!


__ADS_3

"Meidina ingin bertemu dengan gurunya."


Omah merasa harus meminta izin terlebih dahulu pada putranya. Takut jika tak begitu, beliau akan dikira mengambil keputusan sepihak lagi.


Bisa saja ia langsung menelpon dan meminta Laela untuk datang ke sini. Namun apa setelah itu, mungkin akan ada perdebatan yang tak diketahui di mana ujungnya.


" Mah, Aku kan sudah bilang, jangan terlalu membiasakan Dina terlalu dekat dengan orang lain. Kita tak tahu siapa dia pastinya, dia orang asing yang baru saja datang."


Armand masih mencoba tenang. Tak bisa dipungkiri, rasa lelah nyatanya mampu membuat emosinya pun tak karuan. Namun saat ini, ia berada di hadapan ibunya, orang yang harus ia hormati sekalipun lelah.


" Laela bukanlah orang asing, dia wali kelas Meidina. Namanya tercatat di Departemen Pendidikan, dia tidak akan mungkin menculik anakmu."


Nada bicara oma telah meninggi meski hanya naik selevel.


" Bagaimana jika dia membawa dampak buruk bagi Meidina mah? Bagaimana jika itu hanya akal-akalannya saja untuk lebih dekat dengan putriku karena tahu pekerjaanku apa?"


Oma terperanjat kala mendengar pernyataan itu dari bibir putra kandungnya sendiri.


Apakah anaknya itu telah mulai merasa di atas?


Benar-benar kedudukan mampu membuat lupa diri pada seseorang.


" Ingat, Dia hanyalah seorang guru yang akan selalu mengajarkan murid-muridnya menjadi lebih baik. Dia takkan bertanya pada anak anak didiknya tentang Apa pekerjaan orang tua anak didiknya.


" Bertanya Berapa penghasilan orang tua mereka, hingga dia akan memihak pada anak yang lebih. Tidak Armand, tidak. Kamu terlalu jauh berpikir."


Serangkaian kalimat itu diucapkan secara cepat, menandakan jika orangnya juga kini telah terseret emosi. Namun mereka berusaha untuk tetap menekan suara. Di sana Meidina terbaring dengan mata terpejam, tak ingin membuat ribut dengan perdebatan mereka hanya karena seorang guru.

__ADS_1


" Dina yang meminta untuk memanggilkan gurunya ke sini. Sejak kemarin, tapi mama hanya bisa janji sama dia."


Oma berharap banyak dengan menjual nama gadis kecil itu, hati Armand sedikit melunak.


" Gak usah Mah."


Ck, kesal sekali rasanya. Apa oma harus menari cara lagi demi membujuk Meidina yang kembali merengek meminta dijenguk oleh bu gurunya? Alasan apa lagi yang akan wanita tua itu gunakan?


" Mama cuma sekedar mengingatkan nih yah! Anakmu itu sakit setelah kamu bentak-bentak, larang-larang dia untuk bermain dengan teman-temannya, bukan karena bergaul dengan teman sekelasnya, iiirrgggg." Oma bahkan menggeram kekesalan.


" Mah, Dina sakit demam berdarah mah, bukan sakit hati!" Armand.


" ARmand sadar sedikit nak, anakmu itu butuh kasih sayang dan perhatianmu."


" Kalau mama minta kamu untuk meluangkan waktu untuk DIna, apa kamu sanggup?"


" Mah, aku hanya mengandalkan mama dalam mengasuh putriku. Mama tau sendiri kan kalau aku sibuk bekerja mencari uang demi hidup kita. Buat mama, Dina, kita semua mah." Masih butuh sedikit penekanan agar mamanya mengerti dengan keadaannya saat ini.


Kali ini Oma memejamkan matanya erat.


Wajar saja jika putranya ini menjadi karyawan teladan, karena telah mendedikasikan hampir seluruh waktunya untuk pekerjaannya.


Wajar saja jika karirnya begitu Gemilang, sebab menyampingkan segalanya demi pekerjaannya.


Bagi Meidina, memiliki waktu dengan ayahnya adalah sesuatu yang mahal bagi seorang Meidina, oleh sebab itu ia merasa sangat bahagia jika bisa bersama dengan ayahnya. Namun tidak dengan malam itu, di mana kebersamaan mereka justru di bayar dengan bentakan yang mampu merasuk hingga ke dalam hatinya.


Oma hanya berharap jika ini adalah alasan Arman yang menyibukkan diri demi menepis kesepiannya setelah ditinggalkan oleh istrinya.

__ADS_1


" Maka ijinkan dia untuk berteman dengan siapapun, selama itu baik. Termasuk dengan gurunya sekalipun!"


Bahkan menurut oma itu adalah sesuatu yang baik. Meidina bersama dengan temannya itu  bisa belajar bersama, toh tak perlu lagi mencari guru privat.


" Apa mama bisa menjamin itu baik untuk anakku?"


"Mama yakin, bahkan sangat yakin seyakin yakinnya."


Heh, kepala Armand terlihat lunglai, lemas, mungkin terlalu berat. "Baiklah, tapi jangan terlalu lama! Kalau itu bisa membuat Dina sembuh!"


"Armaaaaand!"


Oma benar-benar tak bisa memprediksi lama tidaknya waktu yang bisa putranya itu berikan pada bu guru Laela nantinya.


Tak mungkin juga hanya karena dijenguk oleh bu gurunya, anak itu bisa langsung sembuh begitu saja.


"Iya maaah, boleh mama boleh menelpon buuu,... siapa lagi namanya?"


" Bu Laela."


"Yah itu, boleh. Suruh jengukin putriku!"


Mengalah! Dari pada lama!


Ia juga ingin melihat bagaimana sosok seorang Ibu guru itu.


Apa yang membuat putrinya itu tertarik begitu dalam?

__ADS_1


__ADS_2