Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Kembali Menenangkan Diri


__ADS_3

BUK.


" Bangun!"


Nizam menurunkan Laela di depan kamar mandi. tangan gadis itu langsung menempel di dinding guna menahan bobot tubuh yang sedikit oleng. Mata gadis itu masih terpejam erat, ngantuk belum pun pergi.


" Laela bangun Laela!"


Heran, tubuh gadis itu telah berdiri meski masih nyandar di dinding, namun mata masih tertutup rapat.


"Heh, bangun?"


Kesal karena saya dari tadi apa yang ia lakukan tak mendapat respon dari Laila, Nizam menarik Gadis itu masuk ke dalam kamar mandi. Mengisi gayung dengan air, mengangkat tangan hingga berada di atas kepala Laela lalu,


Byuuuurrrr.


"Ssssttttt, dingiiiiiiin." Keluh gadis itu sambil melingkarkan kedua tangan pada tubuh. Udara dingin pegunungan semakin terasa di subuh hari. Dan kini Nizam mengguyur tubuh Laela dengan air dingin, seketika membuat tubuh gadis itu menggigil kedinginan.


Mendengar sedikit riuh dari arah dalam, Ibu berjalan mendekati demi mengobati rasa penasaran.


" Ya ampun Nizaaaaam, Apa yang kamu lakukan?" Gayung masih berada di tangan Nizam, sementara tubuh Laela telah basah.


Pria itu terkejut, suara ibu seolah baru saja menyadarkannya. Sepertinya Ia baru saja melakukan sebuah kekejaman pada istri sendiri.


" Kamu guyur?" Nizam mengganggu, masih memasang wajah terkejutnya.


" Astaghfirullahaladzim, Laela pasti kedinginan. Dia belum terbiasa dengan udara di sini."


" Ya ampun!" Ibu belum berhenti gelengkan kepala, turut masuk ke dalam kamar mandi.


" Kamu keluar!" Mengambil gayung, meletakkan kembali di tepi bak air.


Menuruti kata ibu, Nizam mulai beranjak dari kamar mandi yang semakin sempit ketika dihuni tiga orang di dalamnya.


"Ambilkan handuk!"

__ADS_1


Nizam mengangguk.


Ia jelas melihat punggung putih mulus milik istrinya, saat ibu membuka baju Layla tepat di hadapannya. Entah Laela sadar atau tidak, Gadis itu masih diam tanpa sepatah kata pun. Kembali membungkus diri dengan lingkarang kedua tangan. Tubuh Nizam menegang seketika itu juga.


"Cepetan!"


"I-i- iya!"


Tergagap saat sebuah debaran menyambar seluruh tubuh.


Otak berpikir seiring kaki melangkah menuju kamar. Punggung itu miliknya, seluruh tubuh wanita itu menjadi haknya.


Bodohnya ia saja yang mengabaikan sesuatu yang indah nan menawan ciptaan Tuhan yang dipersembahkan untuknya.


"Awww, sssttttt."


Mengusap kening sendiri saat tak sengaja menyambar daun pintu kamar yang belum sempat ia buka.


Akkkh, terlalu banyak menghayal membuat pria itu kepentok.


Kembali ke kamar mandi dengan handuk pesanan ibu dengan langkah sedikit tergesa mengingat Laela pasti kedinginan tanpa menggunakan baju.


Mengetuk pintu yang tak tertutup rapat itu, menghalangi diri dari kado indah untuknya yang masih berada di dalam kamar mandi. Masih sempat terlihat melalui sudut mata gadis itu berdiri dalam pelukan ibu yang menghangatkan tubuhnya.


Kembali berjalan ke meja makan dengan wajah pias dan pandangan mata yang lurus dan menembus batas. Setelah punggung putih mulus itu kembali terlihat meski samar.


Menunduk, kembali meraih sendoknya meski otak masih berkelana.


Nyatanya ujian belum berhenti saat ini.


Ibu membawa tubuh Laela yang hanya terbungkus handuk ke kamar. Kaki jenjang yang tak kalah putih mulusnya melangkah.


Dan itu melalui Nizam yang masih duduk menikmati sarapan pagi plusnya.


Ya ampun, bagaimana hari-harinya setelah ini?

__ADS_1


Tidur bersama dalam satu kamar bahkan ranjang? Apakah ia masih bisa untuk menahan diri?


Benar saja, saat malam tiba menggiring ummat untuk masuk ke dalam peraduan masing-masing guna mengistirahatkan tubuh.


Pandangan Nizam terpaku pada Laela yang tidur memunggunginya.


Ia kembali melihat punggung itu meski terbungkus dalam kain baju. Namun otaknya kini telah mulai nakal, saat membayangkan penglihatannya tadi pagi.


Rasanya ingin berkelana di sana. Itu miliknya.


Laela tercipta dari tulang rusuk kirinya yang hilang satu. Tuhan menciptakan Laela memang untuknya. Jadi ia berhak atas tubuh Laela, juga termasuk punggung putih mulus itu.


Namun sedikit banyak hati menapik semua itu.


Ada keraguan dalam diri untuk menyentuh.


Ia belum yakin dengan gadis asing itu.


Benarkah wanita ini, wanita baik-baik yang mampu mendidik keturunannya dengan baik pula?


Atau, Bagaimana jika Laela marah dengan sentuhan tangannya.


Belumpun seminggu, ujian ini terasa sulit untuk di jalani.


"Astagfirullah!"


Apa yang ia pikirkan. Memilih bangkit dari tidur, menyiapkan diri untuk kembali menyambangi masjid seperti saat sebelum mereka menikah.


Ia ingin menenangkan diri dari ujian yang teramat sangat berat ini.


Menyibukkan diri dengan membuka kitab suci, semoga setelah ini otak dapat segera melupakan pandangan-pandangan indah nan menggoda jiwa.


Tidur dalam keadaan kantuk yang tak bisa lagi dikendalikan. Malam ini dan seminggu ke depan dirinya aman. kembali setelah Subuh, membangunkan Layla dengan menciptakan air di wajah wanita itu. meminimalisir drama yang tercipta antara Iya Laila dan ibu.


Nyenyaknya Laila tak menyadari jika suami semalam tak berada di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2