Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Menggapai Cita


__ADS_3

" Aku diterima!" Laela.


Ucapannya lirih dengan tangan yang menggenggam erat ponselnya. Jika dulu berita ini akan menjadi sebuah kebahagiaan pada seluruh keluarga kecilnya, terlebih oleh Nizam, namun sekarang tidak lagi.


Laela kini tak terlalu berharap akan ini. Bahkan ia sedang bingun saat ini.


Untuk bangkit saja, ia harus terseok terlebih dahulu. Hanya karena kasihan pada seluruh keluarganya sehingga ia mampu melewati keterpurukan ditinggal sama suami.


" Terima saja!" Tepukan di pundaknya membuatnya menoleh.


Kini ia berada di rumah Anisa, tengah memberitahukan kabar ini sekaligus hendak meminta masukan pada kakak iparnya.


" Nizam sangat menginginkan kamu untuk menjadi pegawai negeri. Dan sekarang terkabul, tapi kamu gak mau ambil? Bagaimana jika dia pulang nanti?"


"Ingat, di luar sana banyak orang yang sangat berharap bisa lulus dan menjadi pegawai negeri, terus kenapa kamu tidak?"


Harapan Nizam akan pulang dalam keadaan baik-baik saja masih mereka pegang teguh. Meski telah terlewat beberapa minggu lamanya. Pencarian pada sosok pria itu bahkan telah dihentikan.


Meski ibu dan bapak menerima keputusan itu dengan lapang dada namun tidak untuk kedua wanita ini.


Doa yang tak pernah putus, beserta harapan yang sangat besar jika,…


Nizam baik-baik saja.


" Tapi jauh kak?"


"DUlu memang rencana kalian seperti apa?"


Semua telah dibicarakan oleh mereka.


Jika saja Laela diterima, maka ia dan Nizam akan memilih menempati rumah kontrak untuk mereka. Sementara menitipkan ibu dan bapak pada Annisa.


Dan semuanya telah setuju akan hal itu. Pun dengan bapak dan ibu, toh rumah Nisa juga hanya berada di sebelah rumah mereka.


Namun sekarang, Laela harus apa tanpa Nizam?


"Kalau kamu tak terima terus Nizam kembali, pasti dia akan kecewa. Gak marah sih, adikku kan memang jarang marah."


Lihatlah, betapa besar pengharapan mereka akan Nizam.


Laela mengangguk membenarkan.


Itu artinya ia harus siap hidup berpisah dari keluarga.


"Kamu tenang saja, untuk masalah ibu dan bapak serahkan pada kakak!"


"Kamu sepertinya tidak percaya pada kakak, padahal mereka adalah orang tua kandungku loh!"


"Harusnya aku yang menghawatirkan ibu dan bapak jika berada di tanganmu!"


Laela segera memalingkan wajah menatap kakak iparnya, hendak protes.


"Eh, iya maaf, maaf!" Annisa.

__ADS_1


Tahu jika mungkin ia salah bicara.


"Bukan maksud kakak mengusirmu, tapi kamu bisa tinggal di dekat sana dulu, dari pada harus bolak-balik ke sini. Takutnya kamu atau Izzar yang capek."


Lagi Nisa memberikan petuah panjangnya. Hingga akhirnya Laela bernapas kasar, membenarkan semuanya meski masih terasa berat.


Sayangnya Mashita tak lulus. Jadi ia harus kembali mengurus semuanya seorang diri.


Motornya melaju meninggalkan perkampungan yang sejak lama ia tinggali. Kampung sang suami tercinta.


Pria yang menurutnya banyak aturan, namun tetap saja ia lakukan.


Pria yang membuatnya selalu berkorban, bahkan meninggalkan jati dirinya sendiri.


Menyelesaikan urusannya seorang diri meski separuh hati.


Pikirannya masih berat jika harus meninggalkan kampung suaminya itu.


Bagaimana nanti ia hidup di kampung orang tanpa keluarga terdekatnya?


Lalu bagaimana dengan Izzar?


Motornya kembali melaju, kali ini lebih jauh lagi. Hingga menepi di sebuah pantai berpasir putih.


Kakinya mulai turun, melangkah dengan berat dan pelan.


Meninggalkan motor pemberian sang suami sebagai hadiah kelulusannya dahulu.


Berhenti sejenak hanya demi melepas alas kakinya. Lalu kembali meneruskan langkahnya ke depan sana. Hingga berhenti saat kakinya mulai basah tersentuh air laut. Ia pun tak tahu kenapa Ia harus sampai di sini.


Kepalanya menoleh ke sebelah kiri, menatap hamparan pasir yang juga sama terbentang.


Dalam hati berharap, di ujung sana ia mampu menangkap sesosok tubuh tinggi tegak milik sang suami, menghampirinya dengan senyuman manis.


Maka ia akan berlari sekuat tenaga hingga tubuhnya membentur tubuh pria itu, biarkan saja pria itu akan kembali marah-marah padanya.


Namun hingga beberapa lamanya pandangannya ke arah sana, namun tak ada apa-apa di sana.


Semua itu hanyalah hayalannya semata.


Pandangannnya kembali lurus ke depan sana. Menikmati hangat sang matahari lengkap dengan cahaya yang menyilaukan terpantul oleh air.


Kaki polosnya bergerak mundur beberapa langkah, membungkuk meraih ranting kayu yang tergeletak di atas pasir yang baru saja sampai di tepian tersapu ombak.


Tangan yang memegang ranting itu bergerak menari di atas pasir.


LAELA & NIZAM


Hasil karya dari tangannya mulai terlihat. Ukiran nama yang baru saja ia ciptakan, tak sampai satu menit hingga tersapu oleh ombak. Meninggalkan bekas yang hanya kentara sebagian.


Ia memilih berpindah tempat, sedikit ke belakang agar ukiran nama itu tak segera di lalap air laut.


Tangannya kembali menari dengan memegang ranting kayu itu.

__ADS_1


LAELA & NIZAM


Kembali terukir di atas pasir.


Bibirnya tersenyum sambil berulang-ulang kali menatap dan membaca, mengangumi hasil karnya sederhananya seorang diri.


Hingga beberapa waktu lamanya, tangan terkulai lemas, rantingpun terlepas dari tangannya. Pandangannya kembali lurus ke depan sana.


" Bang aku lulus Bang!" Ucapnya entah pada siapa.


Lirih dan menyakitkan.


" Bang aku harus apa Bang?"


Langit yang terang enggan menjawab. Air yang menyapa kakinya pun tak kunjung memberikan suaranya.


Namun ia terus melontarkan tanya.


"Kata kak Nisa, terima saja siapa tahu abang pulang nanti. Kak NIsa takut abang kembali kecewa sama Lela. Kata kak Nisa, Lela selalu saja mengecewakan abang, bener bang?"


"Tapi sekarang abang pasti bangga sama Lela karena bisa lulus."


"Aku gak pake bantuan apa-apa loh bang, jangan diejek lagi!"


Ucapnya panjang lebar dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Hanya sekali berkedip, retaklah sudah pertahanannya.


Air jernih itu kini saling berlomba membasahi pipinya. Ia menangis.


Kepalanya tertunduk dengan air mata yang semakin deras saja.


Bahkan tubuhnya pun tak kuat lagi untuk tetap kokoh bertahan, luruh begitu saja.


Laela berjongkok, dengan kedua tangan memeluk diri. Menenggelamkan wajahnya pada ke dua lututnya. Dengan ini ia bisa lebih leluasa menangis. Menumpahkan segala sakit yang tercipta karena kerinduannya.


"Bang, pulang bang!" Ucapnya lirih.


"Lela rindu bang, gak ada yang peluk!"


Ia terus berbicara, membiarkan suaranya turut tersapu ombak.


Berharap ombak akan membawa kerinduannya pada sang pemilik hati.


Malam-malam yang ia lewati kian sepi dan dingin, saat Izzar memilih tidur dengan RIdwan, itupun karena perintah kak Nisa. Mungkin iparnya itu tengah memberikan waktu padanya untuk menyendiri dan menangis.


Setiap malam, sebelum tidurnya, ia masih menyempatkan diri menatap pintu, menanti ketukan dari luar maka ia akan segera membuka pintu rumahnya. Berharap yang mengetuk itu adalah suaminya.


Mungkin ia harus bersabar lagi menikmati kerinduannya.


Mungkin ia akan tetap menunggu sehingga denyut nadinya tiada lagi berlagu.


Menikmati cahaya rembulan yang kada kala redup, ia pun masih bersabar untuk tetap menanti.

__ADS_1


__ADS_2