Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Rumah Mertua


__ADS_3

"Ibuuuuu,…"


Suara teriakan Laela melengking memecah malam. Pukul  sebelas malam, mereka baru sampai di rumah orang tua Laela. Dan ibu menjadi orang pertama yang mereka dapati di depan pintu membukakan jalan untuk mereka masuk ke rumah.


Laela langsung menghambur ke pelukan sang ibu, berapa lama ia tak bertemu dengan kedua orang tuanya, mungkin sudah sebulan lebih. Membuat rindu dalam hati terkumpul hingga membentuk sebuah gulungan yang begitu teramat sangat.


Ayah turut berdiri menyambut Putri bungsunya.


" Ini adiknya Nizam?" Ibu saat memandang gadis kecil di belakang Laela, wajah lelah dengan mata sayu menandakan Gadis itu mengantuk.


Kedua tangan Gadis itu sama-sama penuh dengan kantong kresek, entah apa isinya. Jangan lupakan permen kapas yang sebesar Gaban masing-masing membawa satu buah di tangan.


" Iya Bu, namanya Miyah." Meski mengantuk, Miyah masih menunjukkan sikap sopan terhadap orang tua. berusaha tersenyum dengan mengulurkan tangannya, takzim setelah meletakkan barang bawaannya di dekat kaki.


" Bawa ke kamar La, udah ngantuk banget kayaknya."


Miyah hanya bisa meringis, memang rasa kantuk yang menyerang begitu besarnya. Bahkan kepala rasanya sudah pusing ingin berjumpa dengan bantal. Perut yang penuh semakin menambah ntar Kaki melangkah. Lagi pula ini telah jauh dari jam tidurnya, jauh sekali malah.


" Mau tidur di kamarku atau di kamar Kak Mansyur?"


Miyah mendelik, mana Mungkin ia mau tidur di kamar pria.


"Hahahaha, tenang aja, Kak Mansyur sudah punya rumah sendiri. Kamar itu udah kosong kok."


" Di kamar Kak  Laela saja." suara Miyah semakin redup seperti matanya yang juga meredup.


" Jangan lupa salat dulu Dek!" Nizam mengingatkan dari belakang, suaranya sedikit keras karena kedua gadis itu hampir tiba di depan kamar.


Nizam meringis sambil menganggukkan kepala, tak enak pada kedua mertuanya. Tadi ia ketinggalan karena harus memperbaiki posisi kedua motor yang telah mereka gunakan.


" Assalamualaikum ayah, Bu. Apa kabar?"


" Alhamdulillah baik! Kamu?" Ibu dengan senyumannya, bahagia sekali rasanya kedatangan anak dan menantunya.


"Alhamdulillah baik juga bu. Belum tidur Yah Bu?"

__ADS_1


Nizam ikut Duduk di ruang tamu setelah meletakkan kantong kresek berisikan martabak manis dan martabak asin yang memang khusus mereka pesan sebagai buah tangan untuk kedua orang tua itu.


"Nunggu kalian, tadi bahkan ibumu mau memasak banyak buat kalian. Tapi Laela bilang, kalian mau ke pasar malam terus mau makan di luar juga, jadi yang nggak jadi."


Lagi-lagi Nizam hanya meringis lalu kembali menganggukkan kepala, sungkan masih saja terasa. Apalagi ini adalah kunjungan pertamanya setelah mereka menikah.


"Sering-seringlah bawa istrimu ke sini, orang tua ini juga sangat merindukan putrinya."


Tersinggung sekali Nizam mendengarkannya.


Sementara Ibu hanya meliriknya, dua potong martabak manis telah melalui jalur kerongkongannya.


"Laela putri bungsu kami. Anak yang paling lama mendapatkan kasih sayang kami. Wajar jika kasih sayang Kami lebih melimpah untuknya."


" Maaf yah, aku sibuk. Ngatur waktu libur juga harus jauh hari sebelumnya."


"Sudah sudah, Ibu mau istirahat. Besok aja masaknya, kita masih punya waktu makan bareng kan?" Pertanyaan yang terdengar penuh pengharapan. Berharap agar Nizam mau tinggal beberapa saat saja dengan mereka. Belum sempat menghapus rindu dengan putrinya sebab malam mencuri kebersamaan mereka.


Ibu pun mulai beranjak dari tempatnya, mengikuti jejak sang anak yang masuk ke dalam peraduannya. Meninggalkan kedua pria itu yang masih duduk dengan pandangan ke depan tepat di layar televisi.


" Gimana Zam keluar dengan dua gadis? Enakan? Hahahaha."


APa yang seperti ini bisa diceritakan pada ayah mertuanya.


"Anak ayah gimana Zam? Bikin repot nggak?"


" Enggak kok yah, Laela enteng."


Sempat terkesiap Ayah mendengarnya, kemudian menganggukkan kepala mendengar kata enteng yang diselipkan Nizam untuk Laela.


Entah apa yang ayah pikirkan saat ini? Mungkin sedikit rasa tak percaya. Nizam hanya sedang ingin menghibur hatinya.


Malam kian merambat, menghantarkan Insan pada nikmatnya lelap sambil bergulung di bawah selimut.


Dalam remang cahaya yang terkirim dari celah-celah ventilasi kamar yang dulu pernah dimiliki Mansyur, Nizam memandang seluit tubuh seorang wanita yang baru saja masuk dengan mengendap-ngendap seolah takut akan membangunkan penghuni kamar.

__ADS_1


Nizam tersenyum saat sosok itu masih dengan gerakan perlahan naik ke tempat tidur dan masuk dalam rengkuhannya.


"Kenapa ke sini? Miyah Siapa yang temani?" Ucapnya dengan nada pelan. Kesunyian malam membuat suara-suara yang tercipta akan terdengar jelas.


"Kangen! Miyah udah tidur dari tadi, Aman kok." Ucapan Laela membuat pria itu menyinggung senyum. Kangen belum sejam mereka berpisah, lagian hanya berbatas sebuah dinding untuk sebuah kata rindu.


" Tapi dia nggak ada yang temani, pasti dia sungkan di sini." NIzam memperbaiki posisinya. Menyumbangkan lengannya untuk dijadikan bantal oleh sang istri, sementara tangan yang satu digunakannya untuk memeluk tubuh Laela.


"Nggak ada orang lain di sini, udah tidur aja, ngantuk!" Padahal tangannya tengah menari-nari di atas dada sang suami.


" Geli La," Tangan Nizam digunakan untuk menahan pergerakan tangan akal istrinya.


"Pengen!" Manja. Mungkin lebih banyak napas dari pada suaranya, membuat pria yang baru saja tersambar wajahnya oleh udara dari mulut Laela meremang begitu saja.


"Jangan, nanti aja di rumah." Ucapnya sambil menahan gelora yang tumbuh merambat naik karena perlakuan nakal dari sang istri.


Bukan tak ingin, bahkan sangat ingin malah.


Namun membayangkan diri kedapatan oleh mertua keluar dari kamar mandi saat menjelang fajar dengan rambut basahnya, membuat ia menahan diri dan gejolaknya. Malu.


Nginap di sini saja, sudah membuatnya sungkan. Apalagi ia tak sendiri, melainkan membawa adiknya beserta tidur di rumah mertua. Malu sebenarnya tapi  seolah ia tak punya jalan lain hanya untuk membahagiakan kedua gadisnya.


"Tapi aku pengen bang!"


"Nanti di rumah. Tidu yah! Abang ngantuk banget ini." Padahal matanya cerah dan bening.


"Awassss ya, nanti kalau abang minta giliran aku yang gak kasih."


Nizam berusaha menahan tawa mendengarkan ancaman Laela, memang bisa gadis itu menolak sentuhannya? Ia ingin mencoba, sampai di mana istrinya itu bisa bertahan. Tapi nanti, di rumah.


Ciuman maut ia berikan demi menghentikan celoteh istrinya yang berniat membalas dendam padanya.


"Udah tidur! Kalau gak mau bibirmu doer besok pagi." Merapatkan tubuh, memeluk erat sang istri hingga gadis itu tak bisa berkutik lagi.


"Besok bangunnya langsung pindah ke samping Miyah yah!"

__ADS_1


"Hemmm,"


Jawaban singkat dan kesal dari sang istri, hanya membuatnya kembali tersenyum dalam keremangan kamar.


__ADS_2