
Suasana rumah masih ramai kala Armand pulang kerja. Ucapan salamnya membuat mereka yang memang tengah menanti kehadirannya sama menoleh. Sang putri kandung yang telah beberapa hari tak ia temuipun langsung berlari penuh semangat ke arahnya sambil merentangkan ke dua tangannya.
Pluk.
Gadis kecil itu langsung melompat ke arahnya dan disambut dengan baik oleh sang ayah. Sepasang anak bapak itu kini telah berpelukan, dengan Armand yang berputar-putar bahagiah. Bahkan tas kerjanya sudah terlempar mendarat di sofa.
" Lama banget sih liburannya? Gak kangen apa sama ayahnya?" Ucapnya. Peluk dan cium ia persembahkan untuk sang putri. Sesibuk apapun ia, jelas rindu tak bisa dicegah pada putri kandung semata wayangnya ini.
" Kangen sih, tapi seru yah. Nanti kita mudik lagi yah!" Ajaknya penuh harap. Kini ia telah memiliki alasan untuk pulang kampung. Dan akan membanggakan pada teman-temannya nanti, jika ia juga telah punya kampung.
Yang lain hanya duduk terdiam sambil memperhatikan interaksi keduanya.
" Ngapain aja di sana?"
" Banyak, ke kebun, kandang ayam sama ke sungai. Iiiih dingin banget airnya, seger!" Tubuhnya bahkan dibuat seolah menggigil dengan kedua tangan terlipat dan menggenggam.
Armand hanya menyimak dengan penuh antusias, namun pada akhir kalimat putrinya mampu membuatnya mendelik ke arah ibunya dan juga Laela. Bagaimana bisa anak sekecil itu di bawah bermain ke sungai? Amankah? Lalu siapa yang jaga?
Hah, kenapa ia bisa tak tahu hal ini?
" Ayo ah, kita udah lama nungguin kamu pulang. Lapar tau, masih capek juga." Itu suara oma yang mengalihkan perhatian semua orang. Dari pandangannya ia tahu jika putranya itu hendak protes, dan ia tak ingin hari pertama Laela berada di sini justru mendapat nilai yang buruk.
Dalam perjalan menuju ke ruang makan, Armand sempat melirik wanita yang kini telah berstatus sebagai istri dadakannya itu. Penampilan wanita itu masih sama seperti saat ia bertamu ke rumah Laela. Dengan menggunakan daster dan jilbab langsung, meski sedang berada di dalam rumah.
Katanya mereka telah berstatus suami istri, kenapa wanita itu masih menutup diri saat berada di hadapannya. Atau mungkin wanita itu sama dengannya, belum menerima satu sama lain.
Lagi-lagi pria itu sepertinya hendak melayangkan protes, namun ia sadar mereka tak terlalu dekat, bahkan saling bertukar katapun mereka belum.
Meski begitu, Laela telah melayani suaminya meski hanya sekedar mengambilkan nasi dan laup pauk ke piring pria itu. Itupun berkat lirikan dari Oma Ranti.
Makan malam telah usai, meski dinikmati dengan kekakuan oleh seluruh keluarga, kecuali Meidina dan Sofiah.
Kini mereka kembali ke ruang tengah, menikmati sisa malam sambil menyaksikan siaran tv, kecuali Armand tentunya. Pria itu memilih berlalu ke kamar, mandi dan mungkin melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
__ADS_1
" Bu, kenapa harus tinggal di sini?" Izzar berusaha berbisik di telinga ibunya, meski Oma masih mampu menangkap suara itu. Rumah ini memang luas, namun tak membuatnya nyaman.
" Kalian kan sudah menjadi bagian keluarga ini, jelas harus tinggal di sini."
" Ibu kalian telah menjadi ibu Dina juga, dan ayah Dina telah jadi ayah kalian juga. Oma juga sudah jadi oma kalian.
" Jadi kalau butuh apa-apa bilang sama oma, sama ayah juga. Gak usah malu-malu!"
Bagaimana tidak malu, bahkan ini terlalu asing bagi mereka semua.
" Kok panggil ibu lagi, kan tadi oma bilang bunda?"
" Bunda?"
Izzar dan Sofiah yang bersamaan. Jelas saja protes.
Ini ibu mereka kenapa justru gadis itu yang menentukan panggilan untuk mereka.
" Iyaaaa, iihhh." Sedikit kesal karena kini dirinya menjadi bahan perhatian seluruh keluarga. Sempat grogi, takut ia salah dan disalahkan. " Oma bilang panggilan ibu itu untuk di sekolah saja, kalau di rumah ya panggilnya bunda. Katanya biar tidak dianggap sebagai ibu guru terus."
" Tidurrrr. Udah malam. Katanya capek, kenapa masih ngumpul di sini?" Suara ayah mengalihkan pandangan dari Meidina ke arah pria itu. Dan gadis kecil itu seolah mendapatkan dukungan meski hanya uluran tangan.
" Jadi siapa yang tidur di atas?" Armand telah masuk ke dalam kamar dua gadis kecil itu. Ranjang yang bertingkat itu adalah perintah sang ibu. Katanya biar Dina ada yang temani tidur.
" Sofiah aja!" Lagi-lagi itu keputusan sang putri tanpa rundingan terlebih dahulu.
" Aku kalo mau tidur, harus ditemani dulu, biasanya oma atau ayah, tapi karena sekarang udah ada bunda jadi aku mau ditemani bunda aja."
" Gak mau ditemani ayah? Ayah kangen loh!" Pria itu telah meletakkan tubuh mungil yang sedari tadi ia gendong itu di ranjang bawah sesuai permintaan sang putri.
" Tapi aku juga mau ditemani ibuku." Tuh kan yang merasa lebih berhak pun akhirnya protes.
" Tapi kata oma, udah jadi ibuku juga!" Meidina sigap membalikkan badannya memandang temannya yang kini merubah menjadi rival.
__ADS_1
" Tapi kamu kan punya ayah!"
" Udah-udah. Gini aja, biar Sofiah ditemani ibunya, Dina ditemani ayah!"
"Bunda yah, bukan ibu!" Armand hanya meringis, ia bahkan belum berkenala dengan ibu baru dari anaknya ini.
" Iya-iya itu!" Mengangguk saja. " Yang jelas sekarang kamu bobo sama ayah aja dulu yah, ayah masih kangen."
Meski cemberut karena gagal tidur dengan bundanya, gadis kecil itu tetap menanggukkan kepala, kemudian menggeser tubuhnya sedikit memberi ruang buat sang ayah.
Armand masih dapat melihat sosok tubuh wanita itu yang sedang menanjakkan kaki naik ke atas ranjang milik Sofiah saat ia baru saja mulai berbaring.
Entah berapa lama mereka menemani kedua gadis kecil itu. Belum mau beranjak dari sana meski bocah-bocah itu telah terlelap.
Pikiran mereka hampirlah sama. Bagaimana dengan keadaan mereka nanti kala memasuki kamar yang sama.
Hingga pintur kamar itu terbuka menampakkan sosok oma yang hendak mengecek keadaan sang cucu.
" Loh kok kalian masih di sini? Gak pegal apa?" Kasur itu memang cukup menampung dua tubuh, namun dengan keadaan apa adanya, hingga tak bisa membuat tubuh leluasa dalam bergerak.
" Ayok balik kamar. mereka juga udah pada tidur, gak akan sadar kalo kalian pindah kan?"
Dan perlu perintah kedua kalinya, kedua orang yang oma maksudkan itu benar-benar beranjak.
Armand melangkah terlebih dahulu disusul oleh Laela di belakangnya. Masuk ke kamar dengan keadaan yang sama canggungnya.
" Aku ke kamar mandi duluan!" ARmand sebelum beranjak, meninggalkan Laela yang mengangguk meski tak terlihat oleh pandangan matanya.
Namun pria itu terkesiap setelah keluar dari kamar mandi dan mendapatkan Laela yang kini tak menggunakan penutup kepalanya seperti biasanya.
Semua diam dan membisu, meski mereka telah sama-sama berada di atas ranjang.
Tak ada cerita tentang pisah ranjang. Meski tidur mereka saling memunggungi.
__ADS_1
Sama-sama lelah, membuat mereka tak terlalu lama menunggu waktunya untuk bisa terlelap berdua.