
"Huaaaaa, ngak mauuuuu."
Suara tangisan bocah kecil terdengar menggelegar, memekakkan seluruh penghuni rumah.
Meidina menangis meraung-raung setelah pulang dari sekolah. Hari ini adalah hari pertama dirinya masuk Sekolah Dasar.
Bukannya bahagia seperti anak-anak yang lainnya, gadis kecil itu terlihat murung dan tak bersemangat kala pertama kali menginjakkan kaki mungilnya pada salah satu sekolah ternama di kota itu.
Ruang kelas yang lebih luas dan berwarna meriah dilengkapi dengan pendingin ruangan demi kenyamanan siswa dalam menjalani pelajaran. Di sudut pekarangan terdapat taman bermain dengan segala fasilitasnya. Tak lupa kantin bersih yang ramai saat jam keluar main dengan segala makanan enak namun tetap sehat.
Senyaman itu namun tak mampu menenangkan perasaan gadis kecil itu.
Ia hanya sempat bertanya pada sang nenek yang mengantar dan menemaninya selama hari ini,
"Kok sekolahnya di sini?"
"Ya ini kan memang sekolahnya Dina, cantik yah?" Oma saja terpesona kala memandang luas pekarangannya. Di sebelah kanan, ada Sekolah Menengah Pertama yang memang berada dalam satu
Gadis hanya cemberut. Sepanjang hari hanya berdiam diri, menjawab seperlunya saja, bahkan hingga jam sekolah telah usai.
Sepekan pertama sekolah masih diisi dengan pengenalan, hingga waktu sekolahpun akan menjadi lebih singkat hingga nanti pelajaran akan di mulai pada pekan ke dua. Seluruh siswa akan pulang setelah jam 12 siang, hingga mereka di anjurkan untuk membawa bekal berupa makanan berat.
Dan ketika mereka telah sampai ke rumah, hampir bersamaan dengan Disty berjalan sambil menggandenga tangan ibunya yang juga baru saja memasuki pekarangan rumahnya, pecahlah tangislah sudah tangis Meidina.
"Loh kok, Dina nangis sih?"
Suara-suara yang mencemaskan dirinya masih mampu gadis kecil itu tangkap, namun tak ada reaksi lain selain menangis.
Hingga NInis lebih memilih melepas tangan anaknya dan meraih tubuh Meidina ke pelukannya. Tak lupa memberikan tepukan ringan di pundak sang gadis demi menenangkan. Sementara oma meraih tangan Disty dan mulai berjalan mengikuti di belakang.
"Kenapa sayang?" Ninis mulai bertanya kala mereka semua telah sampai di ruang tengah. Dan saat itu, Meidina seperti memiliki seluruh peluang untuk melampiaskan seluruh perasaan sedih dan kesalnya pada semua orang.
__ADS_1
"AKu mau sekolah di sekolahnya Disty juga, huaaaaaa." Masih sempat berucap lancar sebelum kembali melancarkan tangisnya.
"Loh kok kenapa?" Tubuhnya sengaja digoyang-goyangkan agar Meidina yang berada dalam pangkuannya merasa nyaman.
"Sekolahnya Dina kan jauh lebih cantik dan bagus. Mahal pastikan?" Lanjutnya.
Bukan masalah bagus, cantik atau mahalnya. Semua itu tak pernah ia lihat di sekolah itu.
Kenapa?
Ia bahkan heran, kenapa dia bisa bersekolah di sana, padahal dua kali ia telah menemani Disty ke sekolah lain. Dan di sana, telah dua kali pula ia bertemu dengan seorang kakak pria baik hati yang selalu saja memuji penampilannya.
Dan bukankah di sekolah itu juga ada Disty yang memang sudah menjadi temannya sejak lama? Tapi di sekolah yang sekarang, ia harus kembali mencari teman baru lainnya.
"Gak mau, huaaaa. Mau sekolahnya sama Disty saja huaaaaa!"
"Kaliankan bisa main sama-sama kalau pulang sekolah kan?" Mata Ninis memandang ke arah sang anak sambil menganggukkan kepala meminta pertolongan.
"Kata ibuku kita bisa main lagi kalau sudah pulang sekolah kok. Nanti aku akan pulang ke sini setiap hari."
Tapi bukannya tenang, Dina bahkan semakin menangis saja.
Bukan, bukan itu yang ia inginkan.
Ia telah berkenalan dengan kakak pria itu. Dan kakak itu juga ternyata sekolah di sana, sekolah tempat Disty, kelas enam. Jika bersekolah di sana, ia akan mempunyai kakak yang bisa menjaganya selama berada di sekolahkan? Itu maunya.
Meski telah mengeluarkan kata-kata rauan, namun tak mampu menyurutkan keinginan Meidina untuk sekolah di tempat Disty. Gadis itu merengek hanya karena kelelahan dan mengantuk saja. Hingga Ninis menggendongnya ke atas, memasuki kamar sang gadis kecil.
Dan kini oma telah duduk di ruang kerja sang anak yang merupakan ayah dari Meidina, Arman. Membujuk.
"Aku daftar sekolah itu mahal loh oma." Kilah sang putra.
__ADS_1
"Tapi DIna maunya di sekolah DIsty. Mungkin mau sama-sama terus." Oma.
"Kalau memang Dina maunya sekolah sama Disty, yah biar Disty saja yang pindah ke sekolahnya DIna. Nanti biar aku yang bayarin semuanya deh!"
"Ya udah, nanti aku bilang sama si Ninis. Biar dia yang bujuk Dina juga."
Namun hingga hari ke tiga, gadis itu tak mengiyakan keinginan sang ayah. Dia maunya, bersekolah di tempat itu, bukan Disti yang ikut ke sekolahnya.
"Memang kenapa sih maunya sekolah di sana? Kan jauh, terus sekolah Dinakan lebih cantik juga, banyak temannya, emmm terus apa lagi yah?"
Ah Arman sendiri bingung menjabarkan kelebihan sekolah itu secara spesific pada anak kecil ini. Berkualitas dengan metode pembelajaran yang jauh lebih baik.
" Maafkan saya pak. Dulu waktu daftar Disty ke sekolah saya terpaksa membawa non Meidina juga karena gak ada yang jaga."
Iya, Arman juga tahu tentang itu. Wanita yang ia percaya mengasuh anaknya itu telah meminta ijin sebelum dan sesudahnya.
"Waktu di sana, selalu ketemu sama anak cowok, cakep baik juga pak. Apa mungkin karena itu yah?"
Arman hanya menggeleng mendengar cerita Ninis.
Apa hubungannya coba?
" Kamu sudah tanya kenapa Dina mau sekolah di sana?"
" Emmm, sudah saya tanyakan pak. Tapi non Meidina gak menjawab, malu mungkin yah?"
Heh, lagi-lagi Arman hanya menghembuskan napas secara keras. Pengasuh anaknya ini terlalu berpikir jauh.
"Kalau memang maunya dina di sana yah di sana saja Man. Kamu bisa menambah jam lesnya nanti sepulang sekolah kan?"
Hingga akhirnya pria itu menanggukkan kepalanya meski terpaksa.
__ADS_1