Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
kabar berita


__ADS_3

Laela masih terpaku duduk di sofa ruang tamu. setelah 2 hari suaminya tak pulang, dan Ia baru saja kedatangan tamu yang memberitahu jikaNizam ikut terseret banjir saat menolong seorang mahasiswi.


" maafkan kami! pencarian akan kami teruskan untuk beberapa hari ke depan. kami pun tak mau kehilangan teman kami."


" kami mohon Ibu tetap bersabar menunggu kabar selanjutnya, jangan lupa doakan agar kami bisa segera menemukan Nizam."


Rasanya tak percaya, jika Nizam tega meninggalkannya begitu saja, tanpa pamit.


" astaghfirullahaladzim!"


" astaghfirullahaladzim!"


lirik Ibu beberapa kali sambil menepuk-menepuk pelan dadanya, berusaha memberikan keterangan pada perasaan yang kacau balau.


tamu telah pergi membiarkan rasa bercampur di dalam hati.


Ibu berdiri dari duduknya, memilih menikmati rasa perih sendiri di dalam kamar, meninggalkan sang menantu yang masih terdiam dengan pandangan lurus ke depan tak bertepi.


mungkin raga masih tegak, namun hati terasa begitu sangat rapuh.


Anisa masuk ke dalam rumah orang tuanya, Iya telah tahu dengan kabar itu. tubuhnya berdiri di dekat pintu memandangLaela yang masih terduduk diam tanpa ekspresi.


"La," sapanya sambil berjalan lahan mendekati adik iparnya.


Laela bergeming.


antara mendengar tapi tak menghiraukan, atau wanita itu benar-benar masih terhanyut dalam lamunan.


"Laela,"


Niat hati bermaksud datang melihat dan memberikan kekuatan pada keluarganya, namun nyatanya Ia pun tak sekuat itu.


menghempaskan panggul di sofa dekatLaela duduk. tangisnyapun mulai terdengar.


"Hiks, hiks, hiks. Laaaa," kini wanita itu Tengah memeluk adik iparnya.


"La, Nizam La, hiks, …"


Laela menoleh, menatap pada wanita yang tengah memeluknya dengan menundukkan kepala bertopang di bahunya.


tubuh itu bahkan telah bergetar, sekuat mungkinLaela penahan untuk tak menangis namun tak bisa. air mata akhirnya Luruh juga,

__ADS_1


" Abang pasti pulang Kak," ucapLaela, berusaha memberikan kekuatan pada kakak iparnya, di dalam hati


" kita doakan sama-sama, Semoga abang selamat!" tutur katanya pelan hingga tenggelam dalam istakan tangisnya sendiri.


" iya iya, kita doakan semogaNizam kembali dengan selamat, hiks,…" Nisa kembali menangis setelah berusaha menyelesaikan kalimatnya.


kedua wanita yang katanya saling menguatkan itu, nyatanya kini tengah berpelukan sambil menangis tersedu-sedu.


" Kenapa kalian berdua menangis?" entah kapan Bapak berdiri menyaksikan anak dan menantunya saling berpelukan dengan bercerai air mata itu.


" Pak Nizam Pak, Nizam. Huaaaaaaaa,… "


pecahlah sudah tangis Anisa, wanita itu kini tengah merasa mendapatkan sebuah pundak kokoh demi menyandarkan tubuhnya yang rapuh.


maksud dari tadi ia berusaha untuk tetap Tegar di dekatLaela, sebab tak ingin melihat adik iparnya itu Rapuh, Nyatanya Iya pun lebih rapuh lagi.


"Nizam hilang, Huaaaaaaaa,… " tangan terulur pada bapaknya, meminta dipeluk dan ditenangkan.


Bapak mendekat, memeluk Putri dan menantu perempuannya. Membenamkan kedua kepala wanita itu di perutnya. memberikan kekuatan pada mereka.


Laela turut menangis membiarkan air mata terus membasahi pipi.


" Bu, sabar bu!"


"Huaaaaaaaa,… , Nizam yah. dia adikku. Huaaaaaaaa,…" melepaskan tangan yang melingkar di pinggang bapaknya.


kini kedua tangannya mengulur ke arah suaminya, meminta dipeluk.


" Sabar dek, Sabar!Nizam masih dalam pencarian, kita doakan saja semoga dia bisa cepat ditemukan dalam keadaan selamat!"


Anisa mengangguk di dalam pelukan sang suami.


rumah itu seketika telah penuh dengan para tetangga yang datang mengunjungi, atau mungkin hanya sekedar mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya.


selepas magrib, Anisa kemari datang setelah tadi dibawa pulang oleh suaminya. terlalu kacau jika kedua wanita itu sama-sama bertemu, dan menangis.


wanita itu berjalan langsung menuju ke dapur, membuka tudung saji di atas meja. yang terlihat hanyalah sedikit lauk dan sayur mungkin sisa-sisa makanan tadi siang yang belum habis.


nasi pun mungkin hanya tinggal sepiring.


tadi suaminya berkata, sebagai penopang keluarga, bukan ikut tenggelam dalam kesedihan mereka.

__ADS_1


dia mulai bergerak mencuci beras, menyiapkan lauk pauk dan sayur untuk dimakan oleh satu rumah itu.


di tengah-tengah aksinya di dapur, ya Masih sempat mengecek kondisi penghuni rumah.


ibu danLaela masih sama-sama berdiam diri Di Atas Sajadah dekat tangan yang sama-sama menengadah ke atas.


tak adaIzzar, bocah laki-laki itu pasti sedang ikut dengan bapak ke masjid.


Anisa kembali ke dapur dengan bulir-bulir air mata yang kembali membasahi pipi.


ternyata ia tak sekuat itu untuk jadi penopang keluarga. saat ini dirinya juga merasakan kehilangan seorang adik laki-laki.


berjalan dengan gontai, dan berhenti di meja makan. Iya terduduk dan menjatuhkan kepala di atas meja berbantalkan lengannya sendiri.


kembali menangis, biarkan perasaan sedihnya keluar begitu saja.


berapa saat ia habiskan demi melampiaskan rasa. Anisa mulai bangkit dari tempat duduknya, kembali ke dapur dan menyalakan kompor.


pintu terbuka, dengan colotehan anak-anak.


" Assalamualaikum!" suara ceria itu seperti tanpa beban.


" Ke Ibu ke mana? kata Ayah tadi mau ke sini?" itu suara Ridwan anaknya,


Anisa segera mencuci mukanya yang sembab, tak ingin kesedihan terlalu nampak di depan kedua bocah pria itu.


" Ibu di sini nak, di dapur." suara teriakannya kemudian disusul dengan tapak kaki anak kecil yang Tengah berlari. Ridwan datang menghampirinya.


" Bu, kata Ayah masak yang banyak biar kita semua makan di sini!" pesan yang tadi disampaikan oleh ayahnya, gini Ridwan sampaikan pada ibunya.


Anisa mengganggu kecil, belum sempat menjawab bocah itu Tengah berlari keluar menghampiri sepupunya.


meninggalkan ibunya yang tersenyum sambil menatapnya. dalam hati kembali melantunkan syukur, suaminya mau mengerti keadaan keluarganya.


" Ayah, bapak makan yuk!" ajaknya ada dua pria yang kini tengah duduk di depan teras. meski raut sendu juga tergambar pada keduanya, namun setidaknya tidak menangis seperti yang dilakukan para wanita.


kini beralih memanggil kedua wanita yang masih berada di dalam kamar. dan jawaban mereka hampir sama.


" masih kenyang! nanti sebentar!"


" duluan aja, ibu belum lapar!"

__ADS_1


membuat Ia hanya bisa tertunduk sambil berjalan gontai.


__ADS_2